Gus Ulil (kiri) bersama Kiai Enha di Ngopi Santri

Fiqih Sukuti ala Kiai Sahal Mahfudh

BOGOR-KITA.com – Intelektual Muda Nahdlatul Ulama (NU) Ulil Abshar Abdalla mengaku terharu dengan hidupnya Rais ‘Aam PBNU 1999-2014 KH Sahal Mahfudh yang tidak punya keturunan, dan divonis tidak bisa memiliki anak sejak usianya masih muda.

Hal itu diungkapkan pria yang akrab disapa Gus Ulil ini dalam kesempatan diskusi dengan tema Kontekstualisasi Fiqih dari Era Klasik Hingga Era Kontemporer, di Ngopi Santri Pesantren Motivasi Indonesia (PMI), Kampung Cinyosog, Desa Burangkeng, Setu, Kabupaten Bekasi, pada Ahad (13/1).

“Dan pada saat itu, banyak kiai yang mendorong supaya Kiai Sahal menikah lagi. Tapi beliau menolak. Jadi sampai akhir hayatnya, Kiai Sahal tetap setia bersama istrinya,” ungkap menantu KH Mustofa Bisri atau Gus Mus ini.

Sementara untuk mengatasi hal tersebut, Gus Ulil melanjutkan, Kiai Sahal mengangkat salah seorang keponakan menjadi putranya yang kini meneruskan mengasuh pesantren di Kajen, Pati, Jawa Tengah.

“Padahal menurut ajaran fiqih, secara legal-formal (menikah lagi) boleh. Dan itu didorong oleh seluruh kiai di sana untuk menikah lagi, tapi beliau tidak mau. Itu buat saya mengharukan sekali,” kata Gus Ulil lirih, dengan gaya bicara yang khas.

Karena penolakannya untuk menikah lagi, menurut Gus Ulil, Kiai Sahal tidak pernah berkampanye anti-poligami. Hal ini merupakan salah satu strategi menarik yang berbeda dengan aktivis perkotaan kebanyakan.

“Pendekatannya beda. Aktivis-aktivis itu kan kalau mau mengampanyekan, terus terang. Tapi Kiai Sahal tidak,” kata pria yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Mathali’ul Falah, Kajen, Pati, Jawa Tengah, di bawah asuhan Kiai Sahal ini.

Dikatakan, yang dilakukan Kiai Sahal itu merupakan strategi para kiai pada umumnya di nusantara. Yaitu, Kiai Sahal sebenarnya punya pendapat tapi tidak dikatakan, melainkan langsung dikerjakan.

“Kiai Sahal itu bisa dikatakan menggunakan metode fiqih sukuti (diam). Ini juga menjadi dimensi penting dalam fiqih sosial. Artinya, beliau diam tidak mengemukakan pendapat tapi melaksanakan demi maslahat,” jelas kiai muda yang menempuh program doktoral di Universitas Boston, Amerika Serikat ini.

Sebab, imbuh Gus Ulil, jika diungkapkan secara terus terang akan menimbulkan pro-kontra. Maka, dalam isu-isu tertentu, Kiai Sahal menggunakan pendekatan fiqih sukuti.

“Kalau dalam isu lokalisasi, beliau mengatakan terus terang. Tapi dalam isu poligami ini beliau menggunakan fiqih sukuti,” kata Gus Ulil.

Kemudian, salah satu isu lain yang Kiai Sahal menggunakan fiqih sukuti adalah ketika menjabat Ketua Umum MUI Pusat dan timbul masalah soal status Ahmadiyah dan Syiah, pada 2005. Ketika itu ada fatwa MUI yang mendiskreditkan kedua aliran keislaman tersebut.

“Nah sebetulnya, Kiai Sahal tidak nyaman dengan fatwa ini. Beliau sebenarnya tidak terlibat secara mendalam pada proses perumusan perkara status Ahmadiyah dan Syiah karena pada intinya Kiai Sahal tidak puas dengan fatwa MUI itu,” jelas Gus Ulil.

Ia melanjutkan bahwa Kiai Sahal diam, tidak mengeluarkan pendapat apa pun terkait persoalan status Ahmadiyah dan Syiah.

“Nah suatu saat ada rombongan kiai sekitar 20 bus datang ke rumah Kiai Sahal di Kajen. Karena beliau diam, mereka bertanya-tanya soal pendapat Kiai Sahal terkait Ahmadiyah dan Syiah. Sebab semua orang ketika itu mengutuk, bahkan ada yang melakukan serangan kepada Ahmadiyah,” kata Gus Ulil, berkisah.

Ketika rombongan para kiai itu datang dan menanyakan pendapat pribadi, Kiai Sahal tidak panjang lebar dijelaskan.

“Saya tidak mau ikut-ikutan dalam masalah ini. Silakan pulang,” kata Gus Ulil, menggambarkan ungkapan Kiai Sahal ketika itu.

Ketua Umum MUI Pusat 2000-2014 ini tidak mengatakan soal menentang atau mendukung Ahmadiyah dan Syiah. Kiai Sahal hanya menghindar untuk menjawab permasalahan itu

“Nah itu yang saya sebut sebagai fiqih sukuti. Saya tahu beliau tidak setuju Ahmadiyah dan Syiah, tapi juga tidak suka dengan cara orang-orang memperlakukan Ahmadiyah dan Syiah,” pungkas salah seorang dosen di Universitas NU Indonesia (Unusia) Jakarta ini.

Sebagai informasi, Ngopi Santri adalah  akronim dari Ngobrol Pemikiran dan Kesadaran Literasi. Yakni wadah diskusi baru saban Ahad sore, yang diadakan sejak 26 November 2018, di selasar Pesantren Motivasi Indonesia, dengan tema pembahasan dan narasumber yang berbeda setiap pekannya.

Di bawah asuhan KH Nurul Huda (Enha) yang bertindak sebagai pemantik diskusi, Ngopi Santri menjadi ruang belajar bersama mengenai studi keislaman yang lebih komprehensif, dengan konsep yang sederhana, serius tapi santai. [] Aru Elgete / PCNU Kota Bekasi



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *