Wali Kota Bogor Bima Arya menghadiri seminar kebangsaan dan peluncuran buku sejarah dalam rangka memperingati 100 tahun berdirinya Gedung Gereja Zebaoth Bogor di Gereja Zebaoth, Jalan Juanda, Bogor Tengah, Sabtu (23/11/2019).

Bima di Gereja Zebaoth: DNA Kota Bogor, Gandrung Kebersamaan

BOGOR-KITA.com, BOGOR – DNA Kota Bogor pasti gandrung akan kebersamaan. Hal ini dikemukakan Wali Kota Bogor Bima Arya saat menghadiri seminar kebangsaan dan peluncuran buku sejarah dalam rangka memperingati 100 tahun berdirinya Gedung Gereja Zebaoth Bogor (Koningin Wilhelmina Kerk) di Gereja Zebaoth, Jalan Juanda, Bogor Tengah, Sabtu (23/11/2019).

DNA atau Deoxyribo Nucleic Acid atau asam deoksiribo nukleat adalah pembentuk membentuk materi genetika yang terdapat di dalam tubuh tiap orang yang diwarisi dari kedua orang tua.

Dalam paparan di hadapan ratusan jemaat gereja, Bima Arya banyak berbicara seputar kebersamaan di tengah keberagaman yang sudah turun temurun mengakar dalam kehidupan sehari-hari warga Kota Bogor.

“Semakin banyak saya keluar Kota Bogor, semakin banyak jalan-jalan ke wilayah lain, semakin merasa bersyukur dan beruntung lahir, tinggal, besar dan saat ini mengabdi di Kota Bogor. Kenapa? Karena banyak hal yang begitu dibanggakan di Kota Bogor ini,” ungkap Bima.

Salah satu yang membuat Bima Arya bangga adalah nilai histrois Kota Bogor. “Tidak banyak kota-kota di indonesia yang punya sejarah yang sangat mengagumkan dan menginspirasi. Banyak kota yang berusaha mencari identitasnya sendiri, banyak kota yang berusaha untuk mencari karakter kotanya sendiri. Ada kota yang berusaha mem-branding kotanya karena memang dari aspek kesejarahan sulit dicari sesuatu yang kokoh,” jelasnya.

Baca juga  Bogor Street Festival CGM '19 Siap Digelar Kembali Di Kota Bogor

Menurut Bima, kota-kota di dunia yang memiliki akar sejarah panjang dan karakternya kuat, mampu menjadi modal utama kota itu bisa bergerak maju dan menjadi kebanggan warganya.

“Kota Bogor punya alasan untuk selalu bangga. Di pusat kota ini, pusat ibadah berdampingan secara damai dari masa ke masa. Ada gereja, ada vihara, ada masjid, pura yang dari masa ke masa tidak pernah ada sejarah konflik sama sekali,” kata Bima.

“Perbedaan adalah keniscayaan, keberagaman adalah keharusan. Tapi persatuan dan kebersamaan harus selalu diperjuangkan. Kita tidak bisa menolak berbeda. Itu keharusan, sudah given. Kalau di Islam disebut sunnatullah. Sudah harus diterima, tidak boleh ditolak dan dinafikan. Kalau kebersamaan tidak diperjuangkan, maka keindahan kebersamaan itu akan mengalami masa-masa sulit atau selesai pada waktunya,” tambahnya.

Bima bercerita, ketika tahun lalu ada kelompok yang menolak penyelenggaraan Bogor Street Festival Cap Go Meh, ia sampaikan bahwa orang yang menolak itu pasti DNA-nya bukan DNA Kota Bogor.

“Kalau DNA-nya Kota Bogor, pasti gandrung akan kebersamaan. Menganggap itu justru momentum untuk memperkuat kebersamaan dalam keberagaman. CGM atau Bogor Street Festival bukan persoalan ritual, itu adalah budaya. Disitu kebersamaan kita dikuatkan. Kalaupun ada ibadah yang dirayakan adalah tanggung jawab kita untuk memastikan bahwa ibadah itu berjalan dengan aman dan lancar sehingga membahagiakan umat yang merayakan itu di Kota Bogor,” tandasnya.

Baca juga  Kelurahan Tegal Gundil Donasi Koin Bantu Warga Terdampak Covid-19

Ia menambahkan, setiap malam Natal dirinya bersama Muspida melakukan patroli keliling gereja di Kota Bogor untuk memastikan semuanya berjalan aman, lancar dan khidmat. “Disitu saya tentu mengucapkan selamat natal, disitu saya juga menyampaikan kepada saudara-saudara umat kristiani untuk dipastikan bahwa malam itu semuanya tertib dan lancar. Disitu kami muspida menyampaikan salam untuk seluruh keluarga yang merayakan. Agar suasananya damai di Kota Bogor, damai di hati,” ujarnya.

“Tentu saja ada orang-orang yang kadang-kadang beranggapan lain. Tidak boleh mengucapkan salam, tidak boleh mengucapkan perayaan agama lain, tidak boleh memasuki rumah ibadah agama lain. Ya, berbeda pendapat sah-sah saja. Tidak apa-apa. Tapi begini, hari ini kalau kita terlalu banyak membahas perbedaan, we are going nowhere. Kita tidak akan kemana-mana. Yang harus dikedepankan adalah persamaan kita ditengah perbedaan,” pungkasnya.

Dalam acara tersebut, tampak dihadiri Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bogor KH Mustofa Abdullah Bin Nuh, Badan Sosial Lintas Agama dan para tokoh lintas agama lainnya. []Admin/Humas Pemkot Bogor



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *