Situs Cibalay di Tenjolaya, Kabupaten Bogor

Situs Cibalay di Kabupaten Bogor Setara dengan Situs Gunung Padang di Cianjur

BOGOR-KITA.com, TENJOLAYA – Tiba-tiba Keluarga Mahasiswa Arkeolog Universitas Indonesia, Depok,  hendak melakukan bakti sosial di kawasan Situs Cibalay, di tenjolaya, Kabupaten Bogor. Ini mengingatkan publik kabupaten Bogor pada situs yang sudah lama tak dibicarakan. Padahal situs megalitikum itu layak diangkat kepermukaan karena relevan dan sangat mendukung langkah Bupati Bogor Ade Yasin yang membranding Kabupaten Bogor sebagai The City of Sport and Tourisme

Seberapa populerkah Situs Cibalay di kalangan masyarakat Indonesia, atau masyarakat Jawa Barat atau di kalangan masyarakat Kabupaten Bogor? Adakah popularitasnya setingkat dengan situs Gunung Padang di Ciajur?

Harus diakui popularitas Situs Gunung Padang yang berusia 10.000 tahun jaun lebih populer ketimbang Situs Cibalay.

Status Situs Gunung Padang sama dengan Situs Cibalay. Keduanya merupakan situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum di Jawa Barat.

Situs Gunung Padang tepatnya berada di perbatasan Dusun Gunung Padang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur.

Lokasinya 20 kilometer dari persimpangan kota kecamatan Warungkondang, di jalan antara Kota Kabupaten Cianjur dan Sukabumi. Luas kompleks utamanya kurang lebih 900 meter persegi, terletak pada ketinggian 885 m dpl, dan areal situs ini sekitar 3 hektar, menjadikannya sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara.

Sedang Situs Cibalay berada di Kampung Cibalay, Desa Tapos 1, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor.

Situs Cibalay dilaporkan pertama kali oleh De Wilde(1830), kemudian Junghuhn (1844) lalu Muller (1856) dan yang terakhir oleh N.J. Krom dalam “rapporten Oudheidkundigde Dienst” tahun 1914.

Sedang Situs Gunung Padang telah dicatat pada zaman penjajahan Belanda oleh NJ Krom sejak 1914.

Nsmun, popularitas Situs Gunung Padang meningkat ketika Susilo Bambang Yudhoyono (ketika itu Presiden RI) hendak  mengekskavasi situs itu. Arkeolog dari Universitas Indonesia juga sudah turun ke lokasi untuk melakukan  penelitian.

Rencana ekskavasi itu memang gagal. Namun beritanya yang santer di media massa membuat penulis asing menawarkan diri berkunjung dan menulis secara gratis tentang Gunung Padang yang penelitiannya sudah dilakukan oleh sejumkah lembaga penelitian internasional itu.

Tidak kurang peneliti dari Universitas Indonesaia, saat diundang menjadi pembicara di forum arkeolog dunia di Korea Selatan menjadi primadona.

Ali Akbar, arkeolog dari Universitas Indonesia, peneliti Gunung Padang itu, sengaja ditempatkan berbicara di penghujung acara agar arkeolog yang lain tidak meninggalkan tempat.

Bagaimana dengan Situs Cibalay? Belum pernah ada penelitian atau peninjauan secara serius, baik oleh Bupati Bogor, apalagi dari pemerintah pusat.

Sampai saat ini bahkan tidak terdengar rencana apa-apa terhadap situs yang mengadung nilai sejarah tinggi itu.

Kondisi Situs Cibalay dikhabarkan memang cukup terawat karena berada di kawasan hutan lindung.  

Hanya saja, akses jalan menuju lokasi sangat buruk. Meski diakui warga sekitar ada banyak wisatawan lokal maupun mancanegara yang mendatangi situs tersebut, saat musim hujan, akses jalan sangat sulit dilalui. Pengunjung hanya bisa memarkir kendaraannya sekitar 2 kilometer dari lokasi situs.

Kondisi jalannya pun sangat buruk, sebagian dari susunan batu, sebagian lagi jalan setapak mirip pematang sawah. Saat musim kemarau, trek yang naik turun tidak begitu masalah bagi pengunjung. Namun, saat musim hujan, trek menjadi becek, licin dan berbahaya, nyaris tidak bisa dilalui.

Padahal kandungan Situs Cibalay diyakini tidak kalah dengan kandungan Situs Gunung Padang.

Menurut mantan Wakil Bupati Bogor Karyawan Faturahman, ditemukan tiga punden berundak di tiga titik di areal tak jauh dari Situs Cibalay.

Saat ditemukan kondisinya dalam keadaan terhalang oleh semak belukar, temasuk beberapa menhir dan batu dolmen.

Punden tersebut terbuat dari bahan puslite dan bahan balaran. Temuan punden berundak yang terletak di sebelah selatan situs Cibalay itu dipastikan bekas anak tangga menuju area peribadatan suci pada masa zaman purba megalitik.

Tidak hanya itu, di area tersebut dipastikan terdapat bekas hunian pemukiman pada masa megalitikum.

“Karena cakupannya begitu sangat luas, jadi pasti masih banyak lagi situs-situs lainnya di areal tersebut,” imbuh Karyawan Faturahman. [] Petrus Barus



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *