Kota Bogor

Perkuat Ketahanan Keluarga, IPB University Wisuda Sekolah Keluarga Berkualitas

BOGOR-KITA.com, BOGOR – IPB University melalui Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) bersama Program Studi Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), Fakultas Ilmu Sosial dan Ekologi Manusia (FISEMA), menggelar Wisuda Sekolah Keluarga Berkualitas (SKB) di Auditorium Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga (GMSK), Kampus IPB Dramaga, Senin (7/9/2026).

Kegiatan tersebut menjadi puncak rangkaian program pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan sepanjang Juni hingga Agustus 2026. Wisuda sekaligus menjadi bentuk apresiasi atas komitmen peserta dalam mengikuti pembelajaran dan meningkatkan kapasitas keluarga.

Wakil Kepala LPA2I IPB University Bidang Inovasi, Alih Teknologi dan Sociopreneurship, Prof. Dr. Ir. Tri Prartono, M.Sc., mengatakan SKB terus mengalami perkembangan sejak pertama kali dilaksanakan pada 2023.

“Sejak pertama kali dilaksanakan pada 2023, Sekolah Keluarga Berkualitas terus berkembang dan memperluas jangkauan manfaatnya ke berbagai wilayah di Indonesia,” kata Tri.

Ia menjelaskan, pada 2025 SKB mulai menerapkan metode hybrid dengan menggabungkan pembelajaran secara luring dan daring. Pola tersebut memungkinkan peserta dari berbagai daerah di Indonesia untuk terlibat dalam program.

“Memasuki 2026, pelaksanaan SKB semakin diperluas dengan melibatkan 130 fasilitator dan 1.300 keluarga binaan yang berasal dari berbagai wilayah di lingkar kampus serta keluarga binaan dari berbagai penjuru Indonesia,” ujarnya.

Baca juga  Rektor IPB University Dorong Ahli Kepelabuhanan Adaptif Perkembangan

Pelaksanaan SKB 2026 berlangsung selama Juni hingga Agustus dengan melibatkan 50 fasilitator dari desa dan kelurahan di sekitar kampus secara luring. Mereka berasal dari Desa Cikarawang, Desa Ciherang, Desa Dramaga, Kelurahan Semplak, dan Kelurahan Curug Mekar.

Selain itu, sebanyak 80 fasilitator nasional dari 18 provinsi mengikuti kegiatan secara daring melalui Zoom Meeting. Peserta berasal dari Aceh, Bengkulu, Daerah Istimewa Yogyakarta, DKI Jakarta, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Lampung, Maluku, Nusa Tenggara Barat, Papua Barat, Riau, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara.

“Program ini menyasar total 1.300 keluarga binaan. Proses pembelajaran diberikan oleh enam dosen Program Studi Ilmu Keluarga dan Konsumen serta melibatkan dua orang praktisi,” ungkapnya.

Sejumlah materi diberikan kepada para peserta, mulai dari ketahanan keluarga dan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dalam pencegahan stunting, penerapan konsep asah, asih, dan asuh, hingga karakteristik anak bawah dua tahun (baduta) dan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang optimal.

“Peserta juga mendapatkan pengetahuan mengenai pengelolaan keuangan keluarga, nilai anak dan investasi anak untuk meningkatkan kualitas anak, serta fungsi keluarga dalam mendukung pencegahan stunting,” jelasnya.

Baca juga  Sekolah Vokasi IPB University Juara Umum Lomba OLIVIA 2019

Sementara itu, Inovator Sekolah Keluarga Berkualitas dan Sekolah Lansia, Dr. Tin Herawati, mengatakan program tersebut dirancang tidak hanya untuk menambah pengetahuan peserta, tetapi juga membangun sikap dan keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan keluarga.

“Dalam pelaksanaannya, program SKB tidak hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga membangun sikap dan keterampilan yang diperlukan untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas, sejahtera, dan produktif,” kata Tin.

Ia mengatakan, Training of Trainers (ToT) menjadi salah satu bagian penting dalam pelaksanaan program. Melalui pelatihan tersebut, para fasilitator dipersiapkan menjadi agen perubahan yang dapat mendampingi proses pembelajaran dan pemberdayaan keluarga di tingkat desa maupun kelurahan.

“Melalui Training of Trainers bagi fasilitator, program ini mempersiapkan agen-agen perubahan yang mampu memfasilitasi proses pembelajaran dan pemberdayaan keluarga di tingkat desa dan kelurahan,” ujarnya.

Tidak hanya itu, para fasilitator juga didorong untuk mengembangkan inovasi lokal sesuai kebutuhan masyarakat di wilayah masing-masing. Mereka diharapkan mampu membangun jejaring serta berkolaborasi dengan pemerintah desa atau kelurahan dan pemangku kepentingan lainnya.

Menurut Tin, wisuda SKB tidak semata-mata menjadi seremoni kelulusan, tetapi menjadi awal dari keberlanjutan gerakan pemberdayaan keluarga di tengah masyarakat.

Baca juga  Pelanggar Ganjil Genap di Kota Bogor Diberi Sanksi Administrasi dan Sosial

“Para fasilitator diharapkan mampu menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh secara nyata di masyarakat, membangun kolaborasi dengan pemerintah desa atau kelurahan dan berbagai pemangku kepentingan, serta mendorong lahirnya inovasi lokal yang relevan dengan karakteristik wilayah,” jelasnya.

Program SKB merupakan bagian dari upaya peneguhan program “IPB Hadir” melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat. Program ini menempatkan keluarga sebagai unit terkecil sekaligus fondasi penting dalam pembangunan masyarakat.

Melalui penguatan kapasitas keluarga, SKB diharapkan dapat berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat, khususnya dalam menghadapi berbagai tantangan kesehatan dan gizi, sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030.

Wisuda SKB 2026 pun menjadi penanda bahwa proses pemberdayaan keluarga tidak berhenti setelah pembelajaran berakhir. Para peserta diharapkan dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh, membangun jejaring, serta menggerakkan perubahan di lingkungan masing-masing.

IPB University berharap kolaborasi yang telah terbangun bersama pemerintah desa dan kelurahan, fasilitator, keluarga binaan, serta berbagai pemangku kepentingan dapat terus dilanjutkan.

“Keberlanjutan tersebut diharapkan memberikan dampak positif bagi keluarga dan masyarakat luas serta mendukung terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045,” pungkasnya. [] Ricky

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top