Kegiatan di Kampus Al Mubarok Bikin Galau Muspika Kemang

Ilustrasi

BOGOR-KITA.com – Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Kecamatan Kemang, galau dengan Kampus Al Mubarok yang dicap sebagai pusat aliran Ahmadiyah terbesar se-Asia Tenggara. Pasalnya, Kampus Al Mubarok  masih melakukan kegiatan tanpa berkoordinasi dengan muspika setempat. Tangal 31 Oktober 2014 lalu, Al Mubarok yang beralamat di Jalan Raya Parung, Desa Pondok Udik, Kecamatan Kemang ini, menggelar pemilihan ketua kaum ibu se-Indonesia.

“Kami galau karena kegiatan itu akan memicu reaksi masyarakat,” kata Camat Kemang Wahyu Hadi Setiono di ruang kerja, Selasa (26/11).

Akibat kegiatan itu, camat mengaku dipanggil oleh Wakil Bupati Nurhayanti, Kamis (20/11) lalu. “Danramil Kemang dan Kapolsek Kemang juga merasa kecolongan dengan kegiatan Al Mubarok itu,” kata  Hadi Setiono.

Wahyu Hadi mengimbau agar Al Mubarok menghentikan semua kegiatannya, karena akan memicu gejolak di masyarakat seperti terjadi tahun 2005 lalu. “Selama 9 tahun ini wilayah Kemang aman dari isu Ahmadiyah, saya berharap kegiatan tersebut dihentikan,” ujar Wahyu Hadi.

Camat mengemukakan, saat kegiatan itu berlangsung Kapolres datang ke lokasi. Tapi bukan memberikan izin kegiatan di Al Mubarok. Kapolres justru mengecek dan langsung menurunkan personel dan memerintah Kapolsek Kemang guna mencegah terjadinya keributan.

“Al Mubarok sudah melanggar surat pernyataan muspida dan surat pernyataan tiga menteri. Berdasarkan surat itu, Al Mubarok seharusnya ditutup,” katanya.

Sementara, Kapolsek Kemang, Kompol Pramono DA membenarkan adanya kegiatan di Al Mubarok yang dianggap sudah menyalahi aturan. Dirinya pun sama sekali tidak pernah diajak berunding terkait kegiatan yang ada di kampus tersebut

“Rencanya hari ini Al Mubarok akan dipanggil  ke Cibinong untuk bertemu dengan Wakil Bupati.  Muspika, muspida dan pihak terkiat seperti MUI dan ormas akan hadir,” ungkapnya

Terpisah, Danramil Kemang, Kapten Infantri Safrudin menegaskan, kegiatan yang berbau sesat harus dimonitor. “Saya bingung dengan mereka, masih saja berani melakukan kegiatan di Al Mubarok, padahal sudah jelas hal itu bisa memancing kisruh di masyarakat,” kata Safrudin.

Kepala Desa Pondok Udik M. Sutisna mengatakan, jumlah pengikut Ahmadiyah di wilayahnya sulit terdeteksi serta sulit membedakan mana pengikut Ahmadiyah dan mana yang bukan.

“Mereka seperti mahasiswa jadi sangat sulit dikenali. Kalau mereka terus melakukan kegiatan, saya khawatir terjadi lagi kasus seperti tahun 2005. Saya berharap semua pihak turut memperhatikan masalah ini,” tandasnya. [] Harian PAKAR/Admin



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *