Abraham van Riebeek yang menjadi Gubernur Jenderal VOC di Hindia Timur tahun 1709, adalah orang pertama yang memperkenalkan tanaman kopi di Bogor.

Kopi Bogor Banjir Permintaan Ekspor  

BOGOR-KITA.com – Diam-diam, kopi yang dihasilkan petani Kabupaten Bogor kebanjiran permintaan dari pasar ekspor. Lho, bukankah kopi Sidikang di Sumatera sana lebih populer ketimbang kopi Bogor?

Rupa-rupanya stakeholder kopi Bogor aktif mempromosikan kopi Bogor melalui aneka festival tingkat nasional maupun internasional dan hasilnya beberapa kali juara.

“Sudah 3 tahun berturut-turut juara di tingkat nasional dan internasional,” kata Kepala Distanhorbun Siti Nurianty acara Championship Brewers 2019, Adu Ninyuh (Nyeduh) Kopi di Hotel Green Peak, Desa Kopo, Cisarua, Puncak, Kabupaten Bogor, Kamis (21/3/2019).

Menurut Siti Nurianty, status juara itu yang tampaknya mendorong kopi Bogor banjir permintaan dari pasar ekspor.

“Alhamdulillah, berkat sering juara di Festival Kopi tingkat nasional bahkan internasional tahun lalu kita ada permintaan ekspor kopi jenis robusta sebanyak 200 ton dari distributor kopi negara Belanda. Ke depan kami akan upayakan untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi kopi Bogor,” lanjut Nuriyanti.

Menurut Siti Nurianty, luas tanaman kopi di Kabupaten Bogor saat ini mencapai 5 .800 hektare di mana 250 hektare di ataranya adalah kebun kopi arabika.

Kopi Bogor memang tidak setenar kopi Sidikalang, Sumatera Utara. Namun demikian, riwayat kopi Bogor sudah cukup panjang.

Penelusuran BOGOR-KTA.com, pada tahun 1725 belum ada kopi di Jawa bahkan pada tahun 1836 belum ada teh di Jawa (De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 31-07-1867).

Abraham van Riebeek adalah orang pertama yang memperkenalkan tanaman kopi di Hindia Timur pada era VOC (lihat Almanak van Nederlandsch Indie voor het jaar 1871).

Pada tahun 1703 van Riebeek memimpin ekspedisi ke Pakuan-Pajajaran. Rute yang dilalui tim ekspedisi Riebeek ini adalah Casteel, Tjilititan, Tandjong, Seringsing, Pondong Tjina, Depok, Pondok Terong, Bodjong Manggies (dekat Bojonggede), Kedoenghalang dan Paroengangsana (Tanah Baru).

Abraham van Riebeek menjadi Gubernur Jenderal VOC di Hindia Timur tahun 1709 dan membangun jalan besar ke pantai selatan Jawa (melanjutkan pembangunan yang telah dimulai sejak tahun 1698).

Penanaan kopi pertama dilakukan di sekitar Batavia (Eerste koffij aan planting in de omstreken van Batavia) pada tahun 1710 diduga karena peran dari Abraham van Riebeek (lihat Almanak van Nederlandsch Indie voor het jaar 1871).

Dalam perkembangan lebih lanjut, kopi yang diintroduksi di Jawa sudah menghasilkan dan produksinya terus meningkat dari waktu ke waktu.

Selanjutnya kopi juga diintroduksi di Sumatra terutama pantai barat Sumatra (1820) termasuk Tapanoeli (1840). Tetapi kopi-kopi dari Hindia Belanda yang bermutu tinggi di ekspor ke Eropa dan yang bermutu rendah di perdagangkan secara domestik untuk diolah. Pengolahan kopi terbesar dibangun di Buitenzorg (Bogor) pada tahun 1866.

Konon, dalam satu masa kopi Bogor terserang hama. Orang Bogor lalu transmigrasi ke Lampung. Sepulang dari Lampung kopi Bogor tumbuh kembali sampai saat ini. [] Admin/Dari berbagai sumber



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *