Kab. Bogor

Betulkah Pengelola Taman Bacaan Harus Kelar dengan Diri Sendiri?

Oleh: Syarifudin Yunus,

(Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka Bogor)

BOGOR-KITA.com, TAMANSARI – Saat ditanya anak saya, “Ayah, kenapa urus taman bacaan? Kan ayah sibuk. Mengajar, jadi konsultan dan aktif di dana pensiun lembaga keuangan. Kenapa begitu?”.

Pertanyaan yang menohok. Saya pun sedikit berpikir. Sambil mencari jawaban yang pas. Lalu saya katakan, “Iya Nak, Ayah urus Taman Bacaan Lentera Pustaka di Bogor karena Ayah sudah kelar dengan diri sendiri. Sudah tidak ada lagi obsesi dunia yang mau dituju. Selain menebar manfaat untuk orang lain dan membangun warisan untuk umat sebagai kepedulian sosial ” jawab saya panjang.

Anak saya pun mengangguk. Tanpa ada pertanyaan lanjutan. Itu berarti, dia puas dengan jawaban saya. Karena bila tidak, dia pasti bertanya lagi. Tentang mengelola taman bacaan, penting untuk dicermati. Bagi siapa pun, semua pegiat literasi di mana pun.

Baca juga  Ade Yasin Tanggapi 10 Ijtima Ulama MUI Kabupaten Bogor

Maka penting, pengelola taman bacaan harus kelar dengan diri sendiri. Apalagi taman bacaan sifatnya sosial. Sebuah jalan sunyi gerakan literasi di Indonesia. Sama sekali tidak mudah mengelolanya. Apalagi melibatkan anak-anak yang mau membaca. Taman bacaan memang tidak bisa diurus dengan cara-cara biasa. Harus lebih kreatif dan menarik. Agar taman bacaan dapat “bertahan hidup” untuk jangka waktu yang lama.

Bila kelar dengan diri sendiri. Taman bacaan, sejatinya pasti bisa diurus dengan penuh komitmen dan konsistensi. Untuk membangun tradisi baca masyarakat, di samping gerakan literasi. Tanpa kelar dengan diri sendiri, pengelola taman bacaan sulit untuk menciptakan kebaikan dan aktivitas yang menyenangkan. Agar taman bacaan tidak sepi, tidak mati suri. Sekali lagi, pengelola taman bacaan harus kelar dengan diri sendiri.

Baca juga  Camat Parung Izinkan Semua Masjid atau Mushola Gelar Tarawih, Kecuali di RT 03/02 Desa Parung

Tapi sebaliknya. Bila pengelola taman bacaan belum kelar dengan dirinya sendiri. Apa yang terjadi? Dapat dipastikan taman bacaan akan dikelola dengan setengah hati. Kurang komitmen dna konsistensinya pun dipertanyakan. Sehingga dampaknya tidak dirasakan masyarakat sekitar. Taman bacaan yang rapuh dan mudah frustrasi. Atas segala masalah yang dihadapi. Karena terlalu banyak urusan personal yang belum kelar. Apalagi urusan taman bacaan.

Seperti orang-orang di luar sana, Akibat belum kelar dengan diri sendiri, akhirnya jadi kepo dengan urusan orang lain. Kerjanya mengintip laju orang lain. Kehilangan produktivitas untuk menebar manfaat kepada orang lain. Maka untuk urusan apapun, kelarkan urusan diri sendiri. Apalagi kegiatan yang sifatnya sosial. Untuk apa ngotot mengelola taman bacaan bila akhirnya terbentur urusan personal? Hingga akhirnya, taman bacaan hanya dibangun atas mimpi-mimpi yang sulit direalisasikan. Baik pembacanya, bukunya apalagi komitmen untuk jangka panjang.

Baca juga  Aeon Siap Support Pemkab Bogor Buka Mal Pelayanan Publik

Sekadar mengingatkan. Taman bacaan memang sulit dikelola bila pengelolanya belum kelar dengan diri sendiri. Maka di taman bacaan, ikhtiar untuk kelar dengan diri sendiri sangat penting. Mulailah dengan langkah kecil yang realistis untuk menuju langkah besar. Mulailah dengan pikiran kecil sebagai landasan pikiran besar. Agar perlahan mampu kelar dengan diri sendiri, di samping taman bacaan berdaya guna bagi masyarakat. Salam literasi.[]

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terpopuler

To Top