Ahok, Pembebas dari Penjara Kata-kata Eufimisme

Oleh Petrus Barus

Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok. Wakil Gubernur Jakarta memang sungguh mencuri perhatian masyarakat Indonesia. Bukan saja karena kekritisannya terhadap cara-cara Pemerintah DKI Jakarta menggunakan dana yang menurutnya boros dan kemudian mengunggahnya di Yutube, tetapi juga karena kata-kata yang dipergunakannya di depan umum. Cara Ahok berkata-kata itu sekarang jadi persoalan. Ahok diminta menjaga bacotnya yang selalu bicara blak-blakan dan ditafsirkan tak sopan.

Eufimisme

Bacot Ahok memang sangat berbeda dengan bacot orang Indonesia kebanyakan. Ahok terbiasa dengan kata ‘berantem’, ‘Lu’, ‘Gua’ dan lain sebagainya. Harus diakui, di zaman Orde Baru, memang tidak ada atau tidak banyak orang yang berbicara apa adanya seperti Ahok. Ketika itu semua orang ‘wajib’ menghalus-haluskan, atau mengkias-kiaskan kata-kata. Jika ada orang sedikit berbicara apa adanya, atau to the point, langsung ditafsirkan sebagai pasti ada apa-apanya. Soeharto pernah mengeluarkan kata-kata berbunyi “Jenderal pun tak gebuk.”  Kata-kata itu dikeluarkan di pesawat dalam perjalanan pulang dari luar negeri. Kata-kata itu langsung heboh, jadi pergunjingan.  Soeharto tak diduga mengeluarkan  kata-kata seperti itu. Bahwa Soeharto mengeluarkannya dinilai sebagai pertanda situasi politik sedang bergejolak panas. Eufimisme menjadi bagian dari cara berkata-kata di masa Orde Baru.

Eufemisme berasal dari bahasa Yunani, euphemisme yang artinya berbicara baik. Eufemisme juga berarti elegan, halus, lemah lembut, meletakkan rapi dan baik. Kata-kata eufimis dipakai untuk menyebut sesuatu yang dirasakan mengganggu atau tidak enak. Kata-kata eufimis digunakan agar terdengar lebih enak. Caranya adalah mengganti kata-kata yang memiliki konotasi ofensif, menyerang, tidak enak, kasar, dengan ungkapan lain yang menyembunyikan kata yang tidak enak tersebut, atau mengubahnya menjadi sebutan yang sifatnya positif

Soeharto mungkin layak disebut sebagai Bapak Eufemisme. Karena selama 30 tahun ia berkuasa, semuan orang  berkata-kata dengan cara dihalus-haluskan, dikias-kiaskan. Mahasiswa yang garang pun ketika itu hanya satu dua saja yang berani menyebut kata ’ganyang’, ’gulingkan’ ’panjarakan’, ’adili’ dan lain sebagainya. Kata-kata seperti ini terakhir dikemukakan pada massa pembersihan orang-orang yang dianggap PKI. Setelah itu, utamanya setelah Soeharto berkuasa, semua kata yang diucapkan ’wajib’ dihalus haluskan. Kata ’buruh’ dihaluskan jadi kata ’pekerja’, kata ’utang luar negeri’ dihaluskan jadi ’bantuan luar negeri’, ’digusur’ dihaluskan jadi ’ditertibkan’, ’ditangkap’ dihaluskan jadi ’diamankan’, ’dipecat’ dari DPR dihaluskan jadi ’direcall’ dan lain sebagainya.

Sebagian orang geli bercampur senang dengan kata-kata yang dikeluarkan Ahok. Orang yang senang ini menilai cara Ahok berkata-kata sebagai cermin kejujuran, karena berani ngomong apa adanya.

Tetapi sebagian lainnya mempersoalkan cara berkata-kata itu. Mereka mempersoalkan Ahok dari segi bacotnya, bacot Ahok. Yang mana yang benar, yang senang dengan bacot Ahok atau yang mengangapnya tidak sopan?

Berkata-kata adalah fenomena budaya. Budaya itu sendiri adalah cermin cara manusia berfikir, merasa dan bertindak. Apakah bacot Ahok akan memicu perubahan budaya bangsa Indonesia? Untuk itu diperlukan penelitian. Namun satu hal jelas, cara Ahok berkata-kata yang blak-blakan tanpa dirasakan sebagai tokoh yang sudah membebaskan orang dari kewajiban menghalus-haluskan kata-kata sebagaimana terjadi pasa masa Orde Baru.

·         Petrus Barus, Pemimpin Redaksi Harian Pakuan Raya (PAKAR), harian lokal Bogor, tinggal di Bogor.



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *