Kab. Bogor

KP2C Punya 7 CCTV Early Warning System, Selamatkan 22.000 Warga dari Banjir

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C) sejak tahun 2016 menempatkan CCTV di tujuh lokasi yang bisa dipantau oleh pengurus secara “real time” (setiap saat) melalui perangkat handphone. Sedikitnya 22.000 anggota KP2C terselamatkan dengan adanya “early warning system” (sistem peringatan dini) yang dikembangkan KP2C itu.

Hal itu terungkap saat Wakil Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto menerima audiensi Pengurus KP2C yang dipimpin ketuanya Puarman di ruang kerja Wakil Wali Kota di Kota Bekasi, Senin (11/10/2021).

Wakil Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, menyatakan mendukung sepenuhnya program-program yang tengah dikembangkan dan dijalankan Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C) dalam upaya membangun rasa aman dan nyaman masyarakat yang bermukim di sepanjang DAS Cileungsi, DAS Cikeas dan DAS Kali Bekasi.

Ikut mendampingi Puarman, Wakil Ketua KP2C Sancoyo Rahardjo, Divisi Kegiatan KP2C Partomo dan Syaekhu, dan Divisi IT dan Web Uunk.

Selama ini, Tri Adhianto, yang juga menjadi anggota KP2C, memberikan dukungan penuh terhadap program-program kegiatan yang digelar komunitas ini. Betapa tidak, sedikitnya 22.000 anggota KP2C terselamatkan dengan adanya “early warning system” (sistem peringatan dini) yang dikembangkan KP2C.

Baca juga  Dandim: Banjir Karawang Mulai Surut, Petugas Tetap Siaga

Sejak 2016, di tujuh titik pantau Tinggi Muka Air (TMA) KP2C, komunitas ini menempatkan CCTV yang bisa dipantau oleh Pengurus secara “real time” (setiap saat) melalui perangkat HP. Titik-titik pantau ini juga dijaga secara manual oleh petugas pantau.

Informasi TMA ini setiap hari, sebanyak tiga kali (pagi, sore dan malam), selama 365 hari di-share kepada 22.000 anggota yang tergabung dalam 19 WhatsApp Group dan Telegram serta berbagai medsos seperti twitter, IG, Facebook yang tersebar di berbagai perumahan di sepanjang ketiga sungai tersebut. Bila hujan deras mengguyur wilayah hulu, Info TMA KP2C akan lebih sering dishare hingga setiap 15 menit.

Informasi tersebut diterima anggota KP2C setidaknya enam jam sebelum “top level” air sungai di hulu Cileungsi dan Cikeas tiba di pemukiman mereka di hilir.

“Hanya saja, hingga saat ini KP2C belum memiliki alat ukur kecepatan dan debit air sungai,” ujar Tri menanggapi penjelasan Puarman. Alat ini dinilai Tri penting agar tibanya air sungai di pemukiman bisa diprediksi secara akurat.

Selama ini, berdasarkan hasil pengamatan dan pemantauan sejak tahun 2006, KP2C sejak 2016 sudah bisa memperkirakan berapa lama air sungai yang berpotensi banjir bakal memasuki perumahan warga.

Baca juga  1.100 Warga Bojongkulur Mengungsi Akibat Banjir Sungai Cileungsi

kesiapan KP2C dalam menghadapi musim hujan tahun ini dan awal tahun depan disampaikan dalam pertemuan itu, ada sejumlah agenda utama lainnya yang disampaikan komunitas ini. Di antaranya pentingnya dukungan pengadaan perahu sebagai sarana evakuasi warga oleh KP2C saat terjadi banjir.

Perahu tersebut juga akan digunakan untuk melakukan pengamatan/pemantauan di ketiga Daerah Aliran Sungai (DAS) dari potensi pencemaran limbah industri maupun domestik, sampah, mitigasi bencana dan kebencanaan. Termasuk mendukung keberadaan beberapa lokasi wisata yang saat ini sedang dikembangkan di beberapa titik di aliran DAS Cikeas.

Beberapa Pengurus KP2C sendiri telah mengantongi sertifikasi diantaranya Manajemen Tanggap Darurat Bencana, Water Rescue, dan Pertolongan Pertama & Evakuasi.

Menanggapi hal ini, Tri mendukung upaya KP2C untuk mendapatkan dua unit perahu beserta perlengkapannya yang akan dioperasikan secara mandiri oleh komunitas ini. Nantinya, perahu-perahu itu akan ditempatkan di lokasi strategis. Sehingga pada saat terjadi banjir, perahu-perahu tersebut bisa segera beroperasi.

Selain digunakan untuk evakuasi saat banjir, di musim kemarau perahu-perahu tersebut akan dipakai untuk memantau ketiga DAS tersebut dari potensi pencemaran limbah, sampah dan kerusakan lingkungan.

Baca juga  Dekan FE Unpak Nilai Baik Postur APBD Pemkab Bogor 2020

Agenda lain yang disampaikan komunitas ini adalah rencana peniadaan/pembongkaran Bendung Presdo/Bekasi. Oleh KP2C rencana ini diusulkan agar lebih dipercepat realisasinya mengingat musim hujan dalam intensitas tinggi sebentar lagi tiba.

Menurut prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG) Indonesia, intensitas hujan akan berada di atas rata-rata normal pada akhir tahun dan awal tahun depan.

Menjawab usulan ini, Tri mengatakan bahwa prioritas utama yang akan segera direalisasikan adalah pengadaan pompa air bertenaga besar. “Pompa ini akan diimpor dari luar negeri, karena pompa yang bisa digunakan saat ini tidak cukup mampu untuk memompa sesuai kapasitas,” ungkap Tri.

Pompa air ini nantinya akan digunakan untuk memompa air Kali Bekasi di Bendung Presdo ke saluran yang menyuplai kebutuhan air PDAM. Sehingga TMA di Bendung Presdo bisa diturunkan dari level saat ini.

Selama ini, air Kali Bekasi dialirkan melalui gravitasi alami untuk mencukupi kebutuhan air PDAM. Untuk itu, TMA di Bendung Presdo harus dipertahankan pada ketinggian tertentu. [] Hari/KP2C

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terpopuler

To Top