Makam salah satu Raja Kerajaan Galuh di Kawali Ciamis

Lebih Dekat Dengan Kejayaan Kerajaan Galuh di Kawali Ciamis

BOGOR-KITA.com – Kerajaan Galuh, sebuah kerajaan besar di Jawa Barat yang berdiri sejak abad ke-7 Kerajaan ini memiliki masa kejayaan panjang, mulai dari Raja Wretikandayun yang berkuasa 612-702 sampai Prabu Cipta Permana yang disebut sebagai raja terakhir yang berlkuasa dari 1595-1618.

Ciamis tidak dapat dipisahkan dengan Kerajaan Galuh. Wilayah ini dahulu memiliki peranan yang sangat penting karena menjadi pusat Kerajaan Galuh. Salah satu lokasi yang pernah menjadi Ibu Kota Kerajaan Galuh adalah Kawali.

Saat ini sisa-sisa peninggalan kejayaan Kerajaan Galuh pada abad ke-14 Masehi bisa dilihat di Situs Astana Gede Kawali. Menariknya, tinggalan arkeologis yang terdapat di situs ini berasal dari tiga budaya yang berbeda, yaitu antara budaya lokal, budaya Hindu dan Islam. Beberapa tinggalan arkeologis yang ada antara lain 6 buah batu prasasti, 3 buah batu menhir dan 11 buah makam.

Seperti apa kejayaan Kerajaan Galuh yang memiliki sejarah panjang itu. Tinggalan-tingalan yang ada di Situs Astana Gede Kawali sedikit banyak dapat memberikan gambaran.

Lokasi

Situs Astana Gede Kawali terletak di Dusun Indrayasa, Kecamatan Kawali, sekitar 21 kilometer dari kota Ciamis ke arah utara. Di dalam situs ini terdapat banyak peninggalan arkeologis.

Situs ini memiliki luas sekitar 5 hektar. Berada di kaki Gunung Sawal, bentang alamnya dikelilingi oleh pepohonan rimbun dan tinggi sehingga memberikan hawa yang sejuk dan aura mistis yang kental.

Di sebelah Selatan dibatasi oleh Sungai Cibulan yang mengalir dari Barat ke Timur. Di sebelah Timur berupa parit kecil dari sungai Cimuntur yang mengalir dari Utara ke Selatan.  Di sebelah Utara, mengalir Sungai Cikadongdong dan sebelah Barat dibatasi oleh Sungai Cigarunggang.

Keadaan lingkungan situs ini merupakan hutan lindung yang ditumbuhi dengan berbagai jenis tumbuhan, tanaman keras dari famili meliceae, lacocarpaceae, euphorbiaceae, sapidanceae dan lain-lain, tanaman palawija, rotan, salak, cengkih dll.

Dari kota Ciamis, Situs ini dapat ditempuh dengan kendaraan, baik motor ataupun mobil, sekitar empat puluh lima menit. Kondisi jalan cukup baik karena sudah diaspal.

Astana Gede

Situs Kawali juga disebut Astana Gede. Penyebutan ini konon karena terdapat sebuah makam yang ukurannya besar, panjang sekali dan berbeda dengan makam-makam lain pada umumnya. Dalam bahasa Sunda, astana berarti makam dan gede berarti besar.

Namun ada juga yang berpendapat karena Situs Astana Gede merupakan tempat dimakamkannya orang-orang besar, atau dalam bahasa Sunda disebut gegeden. Makam tersebut diduga adalah makam Pangeran Usman, yang memerintah pada 1592 – 1643 M. Beliau sudah memeluk agama Islam yang merupakan keturunan dari Kesultanan Cirebon.

Dilihat dari tinggalan budaya yang ada, Astana Gede Kawali merupakan kawasan campuran. Yaitu berasal dari periode prasejarah, klasik dan periode Islam.

Bentuk budaya dari tradisi megalitik ditandai dengan adanya temuan punden berundak, lumpang batu, menhir, yoni kemudian berlanjut secara berangsur-angsur ke tradisi budaya sejarah (klasik) yang ditandai dengan adanya prasasti, kemudian berlanjut ke tradisi Islam yang ditandai dengan adanya makam kuna.

Pada masanya, Kawali merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Galuh dengan raja-raja yang bertahta yaitu Prabu Ajiguna Linggawisesa, yang dikenal dengan sebutan Sang Lumahing Kiding, Prabu Ragamulya atau Aki Kolot, Prabu Linggabuwana yang gugur pada peristiwa bubat, Rahyang Niskala Wastukancana yang meninggalkan beberapa prasasti di Astana Gede (Situs Kawali) dan Dewa Niskala, ayah dari Prabu Jayadewata yang selanjutnya memindahkan pusat kerajaan ke Bogor.

Destinasi Wisata

Situs Kawali kini menjadi salah satu destinasi wisata budaya dan sejarah penting di Jabar. Sebagai destinasi wisata budaya dan wisata sejarah, situs ini memang menarik dikunjungi.

Sebab banyak tinggalan budaya masa lampau yang sudah diteliti oleh para ilmuwan seperti ahli arkeologi, ahli filologi sejarawan.

Mereka datang untuk meneliti mulai dari jenis batu-batuan, tulisan dan bahasanya, atau temuan-temuan lain yang berhasil digali terutama oleh para ahli arkeologi.  Penelitian di Astana Gede mulai dilakukan pada zaman Belanda, tetapi lebih menitikberatkan pada prasasti.

Orang Eropa yang pertama kali tertarik pada prasasti di Situs Kawali ini adalah Thomas Stamford Raffles (1811-1816), terbukti dia menyebut-nyebutnya dalam dalam bukunya History of Java. Namun, prasasti itu baru dibaca secara serius oleh Friederich pada tahun 1855.

Selanjutnya berturut-turut  K.F. Holle pada tahun 1867 dan  J Noorduijn pada tahun 1988. Dua orang filolog Indonesia yang juga membaca ulang prasasti ini adalah Saleh Danasasmita (1984) dan Atja (1990). Prasasti keenam ditemukan tahun 1995 oleh Juru Pelihara Astana Gede bernama Sopar.

Salah satu dari prasasti tersebut bertuliskan “Mahayuna Ayuna Kadatuan” yang dijadikan sebagai motto juang Kabupaten Ciamis. [] Admin/dari berbagai sumber



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *