Ini Prasasti Ciaruteun yang maknanya pesannya tak terpecahkan sampai sekarang.

Misteri Prasasti Ciaruteun di Kabupaten Bogor, Tak Kunjung Terpecahkan

BOGOR-KITA.com – Prasasti tapak gajah atau prasati batu bertulis di Ciaruten Kabupaten Bogor sudah sangat terkenal. Namun, sampai sekarang banyak misteri yang belum terpecahkan terkait batu bertulis ini. Satu pertanyaan adalah, apa makna prasasti itu?

Kontur tanah di sekitar lokasi prasasti berbentuk seperti kuali terbalik. Ada dugaan  di bawahnya terdapat benda-benda purbakala. Saat memacul, petani  sekitar beberapa kali menemukan benda-benda purbakala bernilai sejarah tinggi yang kemudian diserahkan ke Museum Nasional.

Lokasi

Prasasti Ciaruteun terletak sekitar 19 kilometer sebelah barat daya dari Kota Bogor. Situs ini dapat dicapai dengan kendaraan roda empat ataupun roda dua hingga ke lokasi. Dapat menggunakan angkot trayek Bogor-Ciampea-Simpang Lebak Sirna-Ciaruteun Hilir. Mengunakan trayek Bogor-Ciampea berjarak sekitar 45 menit perjalanan.

Lokasi persisnya adalah di Desa Ciaruteun, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Lokasi terletak pada koordinat 106°41’28,5″BT dan 06°31’39,9″ LS dengan ketinggian  320 m di atas permukaan laut.

Area prasasti atau situs dikelilingi oleh tiga sungai, yaitu Sungai Ciaruteun, Sungai Cianten, dan Sungai Cisadane. Konon, sungai yang cukup lebar ini menjadi lalulintas perdagangan pada zamannya.

Tanah di sekitar situs cukup subur dan dimanfaatkan oleh penduduk dengan menanami padi, sayuran, bambu dan tanaman keras lainnya.

Di kawasan ini terdapat tiga buah prasasti, yaitu Prasasti Ciaruteun, Prasasti Kebon Kopi (Tapak Gajah) dan Muara Cianten. Juga terdapat tinggalan megalitik antara lain batu dakon, menhir, batu datar arca megalitik.

Prasasti Ciaruteun diketahui berdasarkan laporan pimpinan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen pada tahun 1863 M. Prasasti  ditemukan di Sungai Ciaruteun, sekitar 100 meter ke arah hilir muara Cisadane.

Menurut informasi ketika terjadi banjir pada tahun 1894 M, prasasti tersebut bergeser sehingga tulisannya berbalik menghadap ke dasar sungai. Pada tahun 1903 M letaknya diperbaiki. Pada tahun 1987 dipindahkan dari tengah Sungai Ciaruteun ke daratan, di atas sungai sekitar 150 meter sebelah utara.

Semula batu prasasti berada di Sungai Ciareteun termasuk daerah Kecamatan Ciampea. Tetapi sejak batu itu diangkat dan dicungkup di Kampung Muara yang terletak di seberangnya,  prasasti masuk dalam Kecamatan Cibungbulang.

Tetapi karena ditemukan pada alur Sungai Ciaruteun, maka prasasti ini dikenal dengan nama Prasasti Ciaruteun.

Misteri

Prasasti ini telah dialih aksara dan diterjemahkan oleh J.Ph. Vogel (1925) The Earliest Sanskrit Inscription of Java, R.M. Ng. Poerbacaraka (1952). Prasasti Ciaruteun ditulis dengan huruf Palawa dalam Bahasa Sangsakerta sebanyak 4 baris masing-masing 8 suku kata. Bunyi bacaannya : vikkrantasy avanip ateh/^rimatah purnnavarmmanah/tarumanagarendrasya/vishnoriva  padadvayam

Terjemahannya, “(Bekas) dua kaki yang seperti kaki Wisnu itu adalah kaki Yang Mulia Sang Purnawarman, raja di negeri Tarumanegara, raja yang gagah berani di dunia.”

Inskripsi tertulis pada sebongkah batu andesit dengan ukuran tinggi 151 cm, diameter atas 72 cm, diameter bawah 134 cm.

Goresan berupa sepasang tapak kaki dan lukisan laba-laba yang dipahatkan di atas huruf. Tulisan terdiri dari 4 baris dituliskan dalam bentuk puisi India dengan irama anus tubuh. Dalam prasasti ini terdapat 2 telapak kaki yang disamakan dengan dengan tapak kaki Dewa Wisnu.

Berdasarkan isi prasasti dapat diketahui tiga hal.

Dari pesan yang tertera pada prasasti ada beberapa fakta yang terungkap tentang kondisi kerajaan Tarumanegara di masa silam.

Pertama, kita mengetahui bahwa kerajaan Tarumanegara pada abad ke 5 Masehi dipimpin oleh seorang raja yang bernama Purnawarman. Karena kegagahan dan keberaniannya, raja Purnawarman berhasil membawa Tarumanegara mencapai kejayaannya. Hal ini didukung oleh isi prasasti peninggalan kerajaan Tarumanegara lainnya seperti prasasti prasasti Jambu, Kebon Kopi, dan prasasti Tugu.

Kedua, kerajaan Tarumanegara bercorak Hindu Wisnu dan sudah memperoleh pengaruh kebudayaan India. Hal ini dibuktikan dengan nama raja yang memiliki akhiran –Warman. Akhiran nama tersebut lazim ditemukan dalam budaya India masa silam.

Ketiga, pahatan gambar telapak kaki yang terdapat pada prasasti menunjukan bahwa wilayah di sekitar sungai Cisadane dulunya merupakan wilayah kekuasaan kerajaan Tarumanegara. Pahatan telapak kaki lazim digunakan sebagai penanda atas kuasa.

Tidak ada tanda-tanda yang menunjuk lokasi keraton. Hanya saja dapat dipastikan, daerah tempat ditemukannya situs termasuk kawasan Tarumanagara. Prasasti ini tidak memuat pertanggalan dan dari bentuk tulisan diperkirakan dibuat pada abad ke-5 M.

Ada dua hal belum terpecahkan dari prasasti ini. Pernah ramai diperdebatkan oleh para ahli, namun belum terpecahkan sampai sekarang.

Hal yang pertama ialah ukiran semacam hiasan yang diduga sebagai huruf, bahkan disebut huruf-ikal.

Kedua adalah sepasang tanda menyerupai “labah-labah” di depan jejak kaki.

Teori atau dugaan yang dilontarkan bermacam-macam. Ada yang menduga sebagai labah-labah lambang kekuasaan yang menguasai raja-raja daerah dengan “jaring-jaring benangnya”. Ada yang menduganya sebagai lambang “matahari kembar” dan ada juga yang menganggapnya sebagai lambang persatuan “surya-candra’ (matahari dan bulan). Tegasnya “huruf ikal” dan tanda “labah-labah” itu masih diliputi rahasia masa silam. [] Admin



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *