Hukum dan Politik

Catatan Erwiyantoro tentang Wartawati Gigih Nurbaeti, Yang Tewas di Bojonggede

Nurbaeti

BOGOR-KITA.com – Berita tentang wartawati bernama Nurbaeti yang ditemukan tewas di rumahnya, sudah meluas dan pergunjingan di kalngan wartawan, tidak hanya di Bogor tetapi juga di Jakarta. Siapa Nurbaeti? Berikut catatan Erwiyantoro atau Mbah Coco yang ditulis di akun facebook-nya

Awal tahun 1996, ketika Valens Doy memberi tempat kepada mBah Coco untuk mengisi posisi Redaktur Olahraga di Berita Yudha, koran milik tentara, yang diubah menjadi koran metropolis. Maka, mBah Coco diberi tim redaksi untuk mengelola halaman olahraga.

Ada Hila Japi, ada Robert Manurung, ada Yon Parjiyono Somoredjo, ada Nur Baety Rofiq, dan senior BY, Munadjat Cader. Kami berenam saling mengisi halaman olahraga dengan konsep 'last minutes'. Artinya, semua berita olahraga, menjelang naik cetak (pukul 24.00 Wib), wajib ditunggu, untuk mengejar keinginan pembaca. Walaupun, halaman di luar olahraga sudah naik cetak, namun khusus halaman olahraga tidak ada kompromi…

Rata-rata redaksi olahraga Berita Yudha, memiliki militanisme yang tinggi. Salah satunya Nur Beaty yang akrab dipanggil Betty. Wanita tangguh ini, sangat ulet dalam mengejar setiap nara sumber, wataknya sangat keras dan sulit kompromi. Salah satu alasannya, karena rata-rata jebolan Sekolah Tinggi Publisitik (kini, jadi IISIP) angkatan dibawah tahun 90-an, memang masih militan, tidak tergerus oleh duniawi, kecuali hanya satu pilihan yaitu menemukan nara sumber dan mendapatkan berita aktual dan eksklusif.

Baca juga  Usmar: Penyandang Difabel Wajib Diperhatikan dan Diberikan Kemudahan

Namun, Lebaran kedua kemarin, ada kabar duka. Betty meninggal, dan jasadnya dalam kondisi mengenaskan, yang diduga sementara akibat dibunuh. Walaupun, teman-teman PWi Pusat yang juga senior-seniornya ngotot agar polisi segera menemukan siapa pelakunya. Yang tidak tertutup ada indikasi ada urusannya dengan profesinya sebagai jurnalis (maklum, profesi terakhirnya sebagai striger Tempo Group) sering dijadikan obyek kekerasan, akibat laporan-laporan jurnalistiknya, yang cenderung tanpa kompromi.

Selamat jalan Betty. Anda bagian penting dari jurnalisme masa depan. Mohon dilapangkan jalannya, dan segera ditemukan siapa pembunuhnya. [] Admin

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top