Kab. Bogor

Peduli Keselamatan Diri Sendiri

Oleh: Ade Yasin

BOGOR-KITA.com, CIBINONG – Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB yang mulai diberlakukan tanggal 15 April lalu sudah berjalan enam hari, sudah hampir setengah jalan dari 14 hari masa PSBB.

Evaluasi saya, selama enam hari PSBB, banyak yang sudah berdisiplin dan mematuhi aturan yang ada. Tetapi, masih banyak juga yang belum berdisiplin dan tidak mematuhi aturan PSBB.

Masih banyak yang keluar rumah tanpa tujuan yang jelas, masih banyak yang lalu-lalang di jalanan, masih banyak yang berkumpul lebih dari lima orang, masih banyak yang tidak menggunakan masker dan lain sebagainya.

Ketika meninjau penumpang kereta api di Stasiun Bojong pada Senin lalu, saya masih menemukan beberapa orang yang pergi ke Jakarta dengan alasan yang tidak jelas. Banyak pula yang tidak menggunakan sarung tangan, dan membiarkan diri duduk atau berdiri berdempetan dengan penumpang lain, mengabaikan imbauan jaga jarak atau physical distancing, atau social distancing.

Saya bertanya-tanya, mengapa masih ada warga masyarakat tidak mematuhi aturan yang ada dalam PSBB? Mengapa masyarakat mengabaikan imbauan pemerintah?

Semua imbauan pemerintah, semua aturan yang ada dalam PSBB, bukan untuk menyusahkan, melainkan untuk membantu masyarakat agar tidak tertular virus corona yang mematikan.

Baca juga  Mahasiswa IPB Turun ke Masyarakat Bantu Pulihkan Ekonomi Warga

Sudah hampir dua bulan virus corona masuk ke Indonesia, yang diawali dua kasus di Depok. Sejak saat itu hampir semua media, baik televisi, media online, radio, media cetak, memberitakan bahaya corona. Media sosial juga penuh dengan informasi bahaya corona.

Pembicaraan sehari-hari baik melalui WhatsApp (WA) maupun telepon juga didominasi oleh hal-hal yang terkait dengan corona. Imbauan diam di rumah, tinggal di rumah, jaga jarak, cuci tangan, pakai masker, dan lain sebagainya tak henti-hentinya disosialisasikan. Sekolah-sekolah juga  sudah tutup, ibadah di rumah, bekerja dari rumah.

Seharusnya sudah lebih dari cukup bagi masyarakat untuk mengerti dan oleh sebab itu seharusnya mematuhi aturan dalam PSBB.

Bahwa faktanya masih ada sebagian masyarakat yang belum mematuhi aturan dalam PSBB, cukup menjadi tanda tanya, mengapa mengabaikan keselamatan diri sendiri?

Ada ahli mengatakan, ada tiga golongan masyarakat yang tidak patuh PSBB. Pertama, orang yang mengerti bahaya corona, tetapi merasa diri sudah aman dari penularan. Kedua, orang yang tidak tahu apa itu PSBB, apa itu protokol kesehatan. Ketiga, golongan masyarakat yang mengerti bahaya corona, tetapi mengatakan terpaksa keluar rumah untuk mencari nafkah.

Sah-sah saja semua alasan yang dikemukakan. Tetapi satu hal adalah virus corona adalah virus mematikan. Di luar negeri seperti Amerika Serikat, Itali, dan belakangan viral video yang menggambarkan bagaimana rakyat Ekuador meninggal bergelimpangan karena corona.

Baca juga  Desa Ciawi Kabupaten Bogor Laksanakan PSBB

Belajar dari pengalaman masyarakat di negara maju seperti Amerika, Itali dan lain sebagainya itu, dapat disimpulkan, tidak ada jaminan bagi seseorang tidak tertular virus corona jika tidak tinggal di rumah, tidak menjaga jarak, apalagi menghampiri kerumunan.

Sekarang banyak dibicarakan apa yang disebut orang tanpa gejala atau OTG, yakni orang yang tampak sehat tetapi sesunggguhnya sudah tertular corona. Fenomena OTG ini semakin meyakinkan, tidak ada jaminan seseorang tidak tertular corona jika tidak menjaga diri, tidak menjaga keselamatan diri dengan tinggal di rumah, diam di rumah, tidak menjaga jarak, tidak kontak fisik dengan orang lain, apalagi menghampiri kerumunan.

Orang yang masih keluar rumah dan tidak patuh aturan PSBB karena tidak mengerti, apakah masih ada, mengingat semua pembicaraan saat ini tumpah ke masalah corona? Mungkin saja masih ada, tetapi saya yakin anggota keluarganya sudah pasti mengingatkannya.

Alasan keluar rumah karena harus cari nafkah, lebih masuk akal. Berat memang kalau tidak ada pemasukan secara ekonomi.

Tetapi siapakah yang tidak merasakan beratnya situasi sekarang ini. Siapakah yang tidak terdampak oleh pandemi corona? Tidak sedikit perusahaan bangkrut, tidak sedikit orang yang dirumahkan dan di PHK. Semua merasakan beratnya menghadapi keadaan di tengah pandemi ini.

Baca juga  Warga RW 08 Sentul City Tuntut Plang Swakelola di Areal PSU Dicabut

Saya lebih meyakini bahwa orang yang masih ke luar rumah dan tidak mematuhi aturan PSBB adalah orang yang tidak bisa move-on, orang yang belum biasa mengubah kebiasaan-kebiasaan sebelum ada corona.

Orang yang dinyatakan terkonfirmasi positif corona pasti sangat menyakitkan. Mental akan jatuh karena obat corona belum ada. Belum lagi situasi rumah sakit yang saat ini penuh dengan pasien. Selain itu, orang-orang terdekat bisa ikut tertular. Juga akan sangat memilukan karena jika sudah tertular, harus diisolasi di rumah sakit, sendiri, di ruang tersendiri, tanpa bisa dibesuk oleh keluarga dan orang-orang terdekat.

Oleh sebab itu, move-on lah, ubahlah kebiasaan-kebiasaan sebelumnya sampai pandemi ini berakhir. Patuhilah aturan PSBB, tinggalah di rumah, diamlah di rumah, kalau harus keluar rumah, pakailah masker, dan jaga jarak dengan orang lain. Perdulilah pada kesehatan diri sendiri, pedulilah pada keselamatan diri sendiri.

Dengan menjaga diri sendiri, berarti telah turut andil menjaga orang lain.[]

Cibinong, 22 April 2020

Bupati Bogor

Ade Yasin

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top