salah satu ruang belajar Ponpes Darul Mizan

Alumni Gontor Sulap Bekas Kandang Sapi di Tenjolaya jadi Pondok Pesantren

BOGOR-KITA.com, TENJOLAYA – Para alumni Pondok Modern Darussalam Gontor mengubah bekas kandang sapi di Kecamatan Tenjolaya menjadi ruang belajar terbuka Pondok Pesantren Darul Mizan.

Salah satu pendiri Pondok Pesantren Darul Mizan, Ustaz Saepudin Muhtar menuturkan, pihaknya memanfaatkan bekas kandang sapi lantaran ruang belajar yang dimiliki sudah tidak bisa menampung santri yang ada.

Pria yang akrab disapa Gus Udin itu menyebutkan bahwa Darul Mizan sudah berdiri sejak dua tahun lalu.

Dikatakan, pada awalnya ia bersama tiga ustaz lainnya, yakni Maturidi, Malik Ibrahim, dan Iwan Sunarya mendirikan pesantren tersebut di atas tanah wakaf dari seorang bernama Masula seluas 3.000 m2. Kemudian pondok pesantrennya diberikan nama Darul Mizan yang berarti keseimbangan.

Menurutnya, bagaimanapun bekas kandang sapi itu akan menjadi pusat pandidikan Islam yang ia harapkan mampu mencetak santri sebagai generasi penerus bangsa dan agama.

“Tujuannya jelas bahwa pondok ini akan menjadi pusat pendidikan Islam yang mampu mencetak generasi penerus bangsa dan agama,” terang alumni Pondok Modern Darussalam Gontor itu kepada BOGOR-KITA.com, Selasa (14/7/2020).

Gus Udin menjelaskan bahwa peran alumni pesantren tidak hanya pada sektor pendidikan, melainkan juga sektor lain seperti pemberdayaan ekonomi, politik, sosial, hingga budaya.

“Yang terpenting bagaimana mempertahankan nilai-nilai pesantren mesti dilakukan. Bagaimana mengonstekstualisasikan nilai Islam dengan nilai kearifan lokal. Pesantren juga menjadi tempat pembelajaran yang tak pernah mati,” tutur mahasiswa Program Doktoral Ilmu Politik Islam di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Ia menganggap, pendidikan di pesantren bukan hanya proses menggali ilmu pengetahuan, tapi juga nilai ahlak, sehingga mampu mencetak santri yang menguasai ilmu-ilmu agama, mengamalkan ilmunya dengan ikhlas, serta menjadi orang yang sholeh apapun profesinya.

“Pendidikan itu bukan hanya mentransfer ilmu pengetahuan tapi yang lebih penting mentransfer nilai (akhlak),” katanya.

Salah satu pendiri lainnya, Ustaz Maturidi menambahkan bahwa pesantren harus mampu mengikuti perkembangan zaman. Sehingga tidak akan tergerus era industri 4.0 ini. Baginya, pesantren mempunyai tantangan yang beragam dan kompleks.

“Tantangan pesantren kini semakin beragam, tak lagi ekses modernitas dan globalisasi yang datang dari luar, juga pengaruh ideologi radikal dan konservatisme yang menggerogoti dari dalam,” bebernya. [] Hari



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *