Pasar hewan di Desa Jonggol, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor.

Pasar Hewan Jonggol Sudah Ada Sejak 1969

BOGOR-KITA.com – Jonggol, sebuah kecamatan di Kabupaten Bogor. Daerah ini tidak hanya terkenal karena pernah menjadi calon ibukota negara, dan belakangan diberitakan akan menjadi kawasan ekonomi khusus, atau alamnya yang indah, tetapi juga terkenal karena karena memiliki pasar hewan yang konon terbesar di Jawa Barat setelah pasar hewan di Purwakarta.

Seperti apa pasar hewan Jonggol? Tak hanya dari wilayah Bogor,  penjual dan pembeli di pasar hewan Jonggol berasal dari Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bekasi, Banten, bahkan ada yang dari Lampung.

Pasar hewan ini berdiri di atas tanah pribadi milik H. Rusydi Rusuh (Alm) atas permintaan para pedagang. Beroperasi sejak 1969, pasar hewan Jonggol mendapat ijin resmi dari pemerintah daerah tahun 1983. Pasar hewan ini ramai setiap hari Kamis. Sejak matahari terbangun di ufuk timur, para pedagang sudah mulai bergeliat berdatangan memenuhi pasar.

Walau tak begitu luas, pasar hewan ini selalu padat dipenuhi kerumunan hewan mulai dari kambing, domba, sapi dan kerbau berbaur dengan para penjual dan pembeli. Hampir tak ada ruang kosong di antara kerumunan itu. Teriknya mentari pagi tak membubarkan mereka yang sedari subuh berharap peruntungan dagangannya habis terjual dan pembeli puas mendapatkan yang dicari.

Taram, pria setengah baya itu jauh datang dari Lumajang, Jawa Timur dengan membawa 40 ekor sapi,  30 ekor pertama laku terjual di pasar hewan Purwakarta, kemudian sisanya ia bawa ke pasar hewan Jonggol.

“Seminggu saya tidak pulang. Senin saya jual di Purwakarta, hari Kamis sisanya saya jual di sini (Jonggol),” ungkap pria yang meneruskan usaha keluarganya sejak 2001 saat ditemui belum lama ini.

Taram, Pedagang sapi asal Lumajang Jawa Timur Agan, pedagang kambing asal Cibarusah, Bekasi

Berbeda dengan Taram yang menjual sapi milik sendiri, Agan kakek kelahiran tahun 39 ini menjualkan kambing milik orang lain. Di usianya yang menginjak 76 tahun, kakek Agan masih segar bugar bergelut dengan pedagang lain menjajakan kambing jualannya.

“Saya jualan kambing mulai tahun 65, awalnya di Cibarusah. Tahun 70 baru pindah ke sini.” Kata kakek asal Cibarusah, Bekasi.

Meski menyandang salah satu pasar hewan terbesar, pasar ini masih sangat tradisional. Hanya ada tanah lapang, kandang sapi yang sederhana, dan warung-warung semi permanen. Jika turun hujan, tanah becek tak dapat dihindari.

Namun, itu semua tak menyurutkan para pedagang dan pembeli untuk tetap datang bertransaksi. Selain Kamis, pasar hewan ini juga ramai pada hari Senin. Bedanya, jika senin hanya kambing saja. Walau namanya pasar hewan, tapi di sekitarnya ada juga yang berjualan baju, sayuran, ikan asin, hingga tukang cukur. [] Sri Mulyawati



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *