Perempuan Puisi dan Dekan Hukum Unpak Kolaborasi Muliakan Puisi

Perempuan Puisi dan Dekan Hukum Unpak Kolaborasi Muliakan Puisi

BOGOR-KITA.com – Siapa bilang urusan puisi hanya milik orang yang berlatar belakang sastra? Bukankah Taufik Ismail penyair beken berpendidikan kedokteran hewan. Mitos ini hendak dipatahkan oleh Komunitas Perempuan Puisi dan Dekan Fakultas Hukum Universitas Pakuan (Unpak), R Muhammad Mihradi. Pada Minggu (25/8/2019), Komunitas Perempuan Puisi melakukan Gelaran Pembacaan Puisi dan Diskusi “Kebebasan (Ber) Puisi dengan narasumber kritikus sastra nasional, Maman S Mahayana. Gelaran pembacaan puisi melibatkan sejumlah komunitas seperti Saung Sastra Bogor, Cilebut Art Project, Sajak Liar Bogor dan Ruang Suara Cibinong. Kegiatan dilakukan di The Gade Coffee and Gold Bogor (Jalan Merdeka No.156 Bogor Tengah).

Menurut Eka Ardhinie, penggagas Komunitas Perempuan Puisi, kegiatan gelaran pembacaan puisi merupakan kegiatan bulanan yang ingin mewadahi peminat puisi. Anggota komunitas seluruhnya perempuan, namun di saat gelaran, terbuka siapapun membacakan puisi. Bagi Eka, memuliakan puisi sebenarnya memuliakan kehidupan. Membentuk karakter dan refleksi kecintaan pada peradaban. Bahkan, menurut Maman S Mahayana, puisi merupakan pemersatu bangsa. Jauh sebelum Indonesia merdeka. Ini tercermin dari untaian kata “Sumpah Pemuda” tahun 1928 yang bagi Maman, Sumpah Pemuda merupakan puisi karena mengandung keindahan dan imajinasi tentang keindonesiaan—yang saat itu belum terbentuk.

Mihradi, selaku Dekan Hukum Unpak menambahkan. Hukum tidak pernah dapat terbebas dari puisi. Banyak pepatah latin merupakan bentuk puisi. Seperti adagium latin, Ubi Societas, Ibi Ius, dimana ada masyarakat, di situ ada hukum, merupakan lirik puitis bertema hukum. Baginya, melalui puisi, hakikat keadilan sebagai jantungnya hukum dapat lebih dihayati dan direfleksikan di ruang publik. Sebab, puisi tidak hanya bekerja di ranah individual. Namun, puisi yang baik, dapat melibatkan publik untuk merenungi hakikat kehidupan secara lebih otentik.

Di dalam gelaran puisi, dibacakan mulai dari puisi klasik karya Chairil Anwar sampai kontemporer karya Goenawan Mohamad. Selain itu, dibacakan pula puisi karya masing-masing komunitas peminat puisi disertai klinik puisi oleh Maman S Mahayana. Tidak ketinggalan Mihradi, Dekan Hukum Unpak membacakan puisi karya Goenawan Mohamad, “Sjahrir Di Sebuah Sel”.

Komunitas Perempuan Puisi beranggotakan perempuan meminati puisi dengan beragam profesi. Semangatnya ingin membenahi keadaan sosial melalui jalur kesenian. Semangat mulia tersebut direalisasikan secara konsisten melalui gelaran puisi bulanan. Membangun apresiasi puisi. Membuka diri dengan berbagai jaringan. Memimpikan Indonesia berkeadaban lebih baik. [] Admin



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *