Almizan Ulfa

Sensasi Trio Pesona Kawasan Wisata Situgunung Sukabumi

BOGOR-KITA.com – Dua hari yang lalu, Minggu, 9 Desember 2018, saya dan isteri tersayang sempat berkunjung ke Kawasan Wisata Situgunung, Cisaat, Sukabumi. Sebelumnya kami pernah dengar bahwa kawasan yang terletak di Gunung Pangrango ini memiliki tiga objek wisata yang mempesona: jembatan gantung, air terjun dan danau. Trio Pesona Wisata Situgunung.

Perjalanan ke kawasan ini agak tidak sengaja sebetulnya. Kami dari Bojong Gede Bogor mo nginep di rumah Bu Mertua di Gegerbitung, Sukabumi dan ketika melalui Jalan Tol Bocimi yang indah dan lancar tidak terasa sudah sampai Cisaat. Tiba-tiba isteri bilang “honey masih pagi yuuk mampir di Situgunung dulu. Katanya kita wajib berkunjung ke sini. Kawasan ini baru diresmikan oleh Ridwan Kamil dan Jokowi beberapa minggu yang lalu,” katanya.

Jarak dari jalan raya Cisaat ke lokasi tujuan dengan tikungan dan tanjakan yang banyak kesamaannya dengan jalan menuju Salabintana Sukabumi rasanya kurang dari satu jam. Dan, kita disambut pintu gerbang utama kawasan yang terasa seakan-akan memanggil…manggil.. punteun.. mangga melebet.. segera masuk… dengan tarif masuk yang wajar Rp50.000 per orang all in termasuk welcome drink.

Jalan berkelok yang cukup lebar menuju objek wisata utama yaitu Jembatan Gantung dikelilingi oleh pohon-pohon besar yang menjulang dan banyak sekali jurang yang dasarnya berkabut dan hanya terlihat sayup-sayup; dalam sekali dan mendorong adrenalin terproduksi seketika.

Di jalan ini disediakan stage view untuk melihat sensasi jembatan gantung ini dari kejauhan. Luar biasa.. kata singkatnya. Banyak yang ambil foto dan selfi di sini. Seketika saya ingat dengan sensasi jembatan gantung Sanway Malaysia. Bedanya di Malaysia itu hanya menghubungi dua bangunan yang tinggi. Tidak ada ngarai yang dalam, tidak ada hutan dan pepohonan yang hijau mempesona seperti di Situgunung.

Jalan kaki apalagi dengan hawa pegunungan yang sejuk dan bersih memang sangat menyenangkan. Kami pun tiba di gerbang utama jembatan gantung dan disambut oleh panggung terbuka dengan tempat duduk melingkar menurun mengikuti contour tanah di atas gunung. Seperti sawah padi bertingkat tapi yang ini bukan padi melainkan tempat duduk di depan pangungg kesenian budaya. Terdengar alunan merdu tembang Sunda live tetapi sedang tidak ada acara. Hanya orang nembang saja.

Di kiri gerbang utama ini disediakan pondok free welcome drink plus singkong goreng dan ubi rebus. Di kanannya disediakan pondok kuliner yang cukup lengkap dengan minuman dingin, hangat, dan berbagai menu makanan ringan dan berat khas Sunda/Indonesia.. Agh.. mengingat ini rasanya ingin kembali lagi ke sini.

Kami mampir di sini waktu pulang. Waktu pergi langsung saja jajal jembatan gantung yang bikin deg-degan ketika melihat ternyata jembatan ini panjang sekali, 250 meter, sedikit melengkung ke bawah, dan terlihat bergoyang kiri kanan, njut-njutan juga kelihatannya. Kedalaman jurang 120 meter.

Situasi ini mengingatkan saya kembali dengan sensasi musim panas di Colorado, USA, puluhan tahun silam. Saya yang mengikuti tour Colorado State Univ students a.l  naik jembatan bergerak maju mundur serta memutar di atas ngarai hijau yang mempesona dan sangat dalam… sayang saya lupa nama tempat ini. Tapi, saya ingat ini tidak jauh dari lokasi The Garden of Gods yang berada dalam deretan pegunungan Rocky Mountain dengan tebing-tebing tegak yang menjulang sangat tinggi disertai pemandangan yang menakjubkan serta mendebarkan ketika terlihat baaanyak sekali “clifhangers” bak kupu-kupu dilihat dari kejauhan yang sedang merayap keatas di tebing-tebing ini. Terlihat ada sekelompok yang baru mulai manjat, ada yang sudah cukup tinggi, dan banyak juga yang hampir sampai ke puncaknya.

Kita kembali lagi ke Situgunung.

Waktu yang dibutuhkan untuk melintas jembatan gantung yang selalu bergoyang ini sekitar 10 menit dan bisa lebih lama jika sambil jepret sana sini dan/atau selfi. Tiba kami terkejut karena ada goyangan yang sangat kuat ketika sampai di tengah. Ternyata… ada anak-anak milenial yang mengambil sensasi foto sambal lari-lari kecil.. agh takutnya.. sebaiknya ada larangan untuk berlari di jembatan gantung ini.

Subhanallah… Alhamdullilah kami sampai juga dengan selamat di seberang jembatan. Tantangan berikutnya adalah jalan dan jembatan yang terjal menurun dan berkelok-kelok menuju objek wisata yang berikutnya yaitu “Air Terjun Sawer.”

Beberapa menit kemudian sayup-sayup mulai terdengar gemuruh suara air terjun dan sorak serta pekik keriaan suara pengunjung. Terus jalan santai..keriuhan suara air terjun dan orang semakin dekat dan kuat dan akhirnya kami disambut oleh saweran air yang seperti es dingin di wajah dan kepala kami. Kolam alami tempat jatuh air terjun sudah tertata rapih. Stage view juga sudah dibangun dengan baik. Banyak yang ambil foto/video dan selfi di stage view ini. Untuk mencapai lokasi air terjun ini rasanya kami tempuh sekitar 20 menit dari jembatan gantung tersebut (terminal Selatan atau Utara ya?).

Banyak kuliner UMKM di sini

Terus menurun lagi akan sampai di danau yang luas di kelilingi pohon-pohon tinggi yang hijau dan rindang. Itu kata tukang-tukang ojek yang menawarkan jasa untuk mengantar kami sampai ke danau tersebut. Tapi, takut agh naik ojek di medan yang terjal ini. Terasa dah cape untuk jalan kaki….pulang aja dulu ya..ingat untuk mencicipi kehangatan masakan Sunda di pondok kuliner gerbang masuk jembatan gantung yang kami lewati tadi.

Hayu kunjungi Situgunung, Cisaat, Sukabumi. [] Admin/ditulis dan dikirim oleh Almizan Ulfa, Pensiunan Peneliti Utama Kementerian Keuangan R.I.

Cat: BOGOR-KITA.com menampung informasi fasilitas umum/sosial atau pengalaman perjalanan wisata beserta foto. Semua kiriman yang dinilai berkaitan bagi kepentingan publik akan ditayangkan dan menjadi tanggung jawab penulis/pengirim. (Redaksi)



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *