Hukum dan Politik

Opini Felix Martha, Soal Hotel Amaroossa dan Optimalisasi Baranangsiang

Ilustrasi

Belum surut perhatian masyarakat Kota Bogor terhadap pembangunan Hotel Amarossa dengan segala kontroversinya. Hari ini, hotel itu tetap berdiri dengan gagah, angkuh, perkasa dan masa bodoh terhadap gelisah yang ada di sekitarnya. Kontroversi yang muncul mulai ketinggianya yang melebihi Tugu Kujang yang mengusik kearifan lokal, sampai aneka perizinan yang melanggar, seolah persoalan biasa bagi hotel itu.

Seiring berjalanya waktu suara-suara protes berbagai elemen masyarakat, kian parau bahkan mulai kandas. Aspirasi kemarahan, dan harapan terjadianya perbaikan melintas bagai angin lalu yang tidak pernah sedikitpun mengusik mereka. Hotel Amarossa tetap gagah berdiri.

Jalur protes lain kemudian ditempuh. Mereka yang masih gelisah mengajukan gugatan melalui jalur hukum mulai dari menggugat ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) sampai gugatan citizen lawsuit. Tetapi, lagi-lagi, lebih dekat dengan lonceng kematianya. Hotel Amarossa tetap angkuh. Hotel Amaroossa menemukan dirinya kebal hukum.

Baca juga  Diskarpus Kota Bogor Bakal Pasok Buku untuk Perpustakaan Kelurahan  

Belum lagi usai drama tersebut, rencana angkuh pembangunan mulai terdengar lagi. Kali ini terkait optimalisasi Terminal Baranangsiang. Protes warga juga bertalu-talu, karena optimalisasi diduga hanya akal-akalan untuk menyembunyikan niat sesungguhnya yakni membangun mall dan hotel. Bicara soal Baranagsiang adalah bicara soal kearifan lokal, bicara Baranangsiang adalah bicara tentang kebiasaan rakyat, bicara soal Baranangsiang adalah juga bicara soal keharmonisasan dan kekeluargaan yang sudah tertanam dalam setiap rencana kepergian dan kedatangan.

Optimalisasi Terminal Baranangsiang belum dimulai. Kendali kebijakan yang sekarang beralih ke tangan walikota usia, Bima Arya Sugiarto, memperlihatkan gelagat akan mendengar suara rakyat. Sejumlah kesepakatan antara investor dengan penguasa lama direvisi. Muncul kalimat bahwa yang diotimalisasi adalah terminal, bukan mal dan hotel.

Baca juga  Berkolaborasi dengan Bima Arya, Pianis Muda Kota Bogor Pukau Penonton

Kepada walikota muda kini disandarkan harapan, akankah kata sesuai dengan perbuatan, akankah senter optimalisasi focus pada terminal? Baranangsiang adalah milik kita bersama, maka penentuan nasibnya tidak bisa diputuskan oleh segelintir kelompok saja.

Kita sudah muak dengan sejarah di mana kekuasaaan tidak berpihak kepada rakyatnya,. bahwa perselingkuhan antara pengusaha dengan penguasa sudah menyebabkan kerusakan social yang mendasar.

Terhapusnya Bukit Badigul adalah sejarah luka, sejarah perlawanan atas pendindasan. Jangan sampai hal yang sama terulang. Mari bersama tantang kekuasaan agar kembali pada hakikat sejatinya. Bahwa hak akan kota yang indah asri dan berdamai dengan lingkungan adalah hak rakyat bersama. Bahwa mendapatkan udara yang segar, pemandangan indah dan nuansa kearifan bernilai sejarah adalah warisan yang berhak didapatkan anak cucu kita semua. Baranangsiang akan dioptimalisasi, mari kita tunggu realiktas keberpihakannya kepada rakyat.

Baca juga  Atase Perdagangan Jajaki Produk Kota Bogor untuk Dipasarkan di Belanda

[] Felix Martha, adalah  aktivis Persatuan Mahasiswa Kota Bogor (PMKB)

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top