Laporan Utama

Menelusuri Jejak Pemikiran Yudi Latif: Substansi Gotong Royong Dalam Pancasila

Oleh: Faisal Wibowo

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Artikel ini merupakan salah satu puzzle pemikiran seorang Yudi Latif, Intelektual Muda Indonesia, seorang pemikir kebangsaan, seorang cendikiawan muda dengan karya magnum opusnya Negara Paripurna; Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila (2011).

Artikel ini ditulis dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2021. Walaupun menurut Yudi Latif, idealnya hari lahir Pancasila itu bukan 1 Juni melainkan 18 Agustus. Jika dirunut, dalam Negara Paripurna, Yudi Latif mengklasifikasikan fase kelahiran Pancasila melalui tiga tahap: fase pembuahan, fase perumusan, dan fase pengesahan. Fase pembuahan embrionya mulai dari peran atau kiprah Perhimpunan Indonesia di Belanda dengan dua tokoh yang terkemuka yaitu Sutomo dan Bung Hatta, tahun 1924. Fase perumusan pada 29 Mei – 1 Juni 1945 dalam Sidang BPUPKI. Dan terakhir fase pengesahan pada 18 Agustus 1945.

Berpijak dari dimensi historis, saat Bung Karno berpidato pada 1 Juni 1945 di hadapan peserta sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), saat itu Bung Karno menyatakan secara jelas tentang dasar negara Indonesia, yaitu Pancasila dengan inti Pancasila yaitu gotong royong. Gotong royong dalam benak pemikiran Bung Karno adalah pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjuangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Itulah Gotong Royong! Prinsip Gotong Royong diantara yang kaya dan yang tidak kaya, antara yang Islam dan yang Kristen, antara yang bukan Indonesia tulen dengan peranakan yang menjadi bangsa Indonesia.

Bung Karno mengemukakan lima dasar atau lima azas yang diharapkan menjadi pondasi berdirinya Negara Indonesia, kemudian berujar di hadapan peserta sidang, “Bilangan lima itu, saya boleh peras sehingga tinggal 3 saja: sosio-nationalisme, sosio-demokratie, dan ketuhanan. Kalau Tuan senang kepada simbolik tiga, ambillah yang tiga ini. Tetapi barangkali tidak semua Tuan-tuan senang kepada Trisila ini, dan minta satu, satu dasar saja? Baiklah, saya jadikan satu, saya kumpulkan lagi menjadi satu. Apakah yang satu itu? Gotong Royong.

Baca juga  Gubernur Jabar: Pupuk Gotong Royong Melalui Silaturahim

Kata seorang Filsuf Jerman bernama Immanuel Kant (1724 – 1804) dikatakan bahwa dalam diri setiap manusia terdapat “Radical Evil”, yakni sebuah ungkapan yang menjelaskan bahwa secara alami manusia memiliki kecenderungan untuk menjadi seorang penjahat, hidup hanya untuk memanfaatkan orang lain, dan melihat orang lain hanya sebagai alat untuk memperoleh kepentingan pribadi, bukan sebagai subjek yang setara, dan memiliki misi dan cita-cita bersama untuk mencapai kemakmuran dan kemuliaan. Bagi Kant, orang yang bergaul atau berinteraksi hanya bertujuan untuk memanfaatkan orang lain demi ambisi dan tujuan pribadi, maka tak ubahnya seperti binatang. Oleh karena itu, kita punya kewajiban moral agar insting kebinatangan dalam diri manusia bisa ditekan dan dikendalikan. Salah satu cara nya yaitu dengan bergotong royong. Gotong royong ini bisa dimaknai secara positif yaitu berjeraring, berorganisasi, bekerja, berkelompok dengan tujuan saling memberikan manfaat satu sama lain. Hanya dengan bergotong royong kita mampu mengembangkan kehidupan yang lebih baik.

Aristoteles (384 SM – 322 SM) pernah mengatakan, sesuatu dikatakan baik apabila sesuai dengan tujuannya, jam yang baik akan menunjukkan ketepatan waktu, anjing yang baik akan melindungi tuannya, begitupun manusia yang baik adalah manusia yang saling memberikan manfaat, mengembangkan potensi kemanusiaannya, mengembangkan penalarannya, memperkuat keyakinannya, dan menyemai nilai nilai kebaikan di dalam kehidupannya, sehingga mampu memperkuat jalinan persaudaraan antar manusia. Maka, kata kuncinya adalah gotong royong. Dengan demikian, kita dimungkinkan untuk mengembangkan persaudaraan yang universal melampaui batas tribalisme, warna kulit, agama, ras, suku, budaya, dan lain-lain. Goyong royong adalah puncak evolusi tertinggi di dalam cara manusia bergerak dari egoisme simpanse, terbatas pada survival biologis, dan sosiabilitas komunalisme menuju persaudaraan manusia dan humanisme universal yang dilandasi dengan nalar, pencerahan, bening moral dan keyakinan bahwa manusia berasal dari asal usul yang sama, apapun warna kulitnya, tulangnya sama putih darahnnya sama merah.

Baca juga  Sambut HUT RI, Warga Tanah Sareal Kota Bogor Gotong Royong Percantik Trotoar

Dalam mengembangkan watak gotong royong, teringat apa yang dikatakan oleh Emile Durkheim (1858 – 1917), bahwa manusia sebagai homo sapiens bersifat homoduplex, artinya manusia memiliki dualitas makna, yaitu sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Lebih jauh manusia hidup di dua dimensi. Pertama, dimensi profan, kedua dimensi sakral. Di dimensi profan, manusia bergaul dan berinteraksi sehari-hari antar individu, baik di pasar, di kantor, di rumah ibadah dan di semua tempat dengan memegang kendali kedaulatan dirinya, tidak kehilangan otonomi dan kediriannya. Namun, pada momentum tertentu kita harus “switch”, dari dimensi individu ke dalam satu dimensi kelompok. Misalnya, jika saya sebagai fans Arsenal FC, saat masih di dalam rumah masih dalam dimensi individu, namun saat keluar rumah dan masuk ke dalam stadion, bergabung dengan fans yang lain, menyanyikan yel-yel, memakai beragam atribut, melakukan ritual-ritual tertentu, maka dimensi identitas kita sebagai individu seketika itu lenyap, lalu kemudian yang muncul adalah dimensi identitas kelompok. Dengan demikian, momen saat kedirian/keindividuan kita lenyap, hanyut dalam satu emosi dalam dimensi kelompok maka saat itulah kita berada di dimensi sakral.

Baca juga  Menko PMK : Pembangunan Nasional Berlandaskan Gotong Royong

Konsepsi gotong royong dalam ruang lingkup Pancasila sebagai sumber nilai, dapat dipahami bahwa kita harus mampu keluar dari Kebhinekaan lalu masuk menuju ke Tunggalan, disinilah “Bhineka Tunggal Ika”. Artinya, kita berangkat dari keragaman individu dan keragaman kelompok, kemudian kita “switch” masuk ke dalam dimensi yang lebih besar dan lebih sakral yaitu bersatu dalam satu entitas bangsa Indonesia. Dalam menjalani kehidupan berbangsa, kita harus pandai memainkan peran dan posisi, banyak plesetan yang mengatakan posisi menentukan prestasi, begitupun dalam kehidupan berbangsa. Memainkan peran disini maksudnya adalah dari Ketunggalan ke Kebhinekaan, dari penyatuan ke diferensiasi, dari konvergensi ke divergensi, karena ketika kita hidup di dalam satu entitas kelompok terlalu lama, maka dikhawatirkan kedaulatan kita akan hilang otonominya. Ketika kedaulatan individu, atau otonomi diri hilang karena terlalu hanyut dalam emosi kelompok dan romantisme kolektif, maka hal ini bisa menumbuhkan benih-benih ultranasionalisme, ultrakelompok, dan fanatisme kelompok, bahkan bisa menjadi bibit fasisme, dimana semua harus diseragamkan dan disamakan, artinya begitu melihat kelompok yang berbeda, selalu dipandang sebagai lawan yang harus dihabisi, inilah yang bisa melahirkan atavisme, demi identitas kelompok, harus ada identitas kelompok lain yang harus disingkirkan. Ini jangan sampai terjadi.

Oleh karena itu, substansi kegotongroyongan kita di dalam Pancasila tidak ingin menghabisi dan menghancurkan keragaman, baik keragaman identitas individu manusia maupun keragaman identitas kelompok. Justru dengan jalan gotong royong kita mempertahankan kearagaman Indonesia. Maka atas dasar inilah kita memiliki satu jargon, slogan, pandangan hidup yang sangat Powerfull, yaitu “Bhineka Tunggal Ika”.

Selamat Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2021, mari kita perkuat Gotong Royong! []

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top