Kab. Bogor

Ada Hama Wereng Cokelat di Ciampea dan Pamijahan, Pakar IPB Bergerak Cepat

Ulustrasi

BOGOR-KITA.com, DRAMAGA – Diam-diam, ada hama wereng menggerogoti batang cokelat di daerah Bojong Jengkol Kecamatan Ciampea dan Purwabakti Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Pakar IPB bergerak cepat. Selama tiga hari, mulai tanggal 15 sampai 17 Februari 2021, pakar IPB turun ke lokasi menyelesaikan masalah itu.

Dalam rilis dari IPB University kepada BOGOR-KITA.com, Senin (22/2/2021) disebutkan, Tim Departemen Proteksi Tanaman (PTN), Fakultas Pertanian IPB University melakukan respon cepat dengan adanya laporan serangan wereng batang cokelat (WBC) Nilaparvata lugens (Hemiptera: Delphacidae) di daerah Bojong Jengkol, Ciampea dan Purwabakti, Pamijahan.

Beberapa staf dari divisi hama PTN yaitu Dr Dewi Sartiami, Dr Idham Sakti Harahap, Dr Ruly Anwar, Dr R Yayi Munara Kusumah, Dr Pudjianto, Dr Nina Maryana, Bonjok Istiaji dan Nadzirum Mubin melakukan kunjungan untuk melihat dan membantu mengatasi permasalahan di lapangan.

Wereng cokelat merupakan hama utama pada tanaman padi. Serangannya, ketika populasi tinggi, dapat menyebabkan gejala pada padi terlihat seperti menguning dan kering sehingga seperti gejala terbakar “hopperburn” yang mengakibatkan padi gagal panen atau “puso”. Wereng cokelat menyerang sawah yang berupa petakan ataupun berupa hamparan (berhektar-hektar).

Baca juga  Rekor Baru Corona Indonesia, Positif 14.518, Jabar Pertama, 4.601

Sehingga, pada tahun 1986 muncul Instruksi Presiden (Inpres) tentang pengelolaan WBC karena sudah menyebabkan serangan pada sentra-sentra beras di Indonesia. Dan ini juga menunjukkan bahwa WBC merupakan serangga yang sangat ‘ganas’. Selain menyebabkan gagal panen, WBC juga bisa menjadi serangga vektor yang dapat menularkan virus kerdil rumput dan kerdil hampa.

Virus kerdil rumput dan kerdil hampa juga menyebabkan padi tidak mampu tumbuh dengan baik (upnormal) sehingga proses morfologis dan fisiologis tanaman menjadi terganggu.

“Serangan WBC yang di Bojong Jengkol-Ciampea maupun di Purwabakti-Pamijahan menyerang jenis padi yang sama yaitu varietas Inpari. Menurut Balai Besar PenelitianTanaman Padi (BBPADI), jenis varietas Inpari merupakan varietas yang agak rentan terhadap serangan WBC. Akan tetapi yang masih menjadi pertanyaan adalah, serangan WBC umumnya ditemukan menyerang padi di dataran rendah. Yang menjadi unik adalah serangan WBC ini ditemukan di dataran tinggi di daerah Purwabakti-Pamijahan dengan ketinggian sekitar 750 mdpl,” ujar Dr Dewi Sartiami.

Baca juga  4 Cara Atasi Cabin Fever Saat Pandemi

Menurut informasi dari warga yang bernama Handi, selain menyerang padi Inpari 32 di Purwabakti, Pamijahan, WBC juga menyerang padi vareitas lokal IR Kebo meskipun skala serangannya relatif rendah. “Pada musim tanam sebelumnya WBC ini belum pernah menyerang dan menyebabkan kerusakan,” ujarnya.

Sama halnya dengan Atta (65 th), jenis padi yang diserang WBC yaitu varietas Inpari 30 di Bojong Jengkol-Ciampea. Menurutnya, serangannya sangat parah (hampir 100 persen terserang) meski serangannya hanya berupa petakan, bukan hamparan.

Meskipun serangan WBC berbeda-beda tiap lokasi, Dr Dewi mengatakan bahwa perlu dilakukan antisipasi karena WBC dengan populasi yang tinggi dapat menjadi fase migran (G3) yaitu WBC dalam fase bersayap (Makroptera). Serangan WBC yang menyebabkan kerusapkan yaitu ketika fase puncak ‘brakiptera’ (G2) yang menyebabkan kerusakan karena saat fase tersebut.

Baca juga  Sekda Kabupaten Bogor Minta Tim TJSL dan Perangkat Daerah Saling Bersinergi

“Serangan WBC tidak hanya pada musim kemarau saja, tetapi musim penghujan juga sering terjadi di berbagai lokasi,” katanya.
Ada faktor biotik dan abiotik yang menyebabkan meningkatnya populasi WBC. Yakni peningkatan jumlah pupuk nitrogen yang diberikan, penyemprotan insektisida yang tidak tepat sasaran dan tepat dosis, penggunaan varietas yang tidak tahan, serta pola budidaya seperti penggunaan sistem tanam yang tepat.

“Sistem tanam yang dapat digunakan yaitu jajar legowo (2:1, 4:1 dan sebagainya). Sistem ini dapat mengurangi risiko peningkatan populasi WBC karena iklim mikronya tidak disukai WBC. WBC lebih menyukai kondisi pertanaman dengan kelembaban yang tinggi. Ketika petani menggunakan penanaman padi yang sangat rapat maka akan meningkatkan iklim mikro di bagian bawah pertanaman sehingga memicu peningkatan populasi WBC lebih cepat,” jelasnya. [] Admin

 

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top