Kab. Bogor

The Power of Taman Bacaan

Oleh: Syarifudin Yunus,

(Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka Bogor)

BOGOR-KITA.com, BOGOR – The power of taman bacaan. Ini hanya istilah untuk siapa pun yang belum mengenal atau belum peduli kepada taman bacaan. Karena dianggapnya, taman bacaan hanya hal sepele. Hanya tempat membaca dan bersifat sosial. Tanpa tahu, manfaat dan dampak besar keberadaan taman bacaan di suatu daerah.

Apalagi di tengah gempuran era digital. Bukan tidak mungkin eksistensi taman bacaan kian terpinggirkan. Perilaku membaca pun kian langka. Lalu kita berdebat atau berdiskusi. Tentang pentingnya gerakan literasi, tentang pentingnya perilaku membaca. Akibat adanya hasil survei UNESCO yang menyebut minimnya indeks tingkat membaca orang Indonesia. Atau survei PISA yang menempatkan Indonesia sebagai negera kedua terendah dalam hal membaca buku di dunia. Begitulah nyatanya.

The power of taman bacaan.

Sejatinya, untuk mengembalikan kesadaran bersama. Tentang pentingnya perilaku giat membaca buku di era digital. Apalagi di kalangan anak-anak usia sekolah di tengah pandemi Covid-19. Pentingnya ikhtiar menyediakan akses buku bacaan daripada menuding minat membaca yang rendah. Dan sadar bahwa taman bacaan bukan hanya gdang buku atau tempat membaca semata. Tapi menjadi sentra pemberdayaan masyarakat, di samping menjadi media membangun peradaban masyarakat.

The power of taman bacaan. Taman bacaan adalah kekuatan.

Karena taman bacaan terbukti mampu berkiprah untuk 1) menekan angka putus sekolah, 2) menekan pernikahan dini, 3) menjadi lawan dari hobby gim online anak-anak, dan 4) jadi lawan tanding bahaya narkoba di anak-anak. Bahkan taman bacaan pun bisa jadi tempat pemberantasan buta aksara dan sosialisasi anak-anak difabel yang “tidak mendapat tempat” di sekolah formal atau masyarakat. Itu faktanya.

Baca juga  Bro, Kenapa Harus Membaca Buku di Masa Pandemi?

The power of taman bacaan. Realitas itulah yang dialami taman bacaan di kaki Gunung Salak Bogor. Sejak berdiri 4 tahun lalu, kini TBM Lentera Pustaka memiliki 168 anak pembaca aktif usia sekolah, dari sebelumnya hanya 60 anak di tahun 2020 dan 14 anak saat berdiri tahun 2017. Selain membaca membaca buku seminggu 3 kali, kini mencakup anak-anak yang berasal dari 3 desa, yaitu Sukaluyu, Tamansari, dan Sukajaya Kec. Tamansari Bogor. Lebih dari itu, TBM Lentera Pustaka pun menjalankan program -program lainnya seperti 1) Gerakan BERantas BUta aksaRA (GEBERBURA) dengan 9 warga belajar, 2) Kelas PRAsekolah (Kepra) dengan 25 anak, 3) Sosialisais Anak Difabel 3 anak, 4) YAtim BInaan (YABI) dengan 16 anak yatim, 5) JOMpo BInaan (JOMBI) dengan 8 lansia, 6) Koperasi Lentera dengan 25 anggota, 7) gerakan RAjin menaBUng (RABU), 8) DONasi BUKu, dan 9) LITerasi DIGital rutin seminggu sekali. Taman bacaan sebagai sentar pemberdayaan masyarakat, di samping menjadi taman bacaan yang inklusif dan ramah anak difabel.

Baca juga  Masuk Rektorat, Dosen IPB Harus Cek Suhu Tubuh

Maka di balik, banyaknya masyarakat atau korporasi yang belum mengenal aktivitas taman bacaan. The power of taman bacaan memiliki “kekuatan khas” yang patut diperhitungkan. Sebagai sarana pendidikan masyarakat (sesuai sebutan Kemdikbud RI), taman bacaan mampu menjadi “ujung tombak” pendidikan masyarakat dalam segala hal, bila mau dipahami bersama. Sebua ikhtiar membangun peradaban baik masyarakat yang “lebih dekat” dengan warganya, tidak seperti sekolah atau pendidikan formal.

Tapi sayang, the power of taman bacaan bukan tanpa kendala. Karena faktanya, 60% fasilitas taman bacaan yang ada di Indonesia belum memadai. Bahkan 63% koleksi buku pun tidak memadai. Begitulah hasil survei tata kelola taman bacaan yang dilakukan TBM Lentera Pustaka pada Juni 2019. Oleh karena itu, eksistensi taman bacaan di mana pun sangat membutuhkan sinergi dan dukungan dari berbagai pihak, baik donatur buku, relawan, dan korporasi.

Lalu bagaimana mewujudkan the power of taman bacaan?

Tentu ada banyak cara. Namun intinya adalah 1) memastikan tata kelola taman bacaan seoptimal mungkin bagi para pengelola taman bacaan dan 2) kepedulian masyarakat, relawan, korporasi untuk mendukung aktivitas taman bacaan. Karena taman bacaan sulit beroperasi tanpa kolaborasi dan sinergi dengan pihak lain.

The power of taman bacaan adalah kesadaran Bersama. Sebuah good will untuk menegakkan perilaku membaca dan gerakan literasi di bumi Indonesia. Ikhtiar mendekatkan anak-anak dengan buku bacaan sebagai cara meningkatkan ilmu pengetahuan, di samping menanamkan nilai-nilai nasionalisme dan pendidikan karakter anak-anak Indonesia.

Baca juga  Sandiaga Uno Rencanakan Penerapan ‘Free Covid Corridor’ di Kawasan Puncak

The power of taman bacaan, pada akhirnya bertumpu pada ikhtiar mengubah tiga persepsi yaitu:
1. Mengubah persepsi bahwa taman bacaan bukan hanya tempat membaca atau gudang buku. Tapi tempat membangun peradaban masyarakat. Masyarakat yang literat, masyarakat yang tidak terlibat hoaks, ujaran kebencian atau tertib sosial bisa dimulai dari taman bacaan.
2. Mengubah persepsi bahwa taman bacaan fokus pada ketersediaan akses buku bacaan ke anak-anak. Bukan menuding minat baca rendah. Karena tidak ada minat baca yang tinggi manakala ketersediaan akses buku bacaannya minim.
3. Mengubah persepsi bahwa taman bacaan butuh kolaborasi dan sinergi pihak lain. Tidak ada taman bacaan tanpa dukungan banyak pihak. Mau seperti apa dan bagaimana anak-anak kita ke depan?.

Bila ketiga hal di atas tercapai, maka the power of taman bacaan pun terwujud. Maka jangan remehkan eksistensi taman bacaan di mana pun. Agar peradaban masyarakat yang literat tetap bisa dipertahankan. Bahkan dibuat menjadi lebih baik, lebih optimal.

The power of taman bacaan.

Jika bisa saling peduli, mengapa memilih untuk tidak peduli? Karena tanpa membaca, siapa pun akan merana. Salam literasi.[]

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terpopuler

To Top