Bioflok

Budidaya Ikan Lele Melalui Teknologi Bioflok Jadi Bisnis Potensial

BOGOR-KITA.com, DRAMAGA – Ikan lele merupakan jenis ikan air tawar yang berasal dari Afrika yang kaya akan protein yaitu sekitar 18,7 g per 100 g (Astwan ,2008), Beberapa spesies ikan lele yang ada di Indonesia diantaranya : Clarias melanoderma, Clarias nieuhofii, Clarias teijsmanii, Clarias macrochepalus, Clarias batrachus dan Clarias leiacanthus (Surya Gunawan, 2009).

Jenis komoditas aquakultur berair tenang serta berlendir, licin dan berkumis ini begitu populer dan banyak dibudidayakan diberbagai daerah di Indonesia. Ikan yang memiliki sebutan Catfish (Lincah dan Kuat) memiliki permintaan pasar tinggi akan konsumsi daging ikan lele,hal ini sesuai dengan data Produksi Nasional dalam kurung waktu lima tahun terakhir (2011-2015) menunjukan kenaikan produksi sebesar 21,31 % per tahun,dimana produksi lele nasional pada 2011 sebesar 337.557 ton dan di tahun 2015 mengalami kenaikan menjadi 722.623 ton. Ini menyebabkan usaha Budidaya ikan lele begitu menjamur di seluruh provinsi di Indonesia.

Menurut Tati, S.P dari Direktorat Jenderal Perikanan Budi Daya, Departemen Kelautan dan Perikanan, peternak pemula lele pada tahun 2008 mencapai 637 kelompok dengan anggota 6.200 peternak. Penyebarannya tidak terbatas pada daerah daerah di atas saja, melainkan sampai ke daerah Nusa Tenggara Barat dan Bali, serta Nusa Tenggara Timur. Namun, budidaya ikan lele memerlukan banyak sekali pakan karena ikan lele merupakan ikan air tawar yang rakus terhadap makanan sehingga ini menjadi problem utama dalam pembudidayaan ikan lele karena biaya pakan berupa pellet itu mahal,sehingga perlu solusi cara budidaya. Oleh karena itu, sekarang ini tren budidaya lele melalui teknologi bioflok merupakan solusinya bagi pembudidaya lele.

Teknologi bioflok adalah teknologi yang memanfaatkan aktivitas mikroorganisme yang membentuk flok. Alasan utama budidaya lele melalui teknologi bioflok adalah sedikit pergantian air (efisien dalam penggunaan air), tidak tergantung sinar matahari, padat tebar lebih tinggi (bisa mencapai 3.000 ekor/m3), produktivitas tinggi, efisien pakan (FCR bisa mencapai 0,7), efisien dalam pemanfaatan lahan, membuang limbah lebih sedikit dan ramah lingkungan. Budidaya ikan lele melalui Teknologi bioflok yaitu memperbanyak bakteri/mikroba yang menguntungkan dalam media budidaya ikan, sehingga dapat memperbaiki dan menjaga kestabilan mutu air, menekan senyawa beracun seperti amoniak, menekan perkembangan bakteri yang merugikan (bersifat pathogen) sehingga ikan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik (Suprapto, 2013).

Sebagai contoh yaitu Ibu Titi selaku ibu kader di Desa Kembang Kuning, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, sekaligus Pembudidaya Lele melalui teknologi bioflok. Beliau telah melakukan budidaya lele jenis Sangkuriang (Clarias sp.) dan dumbo melalui teknologi bioflok sudah 5 tahun, menurut beliau budidaya melalui teknologi bioflok ini sangatlah menguntungkan karena menghasilkan lele yang melimpah, dari segi  pemberian pakannya yaitu pellet hanya dilalukukan setiap 3 hari sekali yaitu pada pukul 17.00 WIB. Manggunakan pasokan air yang sedikit karena untuk proses penggantiannya dilakukan hanya sekali dalam waktu 1-3 bulan, kolamnya tidak mengeluarkan bau amis dan dapat menggunakan lahan yang tidak begitu luas karena di budidayakan di pekarangan rumah juga hasil budidayanya melimpah dan ikan lelenya lebih lezat, krispi, dan gurih dibandingan dengan budidaya lele di kolam biasa.

Namun, ada sisi kelemahannya yaitu perlu adanya biaya listrik untuk media aerasinya, akan tetapi tidak menggunakan listrik yang terlalu banyak.

Adapun cara budidaya ikan lele melalui teknologi bioflok adalah sebagai berikut : 1)Pembuatan kolam, pembuatan kolam berbentuk lingkaran dengan ukuran diameter 3 meter mampu menampung hingga 3 ribu ekor lele yang dipasang pipa yang akan berfungsi sebagai jalan keluar kotoran lele yang mengendap di dasar kolam. Kotoran yang dikeluarkan tersebut dapat digunakan sebagai pupuk organik dan sumber pakan bagi lele tersebut.

 2)Persiapan kolam terdiri dari : a) Pengisian Air, Sebelum kolam diisi air, kolam terlebih dahulu dibersihkan/ disterilisasi. Bila perlu dilakukan pengeringan dan desinfeksi dengan menggunakan kaporit 10%.  Pengisian air kedalam kolam sampai penuh dengan ketinggian air 80-100 cm dengan menggunakan air sumur atau air sungai yang sudah di treatment dengan menggunakan kaporit 30 gram per m3 selama 3 hari (untuk kolam diluar ruangan) dan untuk kolam didalam ruangan dinetralkan dengan Sodium Thiosulfat  dengan dosis 15 gram/m3 setelah minimal 24 jam pemberian kaporit. b)Pemasangan peralatan, meliputi pompa dan perlengkapannya (selang aerator, filter dan pipa pengeluaran pompa). Pompa harus dipasang ditengah dan aliran air dikeluarkan di bagian tepi kolam dengan arah keluar yang berlawanan.

3)Perlakuan (treatment), dilakukan dengan cara sebagai berikut : a) Kapur tohor 100 gr per m3 /dolomit 200 gr per m3 /kaptan 200 gr per  m3 /mill 150 gr per m3. b) Garam krosok (non-iodium) : 3 kg per m3 air, c) Probiotik 5 cc per m3 . Jenis probiotik yang digunakan adalah bakteri heterotrof antara lain Bacillus subtilis, Bacillus licheniformis, Bacillus megaterium, Bacillus polymyxa). d) Molase (tetes tebu) sebanyak 100 cc per m3 atau gula pasir 75 gr per m3. e) Kemudian air dibiarkan selama 7 hari atau air terlihat berubah warna atau terasa lebih licin, Kolam siap ditebar benih.

4)Pengadukan dan aerasi, dilakukan dengan menggunakan blower 100 watt yang dapat dimanfaatkan untuk 6 unit kolam bundar yang dipasang mulai dari awal pemeliharaan. Gunanya untuk mengaduk media supaya bahan-bahan organik teraduk dengan rata sehingga terurai secara aerobik, untuk meningkatkan oksigen terlarut (DO) dan membuang gas karbondioksida (CO2).

5)Penebaran benih, Benih lele yang ditebar berukuran 7-8 cm (SNI Nomor 0126484.2-2000) dengan padat tebar 1.000 ekor/m3. Sebelum benih ditebar, sebaiknya benih lele disucihamakan/direndam dengan menggunakan vaksin sesuai aturan pakai pada label kemasan. Penebaran benih hendaknya dilakukan pada pagi atau sore hari.

6)Manajemen pakan, Setelah benih ditebar kedalam kolam, selanjutnya benih dipuasakan selama 2 hari untuk proses adaptasi dengan lingkungan baru sambil menunggu isi lambung bener-bener kosong/bersih. Pada saat pemberian pakan pertama kali disarankan maksimal Selain pemberian probiotik, sebaiknya juga melakukan pengapuran 7 hari sekali pada bulan pertama, dan setiap 5 hari sekali pada bulan berikutnya dengan dosis 200 gr per m3 air. Setelah itu tambahkan unsur C (tepung terigu/ tepung beras/ tapioka) sebanyak 240 gram per 10 kilogram. Selanjutnya berikan aerasi yang kuat di dasar kolam hingga permukaan air untuk mempercepat proses pengadukan hingga terbentuknya flok Ikan tidak diberi pelet sehari dalam seminggu untuk memanfaatkan flok yang tersedia dimulai pada minggu kedua setelah penebaran.

 7)Pengelolaan air, Pengelolaan air sangat penting dalam usaha budidaya. Kegiatan pengelolaan air dapat dilakukan dengan cara menambahkan probiotik kedalam wadah budidaya.

Dapat disimpulkan bahwa budidaya ikan lele melalui teknologi bioflok ini sangat mudah dan potensial sebagai pilihan untuk berbisnis karena dapat dapat dilakukan di lahan yang tidak luas seperti pekarangan rumah serta menekan biaya pakan namun menghasilkan ikan lele yang berlimpah dan ikannya lebih lezat tidak seperti lele di kolam biasanya. Selain itu, budidaya ini terbilang mudah karena tidak perlu melakukan penggantian air kolam secara berkala, juga dapat mudah dipantau karena dapat di budidayakan di depan pekarangan rumah dengan menggunakan kolam lingkaran yang terbuat dari besi yang dilapisi dengan terpal. Selain itu, kapasitas kolam lingkaran dapat menampung banyak benih ikan lele yaitu dalam 1 kolam lingkaran bisa mencapai 3.000-5.000 benih ikan lele. [] Admin / Nur Afmi Muniroh



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *