Wisata

Cikahuripan Bogor dan Cerita Nyai Belanda Cantik

Ilustrasi

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Cikahuripan. Ada beberapa daerah yang menggunakan nama Cikahuripan. Ada di daerah Batutulis, di daerah Sindangsari, di Leuwiliang, Cimande, Cibadak, juga di daerah Tenjolaya.

Disebut Cikahuripan adalah karena memiliki mata air yang dianggap memiliki khasiat.

Namun Cikahuripan yang diceritakan di sini adalah Kampung Cikahuripan Bogor.

Lokasinya, apabila turun di Terminal Baranangsiang, Kota Bogor, menyeberang jembatan, di situlah letaknya. Dulu di situ ada pancuran tujuh dan mata airnya dianggap  berkhasiat. Sekarang tempat itu tentu saja telah berubah keadaannya.

Cikahuripan ini dilekati sejumlah cerita hebat atau melegenda karena muncul dalam cerita pantun ataupun sasakala.

Malah dalam cerita Nyai Dasima karya Mardali Syarif dijelaskan, daerah Cikahuripan merupakan asal muasal Nyai Belanda yang cantik, yang juga dikenal sebagai seorang janda dari Cikahuripan di wilayah Cirebon.

Baca juga  Alda Cantika Putri, Cantik dengan Segudang Prestasi

Apa tidak kejauhan rumah Nyai Dasima itu untuk datang  ke Betawi, mungkinkah dia berasal dari daerah Cikahuripan Baranangsiang Bogor?

Menyebut nama Cikahuripan ingatan kita juga terantuk kepada cerita pantun Lutung Kasarung versi Bogor yang mengisahkan tentang adanya Leuwi Parakan Baranangsiang tempat Purbasari, munday (menangkap ikan/marak ikan) dalam waktu semalam atas perintah Purbararang, kakak tiri Purbasari.

Kemudian  pancuran tujuh di Baranangsiang tempat tujuh bidadari dari Kahiyangan turun bermandi, dan Cikahuripan tempat Purbasari membasuh wajahnya yang rusak-hitam  menjadi cantik kembali.

Leuwi Cipatahunan (Kamala Wijaya) tempat mandi dan lalayaran naik perahu.

Itulah  rangkaian cerita yang mengidentikan Cikahuripan dalam   kisah.

Mengapa disebut Cikahuripan? Secara etimologis masyarakat di daerah nama sebuah sungai yang memiliki makna tersendiri sering dijadikan nama tempat.

Baca juga  Alda Cantika Putri, Cantik dengan Segudang Prestasi

Di daerah Bogor nama Cikahuripan terdapat di beberapa tempat, yaitu mata air Cikahuripan daerah Batutulis (di sebut pancuran kabuyutan) dan pancuran yang terdapat di daerah Sindangsari.

Di Leuwiliang dan Cimande serta Cibadak juga di daerah Tenjolaya ada pula yang disebut Cikahuripan, rata-rata sebutan ini untuk daerah yang memiliki mata air yang memiliki khasiat.

Karena kepercayaan berkhasiat maka mata air itu disebut Cikahuripan. Padahal di manapun yang namanya air  yang bersumber dari dalam tanah ataupun yang turun dari langit semuanya mengandung unsur kimiawi bisa menghidupkan tetumbuhan, atau makhluk hidup. Memang demikianlah kehendak Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu air menjadi lambang kehidupan manusia dan seisi jagat ini.

Baca juga  Alda Cantika Putri, Cantik dengan Segudang Prestasi

Sebagian orang Bogor minum sumber air PAM yang berasal dari sungai Cisadane setelah diolah.

Masyarakat yang bertempat tinggal di tebing dan pinggiran sungai meminum air tanah lewat pancuran, semua itu memberi hirup dan hurip pada pemakainya.

Di abad 16-17 Masehi, Tuan dan Nyonya Belanda minum dan mandi air dari kali Ciliwung, itu dulu ketika  air kali itu masih bersih.

[] Admin/Hari/Disadur dari buku berjudul “Toponimi Bogor” karya budayawan Eman Soelaeman, atas seizin editor Dr Abdurrahman MBP.M.E.I.

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top