Wisata

Asal Mula Munculnya Nama Pondok Cina di Depok

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Semua daerah atau wilayah punya nama. Semua nama ada riwatnya, ada kisahnya, ada sejarahnya. Bagaimana asal mula munculnya nana Pondokcina di Depok?

Kisahnya berawal ketika penjajah Belanda mulai menguasai sistem perdagangan di Indonesaia.

Untuk menghidupkan tatanan perdagangan di negeri jajahan, mereka memilih orang Tionghoa untuk melayani kebutuhan kaum pribumi dalam kegiatan perekonomian.

Pada abad 17-18 saat dimulai kegiatan perkebunan yang memberikan keuntungan bagi kaum penjajah, pekerjaan kasar buruh dan kuli-kulinya diberikan kepada penduduk asli (pribumi) sedangkan untuk kebutuhan sehari-hari diberikan kepada orang Cina.

Jadi janganlah kita heran jika sekarang pun hal ini masih terjadi.

Ada sebuah pomeo waktu itu, “jika tidak ada orang Cina pasar akan sepi.”

Padahal yang membuka perkebunan kopi dan tebu, malah membeli tanah dari penguasa jajahan di sekitar Depok dahulu adalah tuan tanah Cornelis Chastellin dan  ketika dia dengan 200 budak dan kuli mengerjakan bisnis kebunnya awal tahun 1647 pasar-pasar saat itu masih terasa sepi.

Baca juga  Asal Mula Munculnya Nama Bondongan  

Untuk hal itu dia mengadakan kebijaksanaan bahwa orang Cina boleh berdagang di Depok, tetapi dengan syarat tidak boleh tinggal di sana, sebabnya tanah seluas 1,244 hektar milik tuan tanah Cornelis Chastellin itu dilarang diperjualbelikan kepada  pihak lain, apalagi kepada keturunan Cina dan Arab.

Orang Cina ketika itu disebutnya “Cina Mindring” sedangkan orang Arab disebut “Arab Jingjing” artinya orang Cina boleh dagang dengan system “mindring” yaitu menyerahkan barang dagangan kepada para buruh dan kuli ataupun penduduk lainnya dengan cara memberikan barangnya dahulu bayar belakangan.

Jadi hal ini hampir sama dengan cara-cara kreditan zaman sekarang.

Barang yang banyak dijualnya yaitu barang kebutuhan pokok sehari-hari dan bahan pakaian yang dibawanya dengan cara dipikul menggunakan tanggungan yang khas.

Baca juga  The Jungle Yakin Capai 900 Ribu Pengunjung Sampai Akhir Tahun

Sementara orang Arab diperbolehkan berdagang, tetapi dengan cara membawa dagangannya “digembol” yaitu dibungkus kain dijajakan dari rumah ke rumah.

Adapun fungsi pasar belum seperti zaman sekarang. Ada waktu-waktu atau hari-hari tertentu.

Ada Pasar Senen, Pasar Minggu, Pasar Rebo, Pasar Kemis, Pasar Jumat dan Waning Saptu.

Para pedagang dan pembeli berkumpul di sana dan waktunya pun sebentar, yaitu dari pagi sampai matahari mulai panas memancar, dan tidak ada transaksi pada sore hari.

Nama-nama pasar sampai sekarang masih lazim digunakan dan dipakai untuk sebutan itu.

Selain itu ada juga bentuk pasar “jongko” yang sangat darurat dan

sekarang sudah tidak ada lagi.

Ada juga yang disebut “pasar gembrong” yaitu pasar yang dikunjungi dengan cara dirubung pembeli, kemudian setelah mereka berbelanja pasar pun selesai sebelum suara bedug dan azan dzuhur berkumandang.

Baca juga  Sejumlah Hotel dan Tempat Wisata di Kawasan Puncak Telah Kantongi Sertifikat CHSE

Nama Pondokcina yang   berada di Kota Depok sekarang, menjadi salah satu kelurahan yang berbatasan dengan Propinsi DKI Jakarta, persisnya bertapal batas dengan Lentengagung.

Kelenteng merupakan rumah peribadatan etnis Cina pemeluk Khong Fu Tsu.

Para pedagang yang berjualan di sana tidak boleh “mondok” (tidur) di Depok.

Untuk itu sengaja disediakan pemondokan bagi mereka di sana hingga sekarang tempat itu bernama Pondokcina.

[] Admin/Hari/Disadur dari buku berjudul “Toponimi Bogor” karya budayawan Eman Soelaeman, atas seizin editor Dr Abdurrahman MBP.M.E.I.

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terpopuler

To Top