Olahraga

Marcelo Bielsa, Inspirasi yang Sulit Ditemukan di Indonesia

BOGOR-KITA.com, JAKARTA – Ketika masih terkunci dalam pandemi dan kesuraman Liga 1 dan 2 Indonesia 2020 yang dipastikan punya tingkat kesulitan yang tinggi untuk kembali bergulir, maka artikel ini bisa dijadikan inspirasi.

Nyaris semua penggemar sepakbola punya pandangan yang sama, bahwa Premier League adalah wadah kompetisi terbaik di dunia. Premier League bahkan bisa dibilang merupakan  kompetisi liga profesional tanpa korupsi dan tanpa bau politik. Real bisnis.

Musim ini Premier League kedatangan pendatang baru, Leeds United.

Leeds, panggilan klub. Bersejarah panjang, jawara Inggris kolektor Piala Eropa. Salah satu klub berbasis penggemar terluas di dunia.

Tim raksasa ini ‘tertidur’ selama 16 tahun di hutan belantara divisi dua, The Championship. Bahkan beberapa musim sempat jatuh ke kedalaman divisi tiga. Nyatanya Leeds tetap punya pengemar setia karena kejayaan di tahun 1960 – 1970-an.

Naik ke Premier League, Kota Leeds berpenduduk sekitar 500 ribu, letaknya 300 km dari London, mengaku diuntungkan atas kehadiran pelatih paling dihormati di dunia, Marcelo Bielsa.

Lahir satu kota dengan Lionel Messi, di Rosario, Argentina, Marcelo Bielsa bergabung Leeds dua  tahun lalu, Juni 2018.

Alkisah, untuk bisa bergabung, pemilik klub Leeds, harus mengirim dua orang CEO dengan jet pribadi terbang ke Buenos Aires, membujuk Marcelo Bielsa.

Bielsa bukan pelatih “drop out.”

Bielsa sangat dihormati. Bielsa tidak gampang bilang “Iya” pada sebuah tawaran dunia kepelatihan.

Bielsa selalu lebih dulu, harus melihat filosofi bola, kemudian unsur sport.

Setelah itu, Bielsa melihat aspek lain, termasuk besar-kecilnya kekuatan sepakbola yang hidup di wilayah itu.

Passion dan semangat. Intinya, bukan uang. Sekali lagi, penulis tidak melihat ada pelatih di republik ini yang punya cara seperti Bielsa.

Setelah 12 jam proses bujuk-rayu di Buenos Aires, tidak satu pun angka yang keluar dari mulut Bielsa. Kisah ini, diungkap oleh CEO Leeds, episode ’Take Us Home. Kebetulan acara program Leeds United, diproduksi dan disiarkan Amazon Prime Video.

“Kami duduk dan berbincang secara intesif selama 12 jam. Sesaat setelah memulai perbincangan, kami terkesan Bielsa bukan tipe pedagang,” kata Anggus Kinnear, CEO Leeds United.

“Karena tidak membahas angka, maka kami berusaha menjual potensi lain, yakni sejarah dan semangat pendukung Leeds. Beruntung, Bielsa sudah paham dan mengerti profil klub kami,” lanjut Anggus Kinnear, yang juga pernah menjabat CEO West Ham United.

“Bielsa bukan pelatih yang terpikat pada fasilitas dan kemewahan. Selain karena tantangan, dia juga melihat faktor perhatian penduduk sekitarnya terhadap bola. Kalau penduduk tidak memiliki kegemaran terhadap sepakbola, Bielsa tidak akan berminat melatih klub itu,” kata Ricardo Lunari, sahabat Bielsa di klub Newells Old Boy, Argentina.

“Bukan hanya kegemaran, Bielsa juga dengan cermat, harus melihat karakter, budaya penduduk sekitar,” tambahnya.

Baca juga  Perang Politik, Kemenangan Premiership

Disiplin, belajar dan kegemarannya membaca buku, menjadi bagian dari hidup Bielsa yang mengoleksi 35 ribu buku.

Terlahir dari keluarga penganut Katolik taat dan bahagia, ibunya, Lidia Caldera adalah seorang guru. Ayahnya, Rafael Pedro seorang pengacara yang gemar sepakbola. Kegemaran ayahnya mengajak Bielsa nonton bola mempengaruhi Bielsa terhadap minat sepakbola.

Bielsa hanya bertahan dua tahun sebagai pemain di Newells Old Boy. Tidak terlihat bakat alami. Di usia 25 tahun memilih sebagai pelatih. Karirnya sangat luar biasa, pelatih Timnas Argentina, Chili. Klub Marseille, Lillie, Lazio. Di tengah kesibukannya, Bielsa selalu menyempatkan diri untuk datang ke gereja menyapa penduduk sekitar.

Pelatih yang sudah melegenda namun bersahaja tapi tanpa buku biografi ini, berulang kali menyebut penghargaan terhadap ibunya, yang membiayai koleksi langganan majalah sport Argentina, “El Grafico.”

Dari majalah-majalah itu, Bielsa belajar menjadi pemikir taktik.

Setelah berjabat tangan, Bielsa akhirnya terbang ke Leeds, dengan mengontrak apartmen  kecil di atas loteng toko waralaba, yang tak jauh dari kawasan Stadion Elland Road.

Bermodalkan tas kresek, Bielsa selalu tekun mencatat dan menyusun catatannya di dalam tas daur ulang tersebut.

“Kami semua bersemangat, ketika kedatangan seorang pelatih terbaik di dunia. Secara verbal, kami sepakat bahwa peraturan apa pun yang akan dia terapkan kami harus tunduk,” kenang Luke Ayling, defender Leeds.

Bukan hanya dari internal, penghormatan terhadap Bielsa juga diakui oleh rival-rivalnya seperti Pep Guardiola dan Mauricio Pochettino, yang mengatakan bahwa Marceloa Bielsa adalah pelatih terbaik di dunia saat ini.

Ander Herrera, mantan anak asuh Bielsa di Athletico Bilboa berujar, “Menurut saya Bielsa adalah pelatih yang terbaik. Berulang-ulang beliau selalu menekankan untuk harus bermain jujur. Jangan pernah curang,” tegasnya.

Alhasil, Liga Championship (kasta kedua Liga Inggris) 2018, di partai perdana, Leeds di bawah asuhan Bielsa langsung membabat Stoke City 3 – 1.

Pertandingan kedua, menghajar Derby 4 – 1. Pertandingan ketiga, menang lagi 2-1 melawan Bolton. Menjadikan Marcelo Bielsa sebagai manager Leeds pertama yang memenangkan tiga pertadingan pembuka, setelah Jimmy Armfield,  Oktober 1974.

Kontroversi mulai muncul, ketika Derby County yang diasuh oleh Frank Lampard, menuduh Bielsa mengirim spionase untuk mengintai binokuler sesi latihan derby. Bielsa membenarkan hal tersebut dan mengatakan “Iya, yang mengintai adalah suruhan saya.”

Namun bombardir media Inggris, membuat Bielsa harus menggelar presentasi power point selama 70 menit. Kepada para jurnalis, Bielsa menjelaskan secara teknis detail dan rinci bahwa dia tidak melanggar aturan.

“Orang yang dituduh mengintai tidak menginjak lahan pembatas. Dan ketika saya menonton pertandingan klub-klub lain apa itu mengintip?”

Baca juga  Usai Kualifikasi Piala Dunia Ditunda, PSSI Ubah Program Timnas

Namun Frank Lampar tetap meneruskan laporan ke FA, yang kemudian menjatuhkan sanksi £200 ribu (Rp4 miliar) kepada “The Whites” julukan Leeds.

Dari hukuman denda tersebut, sejatinya keuangan Leeds yang terus merugi, harus mengocek dana tambahan. Namun, Bielsa dengan lapang dada, justru mengeluarkan uang pribadinya, untuk membayar sanksi tersebut. Sebuah keputusan yang luar biasa.

Musim Championship 2018, masih bergulir, Leeds terus berjaya berada di puncak divisi untuk dapat promosi ke Premier League 2019 – 20.

Impian Leeds, sebagai tim raksasa yang sudah 15 tahun tertidur tercapai.

Saat itu, Leeds terus unggul dan hanya dibayang-bayangi Norwich City di posisi kedua. Taktik menekan dan agresif membuat pemain Leeds banyak yang cedera. Perolehan skor sudah mulai melemah, yang pada akhirnya harus menerima nasib tergeser oleh Sheffield United.

Leeds di urutan ke-tiga. Harus bermain play off melawan Derby County. Play off penutup digelar di Elland Road.

Gema ‘lagu kebangsaan’ “Marching on Together’ dinyanyikan oleh pendukung tuan rumah, yang sangat berharap dapat mengantar Leeds promosi ke Premier League, bermimpi dapat dana segar sebagai hadiah pendatang baru, yang lolos ke Premier League, £170 juta (Rp3,4 triliun).

Saat musim 2018 – 2019 tersebut, Leeds sempat memimpin 1 – 0, tapi kartu merah yang diberikan defender, Gaetano Beardi, membuat Leeds kebobolan di menit-menit akhir.

Buyar sudah harapan yang juga punya julukan “The Peacocks.” Meledaklah tangis, berduka dan loyo. Leeds kembali menanti Premier League musim 2019 – 20.

Masuk musim kompetisi 2019-2020 di musim keduanya, pelatih kharismatik, Bielsa, Leeds bermain cemerlang.  Taktik dan formasinya masih konsisten, yaitu menggunakan taktik agresif, menekan dan formasi melebar.

Makanya, Bielsa dijuluki “El Loco” (taktik ‘gokil’). Taktik yang sulit dimainkan setiap pemain, karena menuntut kekuatan fisik lebih fit, harus mampu belari lebih jauh, berlari lebih lebar dan lebih cepat.

“Taktik menekan dan agresif, menuntut pelatihan kapasitas cardio (aerobik) yang jauh lebih besar. Metode Bielsa sangat menuntut kekuatan dan kedisiplinan fisik. Banyak diantara kami setelah latihan, harus muntah karena kecapaian,” kenang Ander Herrera, mantan pemain Atletico Bilbao, saat dilatih Bielsa, 2011.

Namun, proses pencapaian yang sulit, biasanya akan membuahkan hasil lebih menyenangkan. “Dengan taktik ‘gokil’ Bielsa, ketika kami menang rasanya seperti terbang,” lanjut Ander Herrera. “Kami harus menekan berat badan. Setiap pagi, kami harus ditimbang untuk mengukur komposisi lemak dalam tubuh, ”tambah Luke Ayling, defender Leeds, yang ditunjuk wakil kapten, saat ini.

Cerita singkatnya, Marcelo Bielsa, hanya menunggu satu musim berikutnya untuk meraih sukses mengangkat Leeds United, juara dan promosi ke Premier League 2020 – 21. Menang mutlak, dengan perolehan 93 poin. Menang 28 kali, hanya kalah 9 dari 46 laga.

Baca juga  Catatan Erwiyantoro tentang Wartawati Gigih Nurbaeti, Yang Tewas di Bojonggede

Di tengah kompetisi di “Liga Covid”, sejak bulan Juli lalu, Leeds merayakan kemengangan sebagai juara divisi 2 (Championship). Tanpa penonton, Kapten Liam Cooper mengangkat piala ‘The Championship’. Sebuah kebangkitan yang dibanjiri puluhan ribu penonton di luar pagar stadion Elland Road, tanpa peduli pandemi.

“Bapak saya mati, Ibu saya mati, saya menikah, anak saya lahir dan lahir lagi. Saya bercerai. Semua kejadian itu terjadi selama 16 tahun. Hari ini semua terbayar,” teriak salah satu suporter Leeds.

Marcelo ‘El Loco’ Bielsa, setelah kemenangan akhirnya buka mulut bertutur kepada Amazon Prime Video. “Sebuah kehormatan dapat bergabung bersama klub seperti Leeds. Saya sangat terpana melihat kehadiran rasa cinta antara publik dan sepakbola di kota Leeds. Kalau ditanya apa yang membuat saya memutuskan melatih Leeds? Jawabnya adalah kekuatan yang dihidupkan oleh semangat publik,” kata Bielsa.

Terbukti, dalam empat partai awal Premier League 2020 – 21, gaya dan cara bermain Leeds, tidak berubah, seperti saat bermain di The Championship (kasta kedua). Saat kalah 3 – 4 atas Liverpool, menang 4 – 3 atas Fulham, menang 1 – 0 atas Sheffield United, dan yang terakhir seri 1 – 1 lawan Manchester City.

Dari pengamatan menonton empat pertandingan Leeds, ada gaya dan karakter “Rondo” yang diperagakan pasukan Bielsa. “Rondo” adalah hasil ciptaan Pep Guardiola yang diadopsi dari taktik Johan Cryuff, berkarakter “Total Football.”

Tujuan utama permainan “Rondo” adalah “tidak memindahkan bola, tetapi memindahkan lawan.”

Jadi teringat ketika Eric Cantono, hijrah dari Leeds ke Manchester United, tahun 1992, di mana setiap partai Leeds vs Manchester United di kota Leeds, selalu menjadi koor cemohan bagi Cantona, sampai “Eric The King” gantung sepatu tahun 1997.

Saya sebagai pencipta dan produser Planet Football RCTI, melihat langsung di dalam stadion Elland Road, 28 Desember 1995. Sepanjang 90 menit, 40 ribu suporter Leeds, tak henti-hentinya mengejek Cantona. Karena kebencian suporter Leeds, di saat Leeds sedang naik daun, sebagai juara Liga Inggris 1992 (liga terakhir meneju Premier League, dan juara FA Charity Shield), justru Cantona hengkang ke Man-U.

Cerita tentang Bielsa, seharusnya bisa  dijadikan inspirasi sepakbola nasional yang selama 20 tahun ini, tak ada cerita dramatis seperti sejarah Bielsa.

Sepakbola Indonesia hanya bercerita tentang ribut-ribut dan ambisi para pengurus PSSI, yang menurut saya justru semakin menimbulkan curiga, jangan-jangan pengurus PSSI, belum pernah memakai sepatu bola, dengan gaya tali-tali sepatu yang berganti-ganti setiap periode. Begitukah?

[]  Penulis: Erwiyantoro, adalah wartawan senior. Artikel ini ditulis tanggal 6 Oktober 2020, diambil atas seizin penulis dari akun FB  Cocomeo Cacamarica milik Erwiyantoro, .

 

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7 + 3 =

Terpopuler

To Top