Presiden RI Jokowi

Dalam Hal Emas, Jokowi Presiden Tiada Tanding

BOGOR-KITA.com – Dalam hal emas, Joko Widodo (Jokowi) adalah Presiden tiada tanding. Dalam hal emas, Jokowi mencatatkan diri sebagai Presiden Republik Indonesia paling banyak mendulang emas. Ada dua jenis emas. Pertama, medali emas Asian Games 2018. Kedua, emas dari tambang emas PT Freeport. Dalam hal emas Asian Games, adalah di masa Presiden Jokowi atlet Indonesia mampu memperoleh medali emas terbanyak sepanjang keikutsertaan Indonesia di ajang Asian Games. Dalam hal emas PT Freeport, adalah di masa Presiden Jokowi Indonesia mampu meraih 51 persen saham PT Freeport, terbesar sejak eksplorasi  tambang emas itu tahun 1967.

Tiada Tanding

Orang boleh berkata apa tentang Jokowi. Tetapi dalam hal emas, pasti  bahwa Jokowi adalah Presiden Indonesia tiada tanding sepanjang sejarah kemerdekaan.

Betapa tidak, sampai hari ini, Selasa (28/8/2018) perolehan medali emas di ajang Asian Games 2018  sudah mencapai 22 medali emas.

Jumlah 22 medali emas ini masih berpeluang bertambah. Tetapi dengan jumlah 22 medali emas ini saja, Presiden Jokowi sudah tercatat sebagai presiden yang di era kepemimpinannya para atlet Indonesia mampu meraih medali emas terbanyak sepanjang keikutsertaan Indonesia di perhelatan olahraga terbesar di Asia, yang sekarang disebut sebagai mini olimpiade itu.

Baca juga  Memori Kemiskinan

Perolehan medali emas ini sudah melebihi rekor perolehan medali emas dari ajang Asian Games yang sebelumnya terkunci di Asian Games tahun 1962, di mana para atlet Indonesia ketika itu berhasil meraih 21 medali emas.

Perolehan emas di Asian Games 2018 ini bahkan patut dicatat dengan tinta emas, karena jauh di atas perkiraan, termasuk di atas target Jokowi yang semula menargetkan Indonesia berada di peringkat ke-10 dengan perolehan 17 medali emas.

Salah satu nilai dari perolehan 22 medali emas di Asian Games 2018 ini adalah berubahnya citra atlet Indonesia.

Nilai ini tidak bisa dianggap remeh. Dengan perolehan medali itu, atlet Indonesia akan lebih percaya diri bila tampil di panggung olahraga internasional, dan atlet negara lain rasanya tidak (lagi) memandang atlet Indonesia sebagai atlet kelas teri.

Warga Malaysia yang selama ini memandang rendah Indonesia dengan sebutan Indon, diperkirakan juga akan berubah.

Kemampuan Indonesia merebut seluruh medali emas dari cabang silat, termasuk ketika bertarung dengan pesilat Malaysia, diperkirakan akan menggoyahkan rasa superior negara jiran itu terhadap kebudayaan Indonesia, sehingga ke depan sungkan mengklaim secara semena-mena produk kebudayaan Indonesia sebagai hasil ciptaan kebudayaan Malaysia.

Baca juga  Jokowi Minta Detail Produksi dan Vaksinasi Covid-19 Dalam Dua Pekan

Teristimewa kemampuan atlet dari Kota Bogor, peraih medali emas pertama untuk Indonesia, Defia Rosmaniar yang berhasil mengalahkan atlet Korea Selatan, Yun Ji Hye di semi final cabang taekwondo.

Kemampuan Defia mengalahkan atlet Korea Selatan, Yun Ji Hye memperlihatkan kemampuannya menguasai taekwondo lebih dari penguasaan atlet yang nota bene berasal dari negara pencipta taekwondo itu sendiri.

Hebat, karena taekwondo sudah berkembang di Korea sejak tahun 37 Masehi, dan kerap dijadikan pertunjukan dalam acara ritual, bahkan menjadi senjata bela diri andalan para ksatria Korea, sementara seni beladiri itu baru masuk ke Indonesia tahun 1975.

Lebih dari itu, raihan medali emas melebihi target, mengobati rasa rindu dan pesismisme atlet Indonesia di ajang Asian Games yang nyaris tak membuahkan prestasi menggembirakan.

Pada sejumlah ajang Asian Games, atlet Indonesia bahkan pulang tanpa satu pun medali emas. Asian Games di New Delhi 1958 dan 1982, Manila 1954, Tokio 1958, atlet Indonesia pulang tanpa medali emas.

Emas terbanyak yang pernah diraih atlet Indonesia selain Asian Games 1962 dan 2018 adalah di Asian Games Bangkok 1978, di mana Indonesia membawa pulang 8 medali emas. Emas paling banyak di era reformasi adalah di  Asian Games 1998 di mana Indonesia membawa pulang 6 medali emas.

Baca juga  Perjuangan Titin Mewaraskan Orang Gila

Kondisinya sama dengan tambang emas Freeport di Papua. Sejak diekplorasi Amerika tahun 1967, Indonesia hanya menguasai sebagian kecil saja saham Freeport. Berbagai hal sempat terjadi dengan kepemilikan saham Indonesia yang kecil itu. Presiden silih berganti, namun hanya di era Jokowi Indonesia  berhasil menjadi pemilik saham mayoritas PT Freeport, 51 persen.

Presiden Soekarno memang pernah mencanangkan akan menasionalisasi Freeport atau setidaknya memiliki 60 persen sahamnya. Tetapi Presiden Soekarno turun tahta sebelum berhasil menguasai tambang emas yang di dalam perutnya santer diberitakan tersimpan uranium dalam jumlah besar.

Pertanyaannya, apakah raihan medali emas terbanyak di Asian Games 2018 dan penguasaan saham mayoritas di tambang emas Freeport, merupakan prestasi Jokowi.

Tentang hal ini berpotensi menjadi perdebatan terutama di jelang pilpres seperti sekarang ini. Namun satu hal tidak bisa dibantah adalah, bahwa di masa kepemimpin Jokowi-lah Indonesia berhasil meraih 22 medali emas di ajang Asian Games dan di era kepemimpinan Jokowi pula Indonesia berhasil menguasai 51 persen atau mayoritas saham tambang emas Freeport. Oleh sebab, dalam hal emas, Jokowi adalah presiden tiada tanding. [] Petrus Barus

 



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *