Dekan Fakultas Hukum Universitas Pakuan, Raden Muhammad Mihradi S.H., M.H.

Pendidikan Perguruan Tinggi 4.0 Suatu Keniscayaan

Oleh R M Mihradi (Dekan Fakultas Hukum Universitas Pakuan)

BOGOR-KITA.com – Bagi kami, yang sehari hari mengelola kampus bidang hukum, hadirnya generasi millenial dan revolusi industri 4.0 tidak dapat dijawab dengan pidato satu kontainer. Atau sekedar asik berwacana. Bagi kami, itu mengandung makna ada tuntutan untuk aksi secara terencana. Apa alasannya ?

Pertama, buku Yuswohady (2019) berjudul Millennials Kill Everything sesuai judul sudah benar benar terjadi. Ketika mungkin masih ada yang percaya industri televisi mendominasi. Faktanya, millennials membunuhnya.Youtuber, Vloger menggeser peran televisi. Jangan – jangan televisi asik menayangkan berita tanpa ada yang menghiraukannya. Maka, untuk itu, bagi kampus, youtube misalnya bisa digunakan alat revolusi menampilkan konten mendalam dengan kemasan menarik misalnya.

Kedua, literasi digital. Kita masih nomer bawah untuk literasi baca namun nomer tiga kira kira pengguna medsos. Maka, ancamannya, tanpa sadar, banyak orang terjerat hukum tanpa memahami apa yang ditulisnya. Literasi digital menghendaki ada kemahiran memanfaatkan medsos tanpa terjebak kriminal. Kampus kembali berperan mengajak membuka perspektif legal misalnya agar ada rambu rambu.

Ketiga, revolusi ruang. Ketika kampus masih ada yang bahagia dengan gedung yang megah, sementara millenials sudah terbiasa melakukan pola co-working. Nulis dan dapat ilmu dimana saja.  gedung kerap dinilai kurang penting. Yang penting kuota cukup atau wifi kuat. Bahkan,Universitas Terbuka menangkap gejala kuliah jarak jauh tidak lagi karena pengen gelar. Namun lebih pada wawasan. Tidak heran banyak pekerja kuliah tidak dengan sistem runtut studi bergelar. Namun belanja mata kuliah yang terkait kebutuhannya. Tak peduli SKS dan soal predikat.

Ketiga hal itu saja sudah dapat membunuh kampus yang masih klasik berfikir. Kami tidak tahu nasib lulusan hukum, broadcasting, ekonomi, dll yang berpola konservatif ketika dunia di sebrang kita, sebut saja Jepang misalnya sudah revolusi 5.0

Apa rencana aksinya. Satu, mengubah paradigma. Bagaimana membangun kampus bahagia misalnya. Membuat mahasiswa betah dengan wifi yang kuat. Halaman luas. Suasana hijau dan dosen yang asik dan bermutu. Kedua, kampus tidak boleh alergi dengan medsos. Gagap dengan youtube misalnya. Ke depan akan banyak orang profesi tidak jelas karena inovasi tiada henti. Seperti dosen, sekaligus youtuber, penulis dll. Karena generasi multitasking sudah menjadi niscaya.

Ketiga, ini penting, kolaborasi adalah niscaya. Di era revolusi industri 4.0 tidak bisa berbangga diri untuk satu jenis profesi atau ilmu. Satu sama lain harus berkorelasi dan berjejaring. Seperti misalnya aspek kesehatan sudah pasti bisa dianalisis dari sisi hukum, ekonomi, komunikasi dll. Karena multi dimensi sudah seperti multi vitamin. Merawat kesehatan kreativitas.

Demikianlah kegalauan di era global dan digital untuk dijawab menjadi tantangan niscaya. [] Admin



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *