Ade Yasin

Jonggol Not For Sale

Oleh: Hj. Ade Yasin, S.H., M.H
(Bupati Bogor 2018-2023)

BOGOR-KITA.com – Setiap menjelang pemilihan presiden (Pilpres), salah satu isu panas yang selalu “digoreng” adalah sentimen anti asing. Gejala “xenophobia” ini pada umumnya terkait dengan penguasaan sumber daya alam Indonesia.

Seperti baru-baru ini. Tiba-tiba saja muncul informasi wilayah Jonggol akan “dijual” ke Republik Rakyat China (RRC). Sejumlah media memberitakannya. Termasuk pula di media sosial. Padahal belum ada yang jelas. Informasinya mendekati hoaks.

Informasi tersebut berawal dari wacana pemerintah pusat, dalam hal ini Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI yang ingin membangun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) bekerja sama dengan Tiongkok. Informasi itu mencuat sementara saya sendiri belum tahu apa-apa.

Sikap saya sendiri sebagai kepala pemerintahan di Kabupaten Bogor sangat jelas. Saya tidak alergi dengan investasi. Malah saya membuka “karpet hijau”. Investasi adalah sebuah keniscayaan yang harus didukung untuk menggerakan roda ekonomi. Asal sesuai aturan dan tidak melanggar.

Namun makna “investasi” beda jauh dengan “dijual”. Jonggol “Not For Sale”. Apalagi untuk orang asing. Dan memang orang asing tidak diperkenankan untuk memiliki tanah. Itu ada aturan mainnya di negara ini. Kalaupun ada itu berupa investasi. Negara asing diperkenankan untuk menanamkan modalnya. Di Jonggol. Di Kabupaten Bogor. Dan bahkan di Indonesia. Semua ada aturannya. Tidak sembarangan. Yang jelas tidak boleh merugikan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kembali lagi soal investasi asing. Data membuktikan justru sebaliknya. Catatan sejumlah pakar ekonom menyatakan “sentuhan” asing di Indonesia sebenarnya sangat kecil. Investasi di Indonesia tidak pernah didominasi oleh asing. Penanaman modal langsung oleh asing (direct foreign investment) hanya sekitar 5 persen dari keseluruhan pembentukan modal tetap bruto (gross fixed capital formation/GFCF).

Bandingkan dengan Malaysia yang FDI terhadap GFCF-nya sekitar tiga kali lipat Indonesia. Kemudian Vietnam–yang notabene negara Komunis–empat kali lipat Indonesia pada periode 2011-2016. Filipina yang juga relatif kurang diminati asing pun lebih besar dari Indonesia. Peranan asing dalam pembentukan modal tetap bruto Indonesia berada di bawah rerata Asia. Bahkan terhadap Bolivia yang di bawah rezim sosialis pimpinan Presiden Juan Evo Morales Ayma, Indonesia tetap jauh lebih rendah (Faisal Basri, 2018).

Oleh karena itu, Indonesia ini justru kurang sentuhan asing. Masih sangat sedikit investor asing yang ingin membuat pabriknya di Indonesia. Ini mungkin akibat gembar-gembor “gorengan” tadi. Sentimen anti asing yang selalu marak jelang kampanye presiden. Hal ini mengakibatkan investor asing berpikir ulang untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Padahal investasi asing sangat dibutuhkan untuk kemajuan bangsa ini. Sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditolak di negara manapun.

Termasuk pula di Jonggol. Saya justru mengundang investor lokal maupun asing untuk berinvestasi. Asal bidangnya di pariwisata dan pertanian. Sektor pariwisata dan pertanian tidak akan merusak lingkungan. Justru untuk meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat Jonggol dan sekitarnya. Investasi ini adalah jalan keluarnya. Jonggol dan wilayah timur di Kabupaten Bogor ini menyimpan potensi alam yang luar biasa. Setidaknya, ada 10 spot wisata keren di daerah Jonggol dan sekitarnya yang bisa dikembangkan dengan investasi.

Misalnya, buat yang suka tantangan, mampirlah ke Gunung Batu. Pacu adrenalinmu dengan mendaki gunung setinggi 875 mdpl ini. Viewnya begitu mempesona. Gunung Batu terletak wilayah Desa Sukaharja, Sukamakmur. Gunung ini relatif mudah didaki karena ketinggiannya hanya 875 mdpl. Untuk melihat keindahan pemandangan di puncaknya, usahakan datang saat cuaca cerah.

Jangan lupa bawa air minum karena banyak trek yang menanjak dan melelahkan. Atau buat yang cuma ingin main-main air, Curug Cipamingkis adalah tempatnya. Arusnya tidak terlalu deras. Di sana juga ada tempat kemping yang asik.

Curug Cipamingkis berada di bagian utara Desa Wargajaya, Sukamakmur. Ketinggian air terjun ini hanya sekitar 15 meter, cocok buat yang ingin bersantai sambil bermain-main air. Spot wisata yang satu ini juga dilengkapi dengan area kemping yang cukup luas dan dikelilingi hutan pinus.

Kemudian ada juga Curug Ciherang. Curug ini selalu ramai diserbu pengunjung setiap hari libur. Di antara air terjun lain di wilayah Jonggol, Curug Ciherang adalah spot wisata yang paling ramai dikunjungi . Air terjun ini hanya berjarak 1 km sebelah barat Curug Cipamingkis. Sementara jika ingin melihat rusa dari dekat, datanglah ke Penangkaran Rusa Cariu. Bukan cuma bisa melihat, tapi juga bisa memberi makan mereka dan foto-foto bareng.

Penangkaran Rusa berada di Desa Buanajaya, Tanjungsari. Spot wisata ini sangat mudah dijangkau karena letaknya berada tepat di pinggir jalan raya Jonggol-Cianjur. Datanglah pada jam makan para rusa, sekitar jam 07.00-10.00 atau 15.00-17.00, supaya bisa berinteraksi langsung dengan mereka.

Selain itu, ada Heaven Memorial Park. Yang satu ini bukan kuburan biasa. Tapi punya desain bangunan yang cantik, pemandangan keren, dan yang pasti anti horor. Kemudian ada Situ Rawa Gede lokasinya sekitar 1 km dari Curug Ciherang.

Danau yang dikelilingi perbukitan ini cocok buat yang cari suasana hening buat merenung. Letak Situ Rawa Gede cuma 1 km arah utara Curug Ciherang. Di sekitar Jonggol juga ada air terjun Curug Country. Bentuknya mirip air terjun niagara di Amerika. Selain itu ada juga Curug Arca dan Curug Cibeureum. Di sini kita bisa berendam di bawah pancuran air terjun setinggi 30 meter.

Di bagian selatan Jonggol juga ada Hutan Pinus Cipamingkis yang bernuansa mistis. Pemandangannya mirip kayak hutan-hutan di film Twilight. Kalau pas musim panas pasti akan lebih keren. Nah tempat-tempat wisata tersebut semua bisa dikembangkan dengan investasi. Agar bernilai dan lebih ramah wisatawan.

Sebab jika mengandalkan APBD Kabupaten Bogor tentu tidak akan maksimal. Pengusaha dan masyarakat perlu bersinergi membantu pemerintah dalam hal ini. Roda-roda ekonomi juga harus bergerak dari pedesaan.

Tapi sekali lagi. Investasi bukan berarti wilayah Jonggol dan sekitarnya “dijual”. Makna “dijual” itu sungguh destruktif di tengah masyarakat. Hanya menimbulkan kegaduhan jelang Pilpres dan Pileg. Jadi mari kita jaga kondusifitas. Ayo kita dukung investasi untuk mewujudkan Kabupaten Bogor termaju, nyaman, berkeadaban. []



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *