Peristiwa bencana angin puting beliung disertai hujan deras, yang terjadi pada hari Senin (28/9) sekitar jam 15.00 WIB, di wilayah Kecamatan Parungpanjang, berdampak kepada (lima) wilayah desa

Puting Beliung di Parungpanjang, 5 Desa Terdampak, Listrik Padam 10 Jam

BOGOR-KITA.com, PARUNGPANJANG – Peristiwa bencana angin puting beliung disertai hujan deras, yang terjadi di wilayah Kecamatan Parungpanjang pada hari Senin (28/9/2020) sekitar pukul 15.00 WIB, berdampak kepada (lima) wilayah desa yaitu Desa Kabasiran, Desa Parungpanjang, Desa Cibunar, Desa Gintung Cilejet dan Desa Jagabita.

Demikian diungkapkan, Camat Parungpanjang Icang Aliudin dalam keterangan resmi terkait peristiwa musibah tersebut Selasa (29/9/2020). Icang sapaannya, mengungkapkan, dari laporan dan data sementara yang dikumpulkan pihaknya, dampak dan kerugian yang dialami warga di antaranya tertutupnya akses jalan serta kerusakan rumah, akibat tertimpa pohon.

Dia memaparkan, di Kampung Al Falah RT 05 RW 03 Desa Cibunar dilaporkan 1 unit rumah warga tertimpa pohon tumbang pada bagian dapur dan di Kp. Cikabon RT 01  RW 02 Desa Cibunar, satu pohon tumbang dan menimpa rumah warga. “Karena pohon cukup besar dan susah diangkat, maka dibutuhkan alat mesin potong kayu,” ucapnya.

Sementara di Desa Parungpanjang, lanjut Icang, dekat salah satu rumah warga tepatnya di Jl Anggur Raya RT 03 RW 09 Desa Parung Panjang, sebuah pohon tumbang sehingga menutup akses jalan serta lalu lintas warga. “Penanganan sementara sudah kami lakukan, dengan mengerahkan anggota Satpol PP kecamatan bekerjasama dengan tim BPBD dan sejumlah relawan untuk menyingkirkan dan membersihkan pohon tumbang tersebut,” ujarnya.

Baca juga  Rekrutmen Direksi PD Pasar Tohaga, Ini Kriteria yang Diinginkan Ade Yasin

Sementara Sekretaris Kecamatan Parungpanjang Cucu Syamsu menambahkan, pada saat bencana terjadi sekitar pukul 15.00 WIB (28/9/2020) hingga mereda, arus listrik PLN di wilayah Kecamatan Parungpanjang mati dan baru hidup kembali sekitar pukul 01.00 WIB (29/9/2020). “Makanya proses koordinasi dan evakuasi agak terhambat, karena sinyal seluler juga terganggu pada rentang waktu tersebut. Namun setelah arus listrik hidup, keadaan kembali normal,” tutup Cucu Syamsu.[] Fahry



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *