Rektor IPB Arif Satria

Produksi Pertanian Rendah, Rektor IPB Dorong Mahasiswa Jadi Technosociopreneur

BOGOR-KITA.com – Saat ini Indonesia dihadapkan pada sejumlah masalah dalam bidang pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan dan sosial ekonomi. Penguasaan dan penerapan teknologi pertanian rendah, input produksi rendah, kemampuan entrepreneur rendah dan pendapatan petani juga rendah. Maka mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) harus menjadi techno-socioentrepreneur, yakni pengusaha yang paham dan memanfaatkan teknologi tetapi memiliki jiwa sosial yang tinggi.

Dalam siaran pers yang diterima BOGOR-KITA.com Jumat (5/4/2019), masalah pertanian tersebut disampaikan Rektor IPB, Dr. Arif Satria saat memberikan pembekalan dalam Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik IPB tahun 2019, di Gedung Graha Widya Wisuda (GWW) Kampus IPB Dramaga, Bogor (30/3/2019).

Pembekalan KKN Tematik ini mengusung tema “Optimalisasi Pemanfaatan Wilayah Sumberdaya Alam berbasis Wilayah dan Pemberdayaan Masyarakat untuk Meningkatkan Kemandirian Pangan, Peningkatan Ekonomi Wilayah dan Kelestarian Lingkungan Menuju Era Industri 4.0.”

Dalam paparannya, Dr. Arif mengatakan IPB harus menjadi technosocioentrepreneurial university yang terdepan dalam memperkokoh martabat bangsa melalui pendidikan tinggi yang unggul pada tingkat global di bidang pertanian, kelautan dan biosains tropika.

“IPB mempuyai tanggung jawab moral untuk bisa berbuat, memperkuat dan meningkatkan pertanian di Indonesia dengan baik. Apalagi sekarang kita dihadapi pada situasi VUCA yaitu Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity. Volatility merupakan perubahan yang cepat (butuh speed atau kecepatan dalam menyelesaikan persoalan), uncertainty merupakan situasi saat ini tidak jelas sehingga butuh flexibility yang kuat, complexity adalah banyak faktor dalam membuat keputusan, butuh broad bandwidth dalam memahami keadaan. Sementara ambiguity adalah kurang jelasnya tentang arti sebuah kejadian maka butuh awareness yang jernih,” ujarnya di hadapan 5.550 mahasiswa IPB peserta KKN Tematik 2019.

Untuk itu KKN-T IPB hadir untuk membantu dalam memecahkan permasalahan yang ada di masyarakat dengan optimal. Selain itu, mahasiswa juga harus meningkatkan sifat jujur, disiplin, bekerja lebih keras, hard skill, soft skill dan mencintai apa yang dikerjakan. Harapannya, mahasiswa KKN-T IPB datang ke daerah bukan sebagai pakar akan tetapi untuk belajar bersama bagaimana berkomunikasi dan berkolaborasi dengan masyarakat dalam memecahkan persoalan yang ada di bidang pertanian dalam arti luas. “Mahasiswa merupakan duta IPB dan harus menjaga etika serta meningkatkan empati bagi masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, selaku penggagas KKN Tematik 2019, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB, Dr. Aji Hermawan dalam laporannya mengatakan bahwa KKN Tematik terus berkembang dari tahun ke tahun. KKN Tematik 2019 diikuti oleh sembilan fakultas di IPB. Belum semua fakultas ikut terlibat dalam KKN-Tematik 2019.

“Harapannya tahun depan semua fakultas yang ada di IPB ikut terjun langsung dalam KKN-T IPB, sehingga semua mahasiswa IPB merasakan pengabdian kepada masyarakat langsung ke desa. Tahun ini sebanyak 5,550 mahasiswa yang ikut serta. Terdiri dari 432 dari Fakultas Pertanian, 357 dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, 326 dari Fakultas Peternakan, 355 dari Fakultas Kehutanan, 97 dari Fakultas Teknologi Pertanian, 178 dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, 484 dari Fakultas Ekonomi dan Manajemen, 315 dari Fakultas Ekologi Manusia dan 96 dari Sekolah Bisnis,” ujarnya.

KKN Tematik ini juga melibatkan 262 dosen pembimbing lapang, 31 koordinator wilayah dan dilaksanakan di 84 kabupaten atau kota yang tersebar di 10 provinsi dan 84 kecamatan dan 420 desa atau kelurahan.

Dr. Aji menambahkan bahwa KKN-T IPB ini dapat mengasah softskilll, kemitraan, kerjasama tim lintas bidang ilmu (lintas profesi) dan leadership mahasiswa IPB dalam mengelola program pembangunan di wilayah pedesaan. Kegiatan KKN-T IPB juga diharapkan  menjadi kegiatan civitas akademika IPB dalam membantu memberikan solusi terhadap permasalahan masyarakat pedesaan yang dilakukan secara berkesinambungan sehingga memberikan manfaat yang optimal baik untuk masyarakat dan pemerintah daerah maupun bagi IPB sebagai lembaga pengemban Tridarma Perguruan Tinggi.

“Learning outcome KKN-T IPB adalah bagaimana mahasiswa mampu mengidentifikasi, merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi program pemberdayaan masyarakat dalam bidang pertanian dalam arti luas, bidang industri berbasis pertanian dan lingkungan secara terintegrasi. Mahasiswa  harus mempunyai kepedulian dan komitmen yang tinggi, terampil berkomunikasi dan bekerjasama antar profesi untuk berkontribusi dalam mengatasi permasalahan yang ada di masyarakat. Terakhir mahasiswa harus mempunyai rasa empati yang tinggi terhadap permasalahan yang ada di tengah-tengah masyarakat dan pemahaman terhadap adat istiadat dan budaya masyarakat setempat sehingga tercipta rasa kepedulian yang baik,” imbuhnya. [] Admin



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *