Budy Sugandi

Melirik Kemajuan Teknologi China

BOGOR-KITA.com – Tulisan ini terinspirasi dari tulisan Prof. Toeti Heraty Rooseno, dosen senior ilmu filsafat di Universitas Indonesia dan salah satu anggota Komisi Kebudayaan, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI). Setelah berkunjung untuk ketiga kalinya ke Istanbul, ia menuliskan artikel yang kemudian dimuat di salah satu media nasional. Saat kunjungan akademik tersebut Ibu Toeti bersama anggota AIPI lainnya yaitu Prof. Amin Abdullah dan Prof. Musda Mulia. Saya ikut sebagai pendamping.

Kunjungan kedua saya di bulan April ke Chengdu, dalam rangka bertemu rombongan dari PBNU KH Said Aqil Siradj. Sedangkan kunjungan pertama saya beberapa bulan lalu dalam rangka berkunjung ke salah satu bendungan air terbesar di China yaitu Feishayan Spillway dan Chengdu Research Base of Giant Panda Breeding yang diadakan oleh kampus saya, khusus bagi mahasiswa internasional di Fakultas Pendidikan, Southwest University, China.

Chengdu merupakan ibu kota Provinsi Sichuan. Kota ini merupakan salah satu kota wisata di China. Selama berada di Kota Chengdu, saya melihat masyarakat dan pengunjung sangat dimanjakan dengan kemudahan transportasi dan kemajuan teknologi. Saya pun sangat terbantu dengan kemajuan tersebut.

Kemajuan ekonomi dan teknologi di China tak terbendung lagi. Moda Raya Terpada (MRT) yang ada di Jakarta saat ini sudah lama ada di China bahkan hampir seluruh kota sudah saling terhubung. Termasuk jaringan komunikasi 5G yang sempat diprotes Amerika karena dianggap terlalu mendahului hingga membuat Matahari Buatan.

Sejarah mencatat China terkenal sebagai negara yang berhasil menciptakan kertas, kompas, gunpowder dan teknik printing. Di zaman modern saat ini, lima hal yang paling familiar adalah the belt and road initiative, kereta cepat, sistem pembayaran online Alipay, shared bicycles dan e-commerce.

Tiongkok tak puas hanya dengan kemajuan yang diperoleh. Pada tahun 2013 mereka mengumumkan Megaprogram strategis The Belt and Road Initiative (BRI), atau the One Belt One Road (OBOR) (Chinese: 一带一路). Sebuah Megaprogram membangun infrastruktur dan investasi yang akan menghubungkan 152 negara. Bukan hanya kawasan Asia melainkan terhubung hingga Eropa, Afrika, Amerika Latin hingga Timur Tengah.

Sejak dulu Tiongkok terkenal dengan Jalur Sutra (絲綢之路) atau Silk Road, karena mereka punya filosofi “Barang siapa yang menguasai jalur perdagangan maka ia akan menguasai dunia”.

Rel high-speed rail atau Kereta cepat di China menjadi yang terpanjang di dunia. Pada tahun 2016 panjang rel mencapai 22.000 km dengan kecepatan maksimal 430 km/jam. Kereta cepat ini terintegrasi ke hampir semua kota di China. Membangaun rel kereta di China membutuhkan biaya yang besar. Terutama tempat yang dikelilingi pegunungan seperti kota Chongqing. namun, di sinilah komitmen pemerintah China untuk menghadirkan layanan transportasi publik yang nyaman bagi seluruh masyarakat.

Mayarakat di sini banyak yang memilih menggunakan kereta cepat dengan alasan kapasitasnya lebih banyak, cepat, aman, on schedule, nyaman, hemat energi dan ramah lingkungan.

Untuk transaksi, hampir semua masyarakat menggunakan mobile payment. Sebuah sistem pembayaran online yang pertama kali hadir pada tahun 2004 dengan mengguanakan QR code di smartphone. Baik di saat belanja di supermarket, belanja online hingga membeli sembako ke pedagang kaki lima juga sudah tidak menggunakan pembayaran cash. Jadi kemana-mana cukup dengan membawa smarthphone. Alasan orang-orang menggunakannya karena portable, mudah digunakan, tingkat keamanaan yang tinggi, banyak promosi/diskon, tidak perlu membawa uang cash.

Untuk Shared bicyecles, di pinggir-pinggir jalan biasanya berbaris sepeda dengan berbagai warna. Ada 8 warna yaitu Hijau, biru muda, hitam, merah, kuning, putih, abu-abu dan biru tua. Setiap warna membedakan perusahaan penyedia. Untuk menggunakannya kita cukup menyecan code yang ada di sepeda dengan menggunakan Alipay atau WeChat Pay. Seketika kunci sepeda akan terbuka dan kita bebas berselancar menggunakan sepeda itu. Sepeda yang digunakan tidak perlu dikembaliakn ke tempat semula. Melainkan bisa diparkir di manampun untuk dipakai pengguna lain. Pastikan sudah mengunci sepeda agar sistemnya berhenti.

Shared bicycles merupakan jawaban riil dari permasalah kemacetan terutama di kota-kota yang sesat dan macet. Dengan menggunakan sistem ini manfaatnya lebih nyaman, tanpa polusi udara, mengurangi tekanan kemacetan, murah dan membudayakan hidup sehat karena sekalian berolahraga.

Yan terakhir adalah e-commerce. Mereka punya slogan “you can buy whatever you can imagine”. Tiga raksasa e-commerce terbesar di China adalah Taobao, Jingdong dan Tmall. Pada Global Shopping Festival tahun 2018 (11-11-2018) total uang yang dihabiskan masyarakat dalam satu hari berjumlah 213.500.000.000 RMB atau setara dengan Rp. 450.665.584.000.000 (lebih dari 450 Triliun rupiah).

Di Indonesia saat ini juga sudah mengarah ke sana. Adanya MRT, ojol dan payment gateway menjadi tanda bahwa Indonesia tak mau ketinggalan. Kemajuan teknologi memang perlu diadaptasi. Adanya kompetitor yang sehat dengan pihak swasta menjadi salah satu kunci keberhasilan.

Hadirnya perusahaan-perusahaan swasta sepeti di China menjadi jalan bagi percepatan pembangunan, mendorong kepuasan publik dan membuka kompetisi untuk saling adu layanan terbaik. Tentu aturan dan regulasinya perlu dikaji dan awasi sehingga negara dan masyarakan yang paling diuntungkan. Lihat saja ojol dan e-commerce yang lahir dari pihak swasta sehingga mampu mengurangi masalah kemacetan jalan, mempermudah transaksi dan menambah pemasukan negara. Namun adanya keluhan tentang kurang nyamannya kereta dalam kota KRL Commuterline yang jadwalnya tunggunya terlalu lama, resiko brhenti karena rel rusak dan penuh terutama saat jam pulang kerja perlu dievaluasi. Salah satunya melibatkan pihak swasta untuk juga terlibat.

Pada akhirnya, tidak ada kata terlambat jika kita mau berbenah. Lahirnya MRT di Jakarta menjadi bukti bahwa jika kita mau dan kompak memajukan bangsa ini maka pasti bisa!

https://www.qureta.com/post/melirik-kemajuan-teknologi-china

Budy Sugandi

CEO Klikcoaching

PhD Candidate, Jurusan Education Leadership and Management, Southwest University, Chongqing, China

Wakil Katib Syuriah PCINU Tiongkok

Komisi Pendidikan PPI Dunia



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *