Olahraga

Perang Politik, Kemenangan Premiership

BOGOR-KITA.com, JAKARTA –  Revolusi Industri di akhir abad 19, yang melahirkan transportasi kereta api, adalah pemicu gagasan pertandingan “home and away” di English Premier League.

Alkisah, perang dingin antara Uni Soviet dan Amerika Serikat pun mendorong munculnya revolusi electronik di awal abad ke-20, yang berpengaruh pada ekstensi (perluasan) olah raga sepak bola.

Cerita pendeknya, revolusi elektronik melahirkan satelit pertama di dunia, Sputnik 1, oleh Uni Soviet, tahun 1957.

Televisi kemudian menjadi sarana propaganda politik paling efektif. Kamuflase program, seolah-olah hiburan. Nyatanya, aslinya bertujuan mendominasi rakyat. Dalam siaran berjam-jam bahkan 24 jam, program berganti-ganti. Hanya saja, negara punya satu tujuan; “Kita negara yang terbaik.” Propaganda politik, adalah awal pangkal dari lahirnya televisi-televisi pemerintah.

Perang elektronik dan kelahiran televisi pemerintah dengan motto “Pemersatu bangsa”, secara langsung memberi andil terhadap ekspansi sepak bola.

Konsep Inggris, keindahan sepak bola dan talenta pemain, hanya bisa terekspos secara total, karena ada televisi.

Olimpiade Berlin 1936, yang sarat dengan tujuan politik, disiarkan oleh stasiun televisi Jerman, yang dianggap berkualitas “kacangan”, dan sarat dengan propaganda partai Nazi.

Seremoni yang dibuka oleh Adolf Hitler, sempat membuat Amerika kusut atas larangan atlet berkulit negro dan berdarah Jahudi.

Kisah ini diangkat dalam film “True Story” berdurasi 1.34 menit, judulnya “Race”. Pembukaan Olimpiade, atletik adalah cabang pembuka yang diperlombakan. Ada peristiwa yang tidak pernah dilupakan, ketika Hitler tertunduk malu, setelah atlet Negro Amerika, Jesse Owens, meraih medali emas, sekaligus membungkam atlet jagoan tuan rumah Jerman.

Setelah peristiwa Olimpiade Berlin, Inggris diam-diam membangun skenario dunia televisi. Tahun 1938, BBC tivi nasional Inggris, pertama kalinya siarkan pertandingan sepak bola. Yaitu tim nasional Inggris vs Skotlandia. https://youtu.be/HBPWxrr8e1E. Partai tersebut, merupakan pertandingan sepak bola pertama di luar Liga, di Wembley.

Baca juga  Marcelo Bielsa, Inspirasi yang Sulit Ditemukan di Indonesia

Selang beberapa bulan, juga di Wembley, untuk pertama kalinya “live full match” final FA Cup, antara Preston North End vs Huddersfield.

Gambar siaran langsung FA Cup 1938, ternyata jauh lebih jernih dari siaran langsung Olimpiade Berlin. https://youtu.be/Yyn9vIzgqVc

Ketika Perang Dunia I usai, Inggris melakukan rekonstruksi, perbaikan infrastruksi, untuk dibangun kembali secara besar-besaran.

Sepak bola mulai meng-global. Siaran langsung FIFA World Cup 1966, dianggap sebagai produksi televisi terbaik.

Saat itu, BBC dibantu ITV sebagai peliput bareng Eurovision sebagai penyiar ke pelosok penjuru benua. Siaran Piala Dunia 1966 ini, juga merupakan pertandingan sepak bola pertama disiarkan di benua Amerika Latin. Saat itu, sepak bola semakin makyussss.

World Cup 1966, membuat pemirsa merasa diuntungkan oleh inovasi pengulangan momen dalam bentuk adegan “Slow-motion”. Gagasan dan ide ini, diam-diam merupakan hasil persaudaraan bilateral Inggris dan USA. Melalui birokrasi, BBC meminjam mesin pemutar “Slow motion” tersebut ke CBS. Adegan “Slow motion’, ternyata hari ini, terkesan sangat dirasakan saat ditonton berulang.

Masuk babak dunia televisi berwarna. Gambar semakin jauh lebih jernih. Liga Inggris semakin mempesona dan ciamik. Alhasil, meski tahun 1970-an, dan atau awal 1980-an, mendominasi secara signifikan kejuaraan Piala Eropa atau EURO Championship , namun akhir 1980-an, justru Liga Inggris masuk dalam babak paling suram dan buram, sekaligus kacau-balau.

Banyak sekali stadion mulai ambrol. Agresi penonton merusak fasilitas stadion, hooliganisme merambat dan lain sebagainya.

Yang paling pedih, klub-klub Inggris dilarang bergaul dalam kancah kompetisi Eropa, seperti Champions, Cup Winner Cup dan UEFA Cup, selama 5 tahun, menyusul tragedi Stadion Heysel, Belgia tahun 1985, ketika suporter Liverpool membunuh 39 suporter Juventus di final.

Baca juga  Liga Inggris dan Bantuan Sosial

Ketika itu, namanya nama Liga Inggris, adalah English Football League. Kepedihan bertambah, saat vakum di kompetisi Eropa, justru popularitasnya, disalip Seri A Italia dan La Liga Spanyol.

Sejarahnya, banyak pemain Inggris pindah ke Eropa, semisal Chris Waddle dari Tottenham ke Marseille, atau Ray Wilkins dan Mark Hatelay ke AC Milan. Saat itu, pembuka musim kompetisi Liga Inggris 1985-1986, sama sekali tanpa liputan televisi.

Bangkit dari suasana duka, tahun 1990, Greg Dyke, direktur ITV stasiun London, mengundang perwakilan lima (5) raksasa klub Inggris, yaitu Manchester United, Liverpool, Tottenham, Everton dan Arsenal, membahas sebuah proposal.

Dalam perjamuan makan malam di London, Greg Dyke, menyampaikan usulan untuk peliputan langsung pertandingan Divisi Satu. Wadah Divisi Satu, segera memisahkan diri dari FA (PSSI-nya Inggris), untuk mandirikan dan membentuk wadah PT.

Aturannya, semua klub-klub, sebagai pemilik usaha. Sistem bisnisnya, bagi hasil keuntungan hak siar televisi dan radio.

Usulan dan gagasan serta implementasi proposal disetujui. Mereka menunjuk perwakilan Arsenal, David Dein, bertemu FA (PSSI-nya Inggris). Yaitu, menyampaikan usulan swastanisasi lembaga wadah kompetisi.

Para pemilik klub butuh, biaya lebih besar, untuk perbaikan stadion, sistem keamanan, dan penanganan hooliganisme. Salah satu kausalnya, bahwa anggota Divisi Satu, bukan “Pemberi Nafkah” bagi ke empat divisi di bawahnya.

Saat itu, FA super kecewa. Pasalnya, FA menganggap tawaran ini melemahkan kompetisi liga.

Perlawanan FA melemah ketika 14 dari 22 klub anggota liga Inggris saat itu mengancam mundur.

Baca juga  Pekan Ini, Persikabo 1973 Hadapi Persib Bandung

Bulan Juni 1991, FA merilis surat dukungan terhadap usulan Divisi Satu untuk berdikari swastanisasi total. Sedangkan gerakan tanpa bola lembaga FA, dibatasi sebagai pengawas semata.

Musim Liga 1992-93, kompetisi papan atas berubah jubahnya “English Premier League” atau EPL.

Salah satu alasan yang sangat kokoh adalah sponsorship. Musim 1993-94 kebali berganti “Premiership”. Premiership, adalah perusahaan swasta, atas dasar kepemilikan badan perusahaan, yaitu 22 klub. Dan, Liga Premier League 1995-96, dipangkas hanya 20 klub.

Pembentukan Premiership, hanya sebagai pemisahan tradisi, yang sudah berlangsung sejak 1888. Namun, konsep tersebut, berlangsung langgeng, sebagai jejak sejarah, terus menerus, sebagai wadah kompetisi, dengan sistem terdegradasi dan promosi, sebagai filosofi. Dan, diikuti oleh semua negara di mana pun di kolong langit ini, termasuk Indonesia.

Ironisnya, Greg Dyke sebagai pencetus ide dan gagasan, dalam pertarungan hak siar akhirnya menjadi pecundang. SkyTV setuju membayar Rp4,9 triliyun (£262 juta), sebagai pemegang hak siar, dan BBC sebagai pemilik program highlights EPL.

Dari database yang saya peroleh, setelah EPL diswastanisasi, Premiership menghasilkan duit yang sangat fantastis.

  • Rp 62 triliyun (£3.3 miliyar), dari kontribusi pajak ke pemerintah
  • Rp 147.000 triliyun (£7.7 miliyar) GVA dampak komsumsi
  • 9% sebagai pemberi kontribusi penerimaan pendapatan negara
  • 686.000 turis penonton dari mancanegara
  • 100.000 orang mampu meraih lapangan kerja dari 20 klub

Siapa tahu, PSSI setelah KLB nantinya, bisa seperti Liga Inggris. Walaupun, butuh proses yang sangat panjang.

[]  Penulis: Erwiyantoro, adalah wartawan senior. Artikel disadur atas seizin penulis dari akun FB Cocomeo Cacamarica milik penulis,

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 18 = 27

Terpopuler

To Top