Nasional

Analisa Survey DEEP: Kinerja KPU Kota Depok Memprihatinkan

BOGOR-KITA.com, DEPOK – Ada satu hal yang patut diperhatikan terkait survey yang digelar Democracy and Eelectoral Empowerment Partnership (DEEP) Kota Depok yang dilaksanakan pada rentang waktu tanggal 15 – 30 September 2020 lalu, yakni terkait potensi golput atau golongan putih atau golongan masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya.

“Potensinya cukup besar yakni lebih 20 persen,” kata Direktur DEEP Indonesia Yusfitriadi kepada BOGOR-KITA.com, Jumat (16/10/2020).

Dalam survey dengan 582 responden di 11 kecamatan di Kota Depok, Yus, sapaan akrab Yusfitriadi, mengatakan sebanyak 14,4% responden menyatakan tidak tahu memilih siapa, dan  7% menyatakan tidak akan memilih pasangan manapun.

“Ini menarik karena memberikan gambaran mengenai kinerja KPU Kota Depok dalam melakukan sosialisasi dan pendidikan pemilih,” kata Yus.

Bagaimana potret Kinerja KPU Kota Depok di mata masyarakat, tergambar dari 2 pertanyaan survey.

Baca juga  Sosialisasi Cegah Covid-19: Lurah/Kepala Desa Lebih Dipercaya Ketimbang Bupati/Walikota

Pertama, dari mana Anda mengetahui informasi mengenai Pilkada Kota Depok tahun 2020?

Jawaban yang diperoleh, sangat miris dan memprihatinkan, di mana masyarakat Kota Depok lebih banyak memperoleh informasi tentang Pilkada Kota Depok tahun 2020 dari media informasi, baik media cetak, elektronik, maupun media sosial. Sumber informasi ini menempati porentase tertinggi yakni 42, 08 persen. Informasi yang berbedar di media elektronik tersebut bukan bersumber dari KPU.

Sedangkan yang mengetahui informasi yang bersumber dari KPU Kota Depok menempati prosentasi terendah yakni 13,09 persen.

Kedua, tahukah Anda berapa pasangan calon yang akan mengikuti Pilkada Kota Depok tahun 2020?

Jawaban yang diperoleh, sangat mencengangkan, di mana masih ada 10,07 persen masyarakat Kota Depok yang menjawab tidak tahu. Bahkan masih ada masyarakat Kota Depok yang menjawab ada 3 pasang calon, yakni 2,01 persen.

Baca juga  Pemerintah Mulai Pelaksanaan Vaksinasi Booster Pada 12 Januari 2022

Angka-angka tersebut, memberikan beberapa penjelasan.

Pertama, KPU Kota Depok sampai tanggal 30 September 2020, masih memiliki kinerja yang amat lemah dalam menyosialisasikan berbagai hal terkait Pilkada 2020 di Kota Depok.

Kedua, KPU Kota Depok terlihat miskin kreatifitas dan inovasi dalam mengemas media sosialisasi terkait Pilkada Kota Depok tahun 2020.

Sudah menjadi pemahaman umum, bahwa media digital dan elektronik, adalah cara cepat dan massif untuk menyampaikan pesan apapun, tidak terkecuali pesan-pesan terkait Pilkada 2020.

Kita bisa lihat prosentasi angkat di atas, terlihat jelas gambaran bahwa KPU Kota Depok tidak menjadikan media digital dengan berbagai varian aplikasinya sebagai media penting dalam sosialisasi kepada masyarakat mengenai Pilkada Kota Depok tahun 2020.

Ketiga, hasil survey memperlihatkan secara jelas, bahwa intesitas dan masifitas agenda-agenda sosialisasi yang dilakukan oleh KPU Kota Depok tidak banyak difahami oleh masyarakat Kota Depok, atau mungkin tidakj banyak diketahui oleh masyarakat Kota Depok.

Baca juga  5 Problem Penanganan Covid-19 di Kota Bogor

Dengan hasil survei dan berbagai hasil analisisnya, ini diharapkan KPU Kota Depok bisa mencari formulasi dan kemasan yang tepat dan efektif dalam melaksanakan agenda sosialisasi kepada masyarakat Kota Depok terkait pelaksanaan Pilkada Kota Depok tahun 2020.

Hal ini penting, agar ruang-ruang  narasi publik, tidak didominasi oleh kepentingan politik kekuasaan atau informasi-informasi yang diragukan kebenaranya.

“Masih banyak waktu untuk KPU Kota Depok memperbaiki model sosialisasi dan pendidikan pemilih. Patut disampaikan bahwa, meningkatkan dan memelihara kepercayaan publik terhadap penyelenggara pemilu merupakan faktor keberhasilan dalam momentum gelaran demokrasi electoral,” tutup Yusfitriadi. [] Hari

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terpopuler

To Top