Nahrul Hayati

Cara Kita Menyikapi Inflasi

NETIZEN – BOGOR-KITA.com – Indonesia merupakan negara demokrasi dengan mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Data sensus penduduk 2010 mencatat bahwa ada sekitar 87,2 persen atau 207 juta jiwa dari total 238 juta jiwa penduduk beragama islam dan sisanya menganut agama lain.

Bulan suci Ramadan adalah bulan yang sangat ditunggu oleh seluruh umat muslim di dunia terutama di Indonesia. Menjadi kebiasaan bagi umat islam, ketika ramadan datang akan di sambut dengan kebahagiaan dan dengan hati yang bersuka cita. Umat Islam akan luruh dengan segala kekhidmatannya untuk menjalankan ibadah puasa. Namun menjadi kebiasaan pula, bagi umat islam di Indonesia, setiap menjelang ramadan sampai lebaran harga-harga barang akan berlomba-lomba naik secara signifikan, terutama barang-barang yang menjadi kebutuhan pokok.

Setiap tahun kenaikan harga-harga ini seolah-olah menjadi ritual penanda masuknya bulan suci ramadan dan berakhir dengan masuknya bulan syawal. Kenaikan harga-harga ini menjadi penyebab dari inflasi terus melaju.

Tingkat konsumsi pangan masyarakat indonesia pada bulan Ramadan cenderung tinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya. Hal tersebut lumrah terjadi setiap tahunnya dikarenakan perilaku konsumtif masyarakat yang menjadi “lapar mata” ketika tengah berpuasa dan menginginkan beraneka ragam makanan untuk disantap saat berbuka puasa.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi di Indonesia dalam 3 tahun terakhir terus meningkat terutama pada bulan April 2019 sebesar 0,44 persen. Sementara inflasi tahun kalender (year to date) Januari-April 2019 tercatat sebesar 0,80 persen.

Besaran inflasi secara tahun kalender pada April 2019 dinilai lebih tinggi dibandingkan pada April 2018 yang hanya sebesar 0,10 persen. Sementara April 2017 sebesar 0,09 persen.

Berdasarkan survei Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), pada awal bulan Mei 2019 sampai memasuki pekan kedua puasa harga pangan terus mengalami banyak perubahan harga rata-rata pada semua provinsi.

Harga rata-rata terhadap bawang merah terus mengalami penurunan yang sangat signifikan yaitu sebesar Rp. 40.350/Kg pada 2 Mei 2019 sampai tanggal 14 Mei 2019 harga bawang merah terus turun di angka Rp. 37.7500/Kg.

Berbanding terbalik dengan bawang merah, harga cabai merah terus melonjak naik sejak pekan pertama di bulan Mei 2019 dengan harga mulai Rp. 36.600/Kg sampai pekan kedua harga terus naik sebesar Rp. 42.050/Kg.

Paling liar dan sampai menyebabkan inflasi yaitu produk pangan bawang putih yang harganya melonjak begitu pesat dan tak masuk akal. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, bawang putih memberikan andil inflasi sebesar 0,09 persen pada inflasi bulanan April lalu sebesar 0,44 persen.

Pada selasa (7/5/2019)  Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) mencatat, rata-rata harga bawang putih nasional mencapai Rp. 63.900/Kg dan terus menurun dari hari sebelumnya yaitu mulai (8-14/5/2019) sampai di angka Rp. 53.700/Kg.

Walaupun harga rata-rata bawang putih nasional terus mengalami penurunan beberapa hari terakhir, dengan harga tersebut terasa masih mencekik rakyat terutama bagi masyarakat yang kurang mampu.

Pemicu terjadinya kenaikan inflasi yaitu : Perilaku Konsumtif Tindakan berlebih-lebihan masyarakat dalam mengkonsumsi makanan menjadi kebiasaan umum yang selalu terjadi pada bulan-bulan ramadhan. Kelangkaan Barang Seringkali terjadi pada saat ramadhan barang-barang, terutama untuk kebutuhan pokok, menghilang dari pasaran. Sehingga barang-barang sulit untuk dicari dan menjadi barang yang langka. Ketiadaan barang di pasaran akan menjadi penyebab dari naiknya harga barang tersebut, karena terjadi ketidakseimbagan antara permintaan barang dan suplay barang. Problem Distribusi Distribusi barang dari daerah penghasil ke daerah pengguna (konsumen) berkaitan erat dengan sarana dan prasarana transportasi. Jauh-dekatnya jarak, kondisi jalan dapat berpengaruh atas penentuan harga barang. Tinggi-rendahnya retribusi jalan, harga Tol, dan harga BBM menjadi bagian yang menentukan harga barang. Hal tersebut kemudian mampu mempengaruhi lancar dan tidaknya distribusi barang tersebut dari satu daerah ke daerah lain. Sehingga hal ini akan menjadi penyebab utama dari kelangkaan suatu barang pada salah satu daerah, dan akan menjadikan permintaan tidak terpenuhi. Yang terjadi kemudian harga-harga akan mengalami kenaikan secara signifikan.

Dengan demikian alangkah ada baiknya masyarakat lebih menyikapi inflasi dengan bijak khususnya inflasi yang diperkirakan akan dihadapi pada bulan ramadhan dengan cara salah satunya menahan diri dari perilaku konsumtif, membeli bahan pangan secukupnya yang dibutuhkan selama ramadhan.

Dengan kondisi yang terjadi saat ini diharapkan kepada pemerintah untuk dapat mengeluarkan kebijakan yang mampu menekan laju inflasi selama Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri supaya tidak terjadi inflasi yang berkepanjangan. []  Oleh : Nahrul Hayati, Mahasiswa Magister Sains Agribusiness, IPB University



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *