Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Pakuan, Dr. Hendro Sasongko, Ak.,M.M.,CA.

Besar, Dampak Ekonomi Pakansari Jadi Venue Piala Dunia U-20

BOGOR-KITA.com, BOGOR –  Walau belum ada pengumuman resmi, namun Stadion Pakansari Cibinong diyakini akan diputuskan menjadi salah satu dari enam venue yang akan digunakan FIFA sebagai stadion laga Piala Dunia U-20 tahun 2021 mendatang.

Tentu ini menjadi kebanggaan bagi masyarakat Kabupaten Bogor karena venue-nya akan jadi salah satu pusat perhatian dunia.

“Ada sejumlah keuntungan yang diperoleh Pamkab  Bogor terkait penggunaan Stadion Pakansari jadi venue Piala Dunia U-20,”  kata Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Pakuan Bogor Dr Hendro Sasongko kepada BOGOR-KITA.com, Jumat (1/11/2019).

Pertama, image, jelas ini salah satu aspek, karena publikasinya berskala internasional. Artinya, pemimpin dan tokoh-tokoh daerah akan ter-expose. Oleh sebab itu, tantangan utama bagi Pemda Bogor adalah bagaimana menyukseskan event tersebut agar memberikan dampak konstruktif.

Kedua, ekonomi. Walaupun ini adalah satu event, tidak dapat dipungkiri akan memberi dampak ekonomi yang cukup besar, jika dikelola dengan baik.

Artinya, akan ada multiplier effect terhadap roda ekonomi yang jika dikelola dengan baik dengan visi ke depan alias bukan bersifat sesaat saja.

Misal, bagaimana mengelola supporter tamu tidak hanya datang untuk menjadi supporter, tapi karena mendapat kesan yang baik, maka statusnya bukan lagi sebagai supporter, tapi wisatawan dan bahkan pemasar (marketer) bagi Bogor.

Oleh sebab itu, kata Dr Hendro Sasongko, PemKab Bogor harus tanggap untuk memperbaiki sektor sektor yang berpotensi mendapat dampak peningkatan ekonomi, seperti pariwisata, yang berarti berkaitan dengan sektor sektor lainnya, seperti perhotelan dan kuliner.

Harus diakui bahwa pasti PemKab Bogor harus menyiapkan anggaran yang besar, tidak saja yang berkaitan dengan renovasi stadion, namun infrastruktur, sarana dan fasilitas yang terkait, seperti akses jalan, jaringan, dan yang sangat penting adalah kesiapan SDM-nya.

Kompetensi dan hospitality menjadi syarat utama. Karena menyangkut anggaran, pasti akan muncul pro-kontra, apalagi jika dikaitkan dengan kondisi ekonomi saat ini yang nantinya merembet ke isu skala prioritas.

Oleh sebab itu perlu bagi Pemkab Bogor untuk menyiapkan kajian sosial ekonomi agar masyarakat yakin bahwa event ini memberi manfaat jangka pendek, menengah dan panjang bagi mereka.

Perhitungan cost-benefit, tidak bisa hanya berdimensi jangka pendek dan dikaitkan dengan cashflow yang terkait langsung, namun harus mempertimbangkan efek turunannya. Inilah yang harus disiapkan dengan cermat dan serius oleh PemKab, jadi jangan terjebak dalam perayaan pesta sesaat saja.

Sebagai contoh, Piala Dunia 2018 di Rusia lalu, menelan biaya lebih dari USD 11 milyar, sementara pendapatan selama event tersebut dari berbagai sumber pemasukan, hampir USD 7 milyar, tapi di luar itu diharapkan ada multiplier effect dari investasi yang besar tersebut.

“Sebagai pencinta sepakbola, harapan utama saya adalah, kita jangan hanya jadi pemandu sorak saja, tapi harus ada prestasi yang muncul dari sepakbola indonesia. Untuk yang terakhir ini, justru saya yang kuatir, karena PSSI masih penuh dengan masalah yang carut marut dan complicated,” tutup Dr Hendro Sasongko. [] Hari



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *