Ilustrasi

Ini Sejumlah Cara Berdonasi Covid-19 Tanpa Melanggar Physical Distancing

BOGOR-KITA.com, DRAMAGA – Berbagai cara donatur untuk memberikan donasi kepada yang membutuhkan di masa pandemi sekarang ini. Tidak sedikit yang menyebabkan terjadinya pelanggarann terhadap physical distancing atau jaga jarak aman yang menjadi kunci utama mencegah penularan.

Drh Feb Azimatus Saidah, Alumni Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB University berbagi kisah kreatif menggalang donasi secara unik.

Dalam keterangan tertulis yang dikirim IPB University kepada BOGOR-KITA.com, Selasa (28/4/2020), Feb Azimatus Saidah menisahkan pengalamannya saat mendampingi suami yang juga dosen IPB University, menempuh pendidikan di luar negeri.

Drh Feb mengatakan bahwa penggalangan dana yang dilakukan Adelaide, Australia tidak selalu meminta sumbangan berupa uang. Mereka terbuka menerima siapa saja untuk bisa ikut berdonasi sesuai dengan kemampuan dan sumber daya masing-masing. Dari gerakan mereka yang kreatif ini, sumbangan yang masuk beraneka ragam.

Ada donatur yang menyumbangkan telur ayam hasil ternak sendiri. Ada donatur yang menyumbangkan daun jeruk yang dipetik dari halaman rumah. Ada pula donatur lain menyumbang kemampuannya menjahit kerajinan dari kain batik, di mana kain batik tersebut adalah sumbangan dari donatur lainnya. 

Baca juga  Bedah Hikmah Covid -19: Gaya Hidup Sehat, Positif dan Produktif

Atau sumbangan berupa olahan kentang dan jamu juga ikut didonasikan. Sumbangan-sumbangan ini kemudian dijual, dan hasilnya digunakan untuk memenuhi keperluan donasi.
“Upaya kreatif dalam penggalangan dana terbukti mampu mengajak masyarakat dari berbagai lapisan untuk dapat berpartisipasi aktif. Jadi donasi tidak identik dengan mengeluarkan uang semata. Dengan ini, masyarakat kecil yang misalnya memiliki tanaman di pekarangannya pun dapat mendonasikan hasil panen tanaman tersebut. Sangat mudah dan dapat dilakukan masyarakat di Indonesia juga, bukan?” ujarnya.
Menurutnya, ide seperti ini belum banyak digaungkan dan dilakukan dengan baik di Indonesia saat ini.

“Bisa dipahami mungkin karena keterbatasan dalam beraktivitas sebagai konsekuensi dari himbauan work from home, learning from home, praying from home hingga kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).  Namun, bukan berarti kondisi tersebut membuat kita tidak kreatif dalam melakukan penggalangan donasi,“ tuturnya.
Ia melanjutkan, setiap diri setiap orang bisa berkontribusi dengan masing-masing potensi dan sumberdaya yang dimiliki.

Kalau tidak bisa menggerakkan massa untuk menyumbang miliaran rupiah sebagaimana Rachel Vennya, mungkin kita punya keahlian memasak untuk membantu penggalangan dana.  Kalau tidak punya jejaring luas yang berpengaruh seperti Mbak Lenas Tsuroiya yang berhasil mengumpulkan tokoh-tokoh nasional menyumbangkan barang untuk dilelang, mungkin kita punya kontak whatsapp group ibu-ibu PKK. 

Baca juga  15 Orang Reaktif Hasil Rapid Test di Stasiun Bojonggede dan Bogor

Kalau kita tidak punya kemampuan menghipnotis Sobat Ambyar ala Didi Kempot untuk mendapatkan donasi miliaran rupiah dalam sekali show, mungkin kita punya pohon pisang dan kelapa yang ada buahnya dan siap panen untuk kita donasikan. Pun seandainya merasa tak punya apa-apa, setidaknya bisa menjadi relawan yang menghubungkan pemilik buah pisang, kelapa dan orang dengan keahlian memasak, sehingga menghasilkan produk makanan seperti kolak atau banana cake lalu menjual kolak atau sekedar banana cake tersebut kepada ibu-ibu di whatsapp grup PKK sehingga menjadi salah satu sumber penggalangan dana.” [] Admin



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *