Kab. Bogor

Kembangkan Pangan Berbasis Potensi Lokal di Masa Pandemi, Sekolah Vokasi IPB University Gelar Pameran Inovasi Pangan 3.0

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Masyarakat Indonesia cenderung mengonsumsi padi-padian dan minyak secara berlebihan. Sedangkan umbi-umbian, pangan hewani, sayur, dan kacang-kacangan masih sangat kurang. Maka perlu dilakukan konsumsi secara seimbang supaya kondisi konsumsi pangan lokal bisa lebih merata.

Hal ini disampaikan Dr Ir Agung Hendriadi, MEng selaku Ahli Peneliti Utama Bidang Pangan dan Sosial Ekonomi Kementerian Pertanian dalam virtual talkshow di acara Pameran Inovasi Pertanian (PIP) 3.0, Jumat (30/10/2021). PIP 3.0 ini diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Vokasi Pangan dan Gizi, Sekolah Vokasi IPB University.

“Kita harus mencari cara supaya pangan lokal ini bisa diketahui masyarakat umum, karena di Indonesia hal ini masih sedikit,” ungkapnya.   Selain itu, lanjutnya, status ketahanan pangan di Indonesia masih cenderung kurang dari pada negara-negara lain di Asia Tenggara. Bahkan di tahun 2020, beberapa wilayah kabupaten/kota masih tergolong rentan, sehingga perlu adanya komersialisasi bahan pangan lokal di Indonesia.

Baca juga  Pandemi Covid-19 Lahirkan 4 Norma Sosial Baru

“Semakin tingginya pemakaian bahan pangan lokal dapat meningkatkan potensi ekonomi. Salah satunya dengan strategi diversifikasi dan mengangkat branding pangan lokal sesuai dengan kemudahan di daerah masing-masing. Dua hal ini menjadi solusi untuk meningkatkan ketahanan pangan di Indonesia,” imbuhnya.

Menurutnya, perlu ada komersialisasi bahan pangan lokal di Indonesia. Semakin tingginya pemakaian bahan pangan lokal dapat meningkatkan potensi ekonomi, salah satunya dengan strategi diversifikasi.  “Kita harus menciptakan produk pangan dengan kemasan yang menarik, mudah diolah dan tidak memakan biaya yang besar agar masyarakat tetap tertarik untuk mendorong konsumsi produk pangan lokal,” lanjutnya.

Sementara itu, Ir Adhi S Lukman, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) menyampaikan bahwa pengembangan pangan lokal tidak lepas dari peran pemerataan infrastruktur dan logistik di Indonesia.

Baca juga  PPKM level 3, Puncak Macet, Okupansi Hotel Naik

“Tanpa logistik akan sulit untuk memberdayakan pangan lokal. Kalau masing-masing daerah sudah memiliki ciri khas pangan lokal, sebaiknya tetap dipertahankan dan dikembangkan dengan inovasi-inovasi baru,” ungkapnya.  Menurutnya, perlu pemberdayaan bahwa tidak harus makan nasi untuk kenyang, bisa diganti dengan bahan pangan lain sesuai dengan potensi pangan lokal masing-masing. Sebagai contoh sagu yang potensinya sangat besar di Indonesia.

“Butuh kerjasama dari berbagai pihak untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah disebutkan,” tuturnya dalam puncak acara PIP 3.0 yang digelar Sekolah Vokasi IPB University ini. Narasumber lain yang hadir dalam acara ini adalah Dr Ir Dewi Sarastani, MSi.

Selain virtual talkshow, dalam acara ini juga diumumkan pemenang lomba PIP 3,0. Selanjutnya kegiatan diisi pula dengan pengumuman para pemenang lomba PIP 3.0.

Baca juga  Himpunan Alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University Bantu Korban Bencana Alam di NTT dan NTB

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan PIP 3.0. Ini meyakinkan kita bahwa mahasiswa tetap bisa mengembangkan ide dan kreativitasnya meskipun dalam masa pandemi yang kita harapkan segera berakhir,” ungkap Dr Arief Daryanto, Dekan Sekolah Vokasi IPB University.  Menurutnya, kegiatan ini merupakan hal yang positif untuk membantu kemajuan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Apalagi jika feedback yang diberikan berupa keuntungan profit untuk UMKM tersebut.[] Hari

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terpopuler

To Top