Cisadane Tercemar E-coli, Warga Pabuaran Terserang ISPA

Ilustrasi

BOGOR-KITA.com  – Bakteri e-coli (escherichia coli) yang mencemari Kali Cisadane kini menjadi momok yang terus menghantui warga Kampung Keramat, Desa Paburan, Kecamatan Kemang. Setiap hari ada saja warga yang datang berobat ke puskesmas dengan keluhan sama, yakni mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Selain ISPA, sejumlah warga juga mengeluh diare dan penyakit kulit.

Data yang diperoleh PAKAR dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas Kemang, setiap minggu sedikitnya 10 warga kampung tersebut datang berobat ke puskesmas mengeluh ISPA. Beberapa di antaranya terpaksa dilarikan ke sumah sakit besar karena puskesmas tidak mampu menangani.

“Rata-rata 10 orang yang datang berobat mengeluh IPSA setiap minggunya. Beberapa di antaranya harus dilarikan ke rumah sakit  besar. Selebihnya terindikasi terkena penyakit kulit seperti gatal-gatal dan diare,” ujar Kepala UPT Puskesmas Kemang, dr Syahrudin kepada PAKAR di ruang kerjanya, Selasa (25/11).

Syahrudin memastikan, penyakit tersebut disebabkan kebiasaan warga Kampung Keramat menggunakan air Kali Cisadane untuk kebutuhan sehari-hari, seperti mandi dan cuci.

Air kali yang mengalir dari wilayah Puncak melewati sebagian wilayah Kota Bogor hingga Tangerang tersebut, kata Syahruddin, dipastikan sudah tercemar bakteri e-coli. “Penggunaan air Kali Cisadane secara terus menerus membuat kondisi fisik warga terus menurun,” papar Syahruddin.

Syahruddin  berani memastikan air Kali Cisadani tercemar e-coli, setelah merujuk hasil uji labotarium Badan Pengelolaan dan Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bogor tahun 2009, yang menunjukkan kandungan bakteri e-coli di dalam air Kali Cisadane sangat tinggi, meski jumlahnya fluktuatif.  Sampel penelitian diambil dari sejumlah titik, mulai dari Cisadane hulu di Rancamaya, Cisadane tengah di Empang, dan Cisadane hIlir di Karya Bakti. Hasilnya, kadar e-coli di Cisadane hulu sebesar 18 ribu jam/100 milimeter, Cisadane tengah sebesar 60 ribu jam/100 milimeter, dan Cisadane hilir sebesar 90 ribu jam/100 milimeter.  Dengan batas baku mutu yang diterapkan hanya 5.000 Jam/100 milimeter. Pencemaran tersebut diakibatkan kontaminasi minyak dan lemak, amoniak, manan, besi, serta nitrat dan merkuri. Kondisi air makin parah, imbuh  Syahruddin, karena kebiasaan warga membuang sampah secara sembarangan ke kali.

Penyuluhan

Syahruddin mengemukakan, UPT Puskesmas Kemang sudah memberikan penyuluhan kepada warga Kampung Keramat soal tercemarnya air Kali Cisadane, dan potensi bahaya yang ditimbulkannya.  “Satu, dua sampai tiga hari warga melaksanakannya, tetapi satu minggu kemudian mereka kembali menggunakan air kali itu,” kata Syahruddin.

Sejumlah warga yang ditemui PAKAR mengakui menggunakan air Kali Cisadane secara rutin.

Irah (55), Ibu Rumah Tangga, warga Kampung Keramat mengaku, sudah puluhan tahun memanfaatkan air Kali Cisadane untuk keperluan cuci dan mandi. Alasannya, air sumur yang biasa digunakan kualitasnya kurang bagus. Warga lainnya mengemukakan hal sama. Mereka bahkan mengemukakan menggunakan air Kali Cisadane sejak subuh hingga tengah hari.

Untuk menghentikan kebiasaan buruk warga, sekaligus menghentikan jatuhnya korban lebih banyak, Syahruddin berharap Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor turun tangan berbuat sesuatu, antara lain menggelar penyuluhan sistematis dan intensif untuk menyosialisasikan perilaku hidup bersih dan sehat. “Dinas Kesehatan harus dan sudah saatnya turun ke lapangan dan berbuat sesuatu,” pungkas Syahruddin. [] Harian PAKAR/Admin



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *