Rhenald_Kasali

Surat Terbuka Prof Rhenald Kasali Tentang Begal APBD di DKI Jakarta

Rhenald Kasali

BOGOR-KITA.com –  Pernyataan Prof Rhenald Kasali tentang kejadian yang terjadi di DKI Jakarta terkait apa yang disebut begal APBD,  beredar di black berry massenger (bbm), Selasa (3/3/2015). Berikut selengkapnya.

Mengapa saya ingin kasus yang tengah terjadi di DKI Jakarta dibuat terang benderang? Jawabnya adalah karena penyakit ini merata terjadi di hampir seluruh propinsi dan kabupaten.

Setidaknya ada tiga dampak besar. Pertama, bahwa barang-barang yang diberikan negara bukanlah barang yang dibutuhkan rakyat, yang mengakibatkan rakyat tidak pernah merasakan kehadiran pemerintahnya.

Kedua, negara selalu dirugikan. Harga yang dibayar sangat mahal untuk kualitas barang sangat buruk. Bayangkan saja, nilai sebesar Rp1,302 triliun yang dipakai untuk membangun Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sekolan (P3SON) Atlet di Hambalang, akhirnya berakhir dengan terbengkalainya proyek tersebut.

Ketiga, pemain-pemain itu semakin kuat, semakin besar akumulasi modalnya dan merasuk ke pusat-pusat pengambilan keputusan di atas.

Kalau gubernur, bupati atau walikota bersih mereka akan menekan panitia-penitia lelang hinga satu level di bawah kepala dinas. Kalau mereka sudah dikawal oleh e-procurement dan sulit dimanipulasi maka mereka akan membeli orang-orang di legislatif.

Kalau e-budgeting sudah terjadi, maka terjadilah upaya-upaya pemakzulan. Tak mustahil pula mereka sudah punya cukup uang untuk “nyaleg” dan terpilih. Sehingga banyak yang telah menjadi bagian dari legislator atau pejabat yang sudah sering kita dengar peranannya.

Inilah sebenarnya musuh besar pasca-reformasi yang harus kita perangi secara bersama-sama.

Saya ingin mengajak orang-orang partai politik yang merasa dirinya masih bersih untuk ikut berperang melawan para begal yang merusak nasib jutaan warganya lewat proses lelang.

Kita warga Indonesia, bukan tengah membela Ahok, melainkan membela kepentingan kiita sebagai warga negara. Janganlah kita berpura-pura bodoh membaca kejadian ini hanya karena kita melihat dengan kacamata kepentingan atau ideologis. Ini adalah sebuah kejahatan terorganisir.

Prof Rhenald Kasali




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *