Kota Bogor

KDM: Infrastruktur Harus Menyesuaikan Lanskap Sejarah dan Alam

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan bahwa pembangunan daerah harus kembali berpijak pada nilai sejarah dan warisan peradaban leluhur.

Menurutnya, peninggalan budaya tidak sekadar menjadi benda kuno, tetapi harus dijadikan dasar dalam menentukan arah pembangunan masa depan.

Hal tersebut disampaikan Dedi Mulyadi usai menghadiri Diskusi Kecagarbudayaan bertema Prasasiti Batutulis dan Mahkota Binokasih Sanghyang Pake di Museum Pajajaran Batutulis, Kamis (14/5/2026).

Dalam diskusi tersebut, Dedi menegaskan bahwa peninggalan sejarah tidak boleh dipandang sekadar benda kuno, melainkan warisan peradaban yang memiliki nilai penting dalam menentukan arah pembangunan masa kini.

Menurutnya, berbagai situs sejarah di Jawa Barat harus didukung dengan kajian akademik yang lengkap agar dapat menjadi referensi pembangunan berkelanjutan.

Baca juga  Operasi Ketupat Lodaya 2018 Selama 18 Hari

“Semuanya harus menjadi karya akademik. Kita butuh buku yang menjelaskan satu demi satu peninggalan tersebut secara detail, mulai dari tanggal pembuatan hingga maknanya untuk membangun dan menata masa depan,” ujar Dedi.

Ia menjelaskan, selama ini pembangunan modern dinilai terlalu jauh dari akar sejarah dan budaya masyarakat. Akibatnya, banyak kebijakan pembangunan yang tidak memperhatikan karakter wilayah maupun kondisi lingkungan.

“Kita harus jujur, konsepsi pembangunan yang kita kelola hari ini berantakan. Harus dikembalikan lagi ke akarnya. Syarat utamanya adalah kajian perubahan tata ruang,” katanya.

Dedi juga menyinggung longsor yang terjadi di Jalan Saleh Danasasmita, kawasan Batutulis, yang menurutnya menjadi contoh nyata kesalahan tata ruang.

Baca juga  PT. Surveyor Indonesia Gelar Vaksinasi Anak Usia 6-11 Tahun di Kecamatan Bogor Timur

Ia menilai kawasan di sekitar situs sejarah semestinya dipertahankan sebagai ruang hijau, bukan dialihfungsikan menjadi infrastruktur jalan.

“Kawasan dekat situs Batutulis yang seharusnya hijau dan rimbun, kenapa bisa longsor? Karena salah penerapan tata ruang. Daerah hijau malah dibuat jalan,” ucapnya.

Ia menambahkan, pembangunan infrastruktur di masa mendatang harus memperhatikan lanskap sejarah dan kondisi alam agar tidak memicu kerusakan lingkungan maupun menghilangkan nilai budaya kawasan tersebut.

“Ke depannya, pembangunan jalan, jembatan hingga irigasi harus melihat tata letak dan lanskap sejarahnya,” tutupnya. [] Ricky

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top