Wisata

Asal Usul Nama Tempat di Bogor

buku toponimi bogor

BOGOR-KITA.com, BOGOR –  Semua daerah punya nama. Semua nama pasti punya cerita. Di Bogor ada ratusan atau ribuan nama daerah atau nama jalan.  Ada Babakan, Pabuaran, Cipakancilan, Ciliwung, Cisadane, jasinga, dan lain sebagainya.

Nama-nama ini tidak muncul begitu saja. Ada sejarahnya, ada kisahnya.

Bagaimana sejarahnya atau asal usulnya? Bagaimana kisah atau cerita munculnya nama-nama daerah ini?

Jawabannya dituliskan dalam buku berjudul “Toponimi Bogor” karya Eman Soelaeman, dengan editor Dr Abdurrahman MBP.M.E.I.

Buku ini sekaligus menjadi dokumen  mengenai asal mula nama-nama daerah di Bogor dan juga Depok.

Pada bagian pendahuluan buku yang terbit tahun 2003 ini, disebutkan, tempat-tempat yang diselidiki dan dihimpun dalam  buku ini sekarang termasuk dalam tiga wilayah, yakni; Kotamadya Bogor, Kabupaten Bogor, dan Kota Administratif Depok.

Sebelum ada pembagian wilayah secara administratif seperti sekarang, dahulu ketika tempat-tempat di ketiga wilayah tersebut terbentuk, tidak  mempunyai batas-batas yang jelas, kecuali batas alami seperti sungai, selokan, dan lain-lain.

Selain itu siapa pendiri atau pemberi namanya pun tidak diketahui.

Bahasan atau ulasan secara umum mengenai asal-usul nama-nama tempat di ketiga wilayah tersebut di atas meliputi beberapa aspek yaitu kata asal, bahasa, dan kurun waktu atau saat pertama kali nama tadi muncul.

Kata-kata yang digunakan untuk penamaan tempat-tempat berasal dari beberapa hal yaitu: gejala/keadaan alam (bantar, pasir, lebak, ci-cai), fauna/hewan (singa, kanci, badak), flora/tumbuhan (manjah, gadung, angsana), dan lingkungan sosial yaitu hasil kegiatan atau aktivitas manusia (babakan, parakan, pabuaran), termasuk dalam kelompok ini adalah nama orang (diri).

Penamaan nama tempat banyak menggunakan gabungan dua patah kata misalnya; Tegalgundil, Pasirangin, Lebakpilar, dll., dan sedikit sekali yang menggunakan satu patah kata misalnya; Tajur, Dermaga.

Gabungan atau kombinasi kata kebanyakan menggunakan kata-kata yang berasal dari keadaan alam diikuti oleh nama hewan (Cipakancilan), atau nama tumbuhan (Bantar Kemang).

Selain itu tempat-tempat lainnya yang tercantum di halaman teks tetapi belum sempat ditelusuri banyak pula yang menggunakan kata yang berasal dari gejala alam terutama kata gunung dan    pasir, seperti Gunung Batu, Gunung Galuga, Gunung Sindur, Gunung Dongko, Pasir Gelap, Pasir Kuda, Pasir Muncang dan lain lain.

Kedua kata ini (gunung dan pasir) menunjukkan tempat yang tinggi.

Ini berarti bahwa wilayah Bogor terutama di bagian selatan dan barat, merupakan dataran yang tinggi. Kata ‘ci’ kependekan dari ‘cai’ yang berarti air apabila diikuti nama hewan atau nama tumbuhan artinya adalah sungai misalnya Cipeucang (peucang = kancil) dan Ciapus (apus=bambu).

Banyaknya nama tempat yang  menggunakan kata ‘ci’ dalam pengertian ini  menggambarkan bahwa wilayah Bogor dan sekitarnya merupakan daerah yang dialiri banyak sungai, baik sungai besar maupun sungai kecil.

Di pinggir-pinggir sungai ini sering ditemukan tempat untuk penyeberangan terutama di tempat yang dasar sungainya dangkal serta arusnya deras (bahasa Sunda ‘parung’) apabila arus airnya lambat dinamakan ‘bantar’ (Riggs. J.,1862:61, 40)

Tempat-tempat penyeberangan itu lambat laun  kemudian banyak yang dijadikan pemukiman serta di belakang kata ‘parung’ atau ‘bantar’ tadi ditambahkan nama hewan misalnya Parung Banteng, Bantar Kambing, atau nama tumbuhan misalnya Parung Angsana.

Bantarjati, wilayah Bogor yang secara topografis merupakan dataran tinggi serta mempunyai banyak sungai yang mengalir ke arah hilir (utara) mengakibatkan di wilayah ini jarang ditemukan tempat genangan air yang berpaya-paya atau rawa-rawa.

Oleh karena itu di wilayah ini jarang ditemukan nama tempat  yang menggunakan kata rawa, kecuali Kampung Rawa (sekitar Kuta Gegelang di Kecamatan Ciampea) sementara kata ranca yang artinya sama dengan rawa terdapat hanya pada nama Rancamaya.

Sungai-sungai tersebut pada akirnya mengalir pada aliran sungai besar yaitu Ciliwung dan Cisadane.

Selain Ciliwung, Ciadane dan Cibeet di wilayah ini terdapat 28   aliran sungai yang mengalir sepanjang tahun dan bermuara di pantai Laut Jawa.

Aliran air tersebut sebagian besar digunakan untuk irigasi, pertanian, keperluan keluarga, dan juga sebagai sumber resapan (Ensikopedi Nasional Indonesia, 1988: Jl. 3 : 410).

Wilayah Bogor yang letaknya di dataran tinggi serta tanahnya bergelombang dan berbukit membentuk banyak air terjun (bahasa sunda ‘curug’), seperti Curug Nangka, Curug Luhur, (Sirug Pribu, dll).

Curug-curug itu memiliki pemandangan yang indah serta udaranya pun bersih dan segar sehingga banyak dikunjungi orang  sebagai tempat wisata dan rekreasi.

Baca juga  Seorang Siswi SMK Korban Penusukan Meninggal Dunia

Kata-kata yang berasal dari lingkungan sosial yang digunakan untuk penamaan tempat pada umumnya adalah kata yang berkaitan dengan hasil kegiatan/aktivitas manusia baik yang bersifat kongkret maupun abstrak.

Hasil kegiatan budaya manusia yang bersifat kongkret misalnya pabuaran, parakan, babakan, pura, lawang, dan lain-lain,

Sedangkan yang bersifat abstrak misalnya ‘sindang’ yang berarti ‘singgah’ atau ‘mampir’ misalnya Sindangsari, Sindangresmi.

Babakan dan pabuaran ditemukan di beberapa tempat, Babakan berarti kampung baru. Ngababakan berarti membuat kampung baru atau daerah baru (Tamsyah, B.K., 1996:28).

Sedangkan pabuaran berasal dari kata ‘bubuara’ yang berarti pergi dari kampung halaman kemudian tinggal di tempat lain karena mendapatkan kesenangan serta kerasan, sehingga tidak berniat kembali ketempat asalnya (Tamsyah, B.K., 1996:50).

Jadi kedua kata tersebut hampir sama artinya yaitu bermukim di tempat yang baru.

Termasuk hasil dalam budaya abstrak adalah penggunaan nama orang/diri yang ada, misalnya Cunpok (dari nama Tan Cun Pok), Gang Pacilong (merupakan kirata/akronim dari „anclak-inclik‟ bari lolong ), Gang Muha (berasal dari nama din Muhara ).

Tempat-tempat lain yang menggunakan nama diri terdapat pada beberapa nama gang yaitu Gang Abesin, Gang Ardio, Gang Nurkim, Gang Nurkas.

Setelah Indonesia merdeka nama diri (terutama tokoh masyarakat dan para pahlawan), banyak digunakan untuk menamai jaian-jalan sebagai pengganti nama yang lama misalnya Jalan Raya menjadi Jalan Ir. H. Juanda, Jalan Perniagaan menjaadi Jalan Suryakencana, Jalan Bioskop menjadi Jalan Mayor Oking dll.

Kata-kata yang digunakan untuk penamaan tempat di ketiga wilayah yang ditelusuri kebanyakan berasal dari bahasa Sunda yang merupakan bahasa yang digunakan sehari-hari oleh penduduk. Bahasa-bahasa lain di luar bahasa Sunda yaitu bahasa Sangsekerta (Pancasan=Pancasona, Puraseda, Dermaga), bahasa Jawa (Depok, Beji), bahasa Melayu (Jembatan Merah), bahasa Arab (Karamat), bahasa Cina (Cincau), dan bahasa Belanda (Pilaar=Pilar, Bazaar=pasar, schietschif=sekip).

Banyaknya kata yang diambil dari bahasa Sunda yang digunakan untuk menamakan tempat menunjukan bahwa bahasa sangsekerta tidak begitu berpengaruh walaupun sudah lama sekali yaitu sejak permulaan abad ke-1 masehi orang-orang Hindu diperkirakan sudah bermukim di wilayah Pandeglang.

Sebaliknya terdapat beberapa tempat yang meggunakan nama Hindu asli yang mereka bawa dari negeri asalnya yaitu Kosala (di daerah Lebak), Jambudwipa (di Kecamatan Leuwi Liang), dan Pancawati (di Kecamatan Caringin), sementara untuk nama Cisadane, sedani atau sering juga disebut Cidani Rigg berpendapat bahwa nama itu berasal dari kata Ci+Si+Dani atau Ci+dani. Kata ‘dani’ merupakan bentuk feminim dari kata ‘dana’ (sangsekerta) yang mempuyai arti kaya, makmur, harta, kepunyaan, sedangkan ‘si’ merupakan salah satu kata sandang dalam bahasa Sunda dan ‘ci’ atau ‘cai’ berarti ‘sungai‘ jadi menurut Rigg Cisadane berarti sungai yang memberikan kekayaan, kesuburan, kemakmuran kepada penduduk sekitar tempat yang dialirinya (Rigg, J. 11862: 88).

Pendapat lain mengenai nama Cisadane ini dikemukakan oleh Labberton yang mengatakan bahwa nama itu berasal dari kata sansakerta ‗utsadane’ yang berarti verwoesting, pembinasaan, overweldiging, penaklukan (Labberton, 1910:13). Kata ‘utsadane’ itu terpahat pada prasasti peninggalan Raja Purnawarman yang terdapat di Pasir Koteangkak, Desa Pasir Gintung, kecamatan Leuwiliang.

Danasasmita S. mengemukakan  bahwa kata ‘dane’ atau ‘dani‘ menurut orang-orang tua berarti sadar atau eling dan arti kiasannya adalah jernih  bening yang sewarna dengan putih. Sedangkan kata ‘liwung’ berarti kusut pikiran dan arti kiasannya adalah kusam dan sewarna dengan hitam (Damasasmita, S.1983:98).

Dalam Kamus Umum Basa Sunda, (1975:289) kata  liwung berarti bingung atau baluweng lantaran pegat kacintaan, bingung atau bersedih hati karena putus cinta.

Sedangkan Coolsma, S. berpendapat bahwa ‘liwung‘ berarti ‘verslagen, in verlegenheid zijn: in de war of radelocs zijn‟ (tawar hati, hilang segata keberanian/kegembiraan, berada dalam keadaan sulit,  kacau balau atau putus asa) (Coolsma, 1, 1911:349).

Sementara Labberton mengatakan bahwa Ciliwung  berarti ‘onherbergzame rivers’ (sungai yang tidak dapat didiami manusia), (Labberton, 1910:144).

Pendapat yang diungkapkan di atas tidak jauh berbeda satu dengan   lainnya, sehingga kita berpendapat bahwa Ciliwung atau sering disebut juga Cihaliwung berarti sungai yang penuh dengan kebingungan, kekalutan, kesedihan, kesulitan, dan putus asa.

Belum ada keterangan sedikit pun mengapa sejak dahulu sungai tersebut memperoleh nama yang begitu melankolis.

Baca juga  Warga Tuntut Kelola Sedikit Material Tambang PT Holcim

Nama tempat yang berasal dari bahasa Jawa yaitu Beji dan Depok.

Dalam kamus yang disusun oleh Jansz ‘bedji’ berarti waterbekken=tempat air, kolam sedagkan ‘depoq’ berarti (Jansz, P., 1913 : 48, 154), dalam Aardrijaskundig en statistisch woordenboek van nederlands (Indie, 1853:131).

Bedji sebagai nama  tempat terdapat 14 buah dan semuanya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Ini berarti nama Bedji yang berada di Kotif Depok sekarang baru muncul setelah tahun 1853 tetapi tahun yang pasti tidak diketahui.

Nama depot dapat  16 buah, 15 buah tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang satunya merupakan Depok sekarang yang waktu itu (tahun 1853) baru berpenduduk jiwa 273 jiwa.

Depok muncul jauh lebih awal dari Beji yaitu tahun 1647 ketika Comelis Casteliin untuk pertama kali mengunjungi daerah itu, lima puluh tahun kemudian yaitu pada 16 Mei 1697 tanah itu dibelinya setelah setahun sebelumnya dia membeli tanah Lenteng Agung.

Untuk dapat menentukan kapan kemunculan atau keberadaan suatu tempat diperlukan bukti-bukti dan sumber-sumber tertulis.

Dalam pengkajian kapan munculnya tempat-tempat di ketiga wilayah tersebut di atas sedikit sekali keterangan yang diperoleh melalui sumber-sumber tertulis. Sebagian besar informasi atau keterangan diperoleh melalui penutur atau dari cerita-cerita.

Informasi atau keterangan itu setelah dikaji dan dihubung-hubungkan dengan suatu peristiwa untuk sementara dapat dijadikan titik terang untuk penentuan kurun waktu yang dimaksud walaupun berupa dugaan atau perkiraan yang masih samar-samar, misalnya Jasinga mulai diketahui ketika Jayasingawarman Rajadirajaguru memerintah Kerajaan Tarumanegara antara tahun 358-382 dengan ibukotanya bernama Jayasingapura (Atja, 1986 : 30).

Ibukota kerajaan tersebut kemudian dalam tahun 397 Masehi oleh  Purnawarman dipindahkan ke daerah pantai dan diganti namanya menjadi Sundapura (Danasasmita, S., 1983:37).

Nama Jasinga yang kita kenal sekarang diduga sudah ada pada tahun 358 Masehi.

Nama tempat  yang sudah diketahui yaitu lebak pilar yang jelas tahun pendiriannya berkat adanya informasi berupa catatan yang dibuat oleh SA Budding dan P.J. Veth Budding menulis bahwa ketika mendekati Buitenzorg (Bogor), ia  melihat sebuah tugu batu berdiri tegak di tengah jalan tingginya 60 kaki (+18 meter) didirikan pada tahun 1839  atas permintaan Gubernur Jendral de Eerens (Budding, 1859:38).

Sementara itu, Veth dalam bukunya menulis bahwa pada kelokan terakhir dari Jalan Pos, lurus sepanjang 2000 sampai 3000 langkah, berdirilah sebuah  obelisk (tugu batu) yang terletak pada suatu alas yang lebar.

Tugu tersebut didirikan pada tahun 1839, dihiasi dengan senapan buatan Belanda dan dikenal dengan nama pilar. Tujuan pembuatan tugu atau pilar tersebut tiada lain untuk memperindah pemandangan dari Istana Bogor (Veth, 1882:83).

Berdasarkan kedua sumber tertulis tadi, dapat diketahui lebih banyak tentang pilar tersebut bukan hanya tahun pendiriannya tetapi juga pemrakarsanya  yaitu Gubernur Jenderal De Eerens, yang kuburannya terdapat dalam kompleks kuburan Belanda di Kebun Raya Bogor (tepatnya di belakang Kantor Pos Bogor).

Tugu atau pilar tersebut tampak indah dan jelas apabila dilihat dari Istana Bogor, karena keduanya terletak lurus pada Jalan Pos (Postweg) yang dibuat oleh

Gubemur Jenderal Deandels. Melalui sumber-sumber  tertulis, yang berisi informasi atau keterangan yang jelas  kita dapat memperoleh gambaran yang lebih pasti tentang suatu hal kejadian seperti terungkap pada kasas Lebak Pilar di atas.

Hal serupa kita temukan juga pada pembuatan jalur kereta api Jakarta-Bogor yang kelak digunakan sehari-hari oleh orang Cina dari Pondok Cina   untuk membawa dagangannya ke Depok, Citayam dan sekitarnya.

Dalam hal ini tidak hanya tahun pembuatannya yang kita ketahui, latar belakangnya terungkap juga.

Informasi atau keterangan tentang hal itu dapat diketahui melalui catatan tertulis yang dibuat oleh Victor.

Dalam bukunya yang berjudul Indie In be goede chide tind, ia mengungkapkan bahwa pada tahun 1870 Pemerintah Belanda membuat peraturan yang mengharuskan Gubernur Jenderal untuk menetap di Istana Bogor dan hanya untuk urusan yang sangat penting saja ia pergi ke Batavia.

Dalam kaitan dengan hal ini Gubernur Jenderal saat  itu, Pieter Mijer, segera mulai mengerjakan pemasangan jalur kereta Batavia-Buitenzorg, tetapi ternyata pekerjaan tersebut berjalan lambat, dari Batavia Staad (Jakarta Kota) sampai Koningsplein (Gambir) saja memakan waktu dua tahun, dan baru dalam tahun 1873 jalur kereta api Jakarta-Bogor itu dapat diresmikan pemakaiannya oleh Gubemur Jenderal pengganti Pieter Mijer yaitu J. Loudon.

Baca juga  Bima Serahkan Bantuan kepada 160 Tenaga Kerja Mandiri di Bogor

Selanjutnya Ido mengungkapkan  latar belakang atau alasan mengapa jalan kereta api  tersebut sangat diperlukan yaitu karena untuk menempuh jarak Jakarta-Bogor diperlukan waktu tidak kurang dari 13 jam dengan menggunakan kereta pos yaitu alat pengangkutan yang tercepat pada saat itu (Ido, [t.th.]: 37).

Kajian mengenai kurun waktu pembentukan tempat-tempat memperlihatkan bahwa tempat yang paling awal muncul yaitu, Jasinga, sekitar tahun 358 Masehi, sementara yang paling akhir adalah Dreded, sekitar tahun 1945 yang menggambarkan keadaan Bogor dimerdekakan hampir 60 tahun yang lalu.

Ini tidak  berarti bahwa sebelum tahun 358 ketiga wilayah di atas tidak ada tempat pemukiman.

Pemukiman sudah ada jauh sebelum tahun itu. Malahan sebelum kedatangan orang Hindu pun pasti sudah banyak tempat yang didiami oleh penduduk asli.

Namun sayang tempat-tempat itu tidak dapat diketahui baik lokasi maupun namanya karena tidak ada sumber-sumber yang dapat digunakan sebagai petunjuk ke arah itu.

Dalam mengikuti kemunculan atau asal-usul tempat-tempat pemukiman, berikut nama-nama yang digunakan di wilayah ini selain bertambahnya tempat-tempat yang baru kita melihat juga gejala sebaliknya, yaitu beberapa nama tempat hilang atau tidak digunakan lagi karena terdesak oleh nama yang baru, misalnya Kampung Sukahati yang diperkirakan didirikan sekitar tahun 1740-an sekarang tidak dikenal lagi karena terdesak oleh nama Empang yang muncul kemudian.

Begitu pula nama Buitenzorg yang diberikan oleh Gubemur Jenderal Van Imhof tahun 1745 untuk menamakan Bogor pada masa sekarang tidak terdengar lagi.

Karena informasi yang diperlukan tidak cukup tersedia tidak semua nama tempat di ketiga wilayah di atas diuraikan atau dibahas secara jelas.

Dalam kajian toponimi di wilayah Bogor, Kabupaten Bogor, dan Kotif Depok pengelompokan asal nama tempat didasarkan atas gejala alam dan gejala sosial yang tampakya tidak terialu berbeda dengan kajian toponimi yang dijakukan oleh Grijns.

Grijns dalam tulisannya mengenal nama-nama tempat wilayah Jabotabek mengungkapkan dua kelompok asal kata yaitu kata yang berasal dari lingkungan fisik (pysical fanviroment) (Grijns, 200: 216).

Tiap kelompok dirincinya lagi menjadi lingkungan fisik meliputi, formasi alam (banter, rawa, tanjung, sungai dll, lahan (sawah, serang, gaga dll), hewan (buaya, landak, badak, kelinci dll), tumbuhan (bintaro, ketapang, gambir dll), pemukiman (babakan, buaran, pondok dll), lokasi  tempat (kampung pinggiran rawa, Cileduk seberang jembatan), dan teknologi (jembatan, gedung, tonggak/pal dll).

Sementara itu lingkungan sosial meliputi, tradisi/kepercayaan (pegangsaan, pasar bopfo), agama (Kampung Kukusan), pemakaman (Kramat panjang, Kali Astana), nama orang, fakta/peristiwa (kampung angus, kampung kebanjiran), daerah baru/lama/status (Kebayoran lama, Kebayoran Baru, Bintaro Jaya dll), pemerintahan ( Komplek Hankam, Komplek Deplu dll), hubungan kepemilikan (cawang = Enci Awang, Kampung Kebagusan = Tubagus,        Ragunan          = Wiraguna), perdagangan/pasar/pekerjaan (Pasar Minggu, Pasar Rebo, Pasar Rumput, Petongkangan dll), ukuran (Jembatan Lima, Jembatan Tiga, Kelapa Nunggal, Duren Seribu dll), dan daerah buruan/permainan (Grogol, Jalan Lenso, Jalan Reog, dll).

Wilayah yang membentang antara Jakarta sampai Bekasi yang terletak di sepanjang pantai laut Jawa merupakan dataran rendah yang berpaya-paya atau rawa-rawa.

Tidak aneh di wilayah tadi banyak ditemukan nama tempat yang menggunakan kata rawa seperti Rawa Bangke, Rawa Belong, Rawa Mangun, dll.

Selain itu di daerah ini ditemukan juga nama-nama tempat dengan menggunakan nama Pulo (Pulau), teluk dan tanjung seperti Puto Gadung, Pulo Mas, Pulolio, Pulo Kambing, Teluk Gong, Tanjung Priok dll).

Nama-nama geografi tersebut merupakan nama-nama umum yang sering ditemukan di dataran rendah dan jarang sekali dijumpai di dataran tinggi seperti Bogor.

Selain itu kontak budaya yang terjadi secara intens antara penduduk asli dengan beberapa bangsa atau suku bangsa memunculkan tempat-tempat yang menggunakan nama asal bangsa atau suku bangsa sebagai identitasnya seperti Pecinaan, Pekojan, Kampung bandan, Kampung Melayu, Kampung Ambon, Kampung Makassar dll.

Gejala penamaan seperti  ini di wilayah Bogor tidak begitu banyak dan hanya dijumpai pada nama Kampung Jawa, Pekojan (daerah Empang), Gangpanjar (di Jalan Sadane).

[]  Admin/Hari

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top
error: Content is protected !!