Nasional

Pakar Perilaku Konsumen IPB University: Perlu Multichannel Strategy untuk Gaet Konsumen

Prof Erika B Laconi

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Konsumen 4.0 memiliki ciri-ciri fokus pada produk custom dan personal, membutuhkan banyak gambar dan video grafik, kental dengan hal-hal internet of things (IoT), digital channel and communication, banyak menggunakan smartphone, serta market place.

“Jadi penting bagi kita untuk mengetahui target dan perilaku konsumen. Dan kita menyesuaikan dengan itu. Sekarang salah satu perilaku konsumen adalah sangat akrab dan adaptif dengan IoT, software, aplikasi dan sebagainya,” ujar Pakar Perilaku Konsumen dari IPB University, Prof Ujang Sumarwan saat menjadi narasumber dalam Serial Webinar 2021 “IPB Innovation and Business Sustainability”, Rabu (28/7/2021).

Kegiatan ini digelar oleh Science Techno Park (STP) IPB University sebagai upaya akselerasi inovasi untuk mewujudkan Technosociopreneurial University sehingga dapat meningkatkan daya saing bangsa.  Menurut Dekan Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB University ini, konsumen tersebut dibagi lagi menjadi dua kategori yakni multi-channel shopper dan omni-channel shopper. Perbedaannya, konsumen omni-channel mencari informasi di internet dengan menggunakan kombinasi dari berbagai channel serta membandingkan dan membeli produk secara simultan. Marketer juga dapat memanfaatkan database seperti google trends untuk memahami tren konsumen saat ini.

Baca juga  IPB University Layani 3.803 Peserta UTBK Gelombang 2, Protokol Ketat Diterapkan

Oleh karenanya, pemahaman konsep marketing 4.0 ini menjadi penting dalam menanggapi perubahan perilaku konsumen.  Kini, konsumen terkoneksi dengan semua yang dibutuhkan, ditambah dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi dan internet.

“Marketer perlu menggunakan multichannel strategy. Mengingat baik marketer maupun konsumen kini saling terkoneksi dengan pasar,” imbuhnya.

Selain Prof Ujang, webinar ini juga menghadirkan dua alumni IPB University yang pernah menjadi tenant inkubator bisnis IPB University. Mereka adalah Indra Thamrin, SKpm, MM (CEO Your Tea Group) dan Laras Widyaputri, SE (CEO Ecodoe.com).

Keduanya sepakat bahwa dengan bergabung menjadi tenant di STP IPB University, mereka mendapatkan berbagai benefit atau manfaat. Terutama tentang pengetahuan bisnis untuk para tenant. Misalnya terkait pemasaran, manajemen keuangan, dan operasional.

“Pelatihan digital marketing  yang krusial bagi produsen juga turut diberikan agar produsen dapat menyampaikan jasa kepada konsumen tanpa halangan,” ujar Indra.

Baca juga  IPB University dan PPI Kukuhkan 434 Insinyur, Salah Satunya Menteri Siti Nurbaya Bakar

Laras menambahkan bahwa bekerja sama dengan STP IPB University merupakan momen yang mencerahkan. STP IPB University tidak sekedar kampus dan inkubator melainkan network dan ekosistem bisnis. Ia juga mendapatkan perubahan mindset sehingga dapat memberikan dampak lebih jauh lagi.

“Saya belajar dari STP IPB University dan tenant bisnis yang lain bahwa bisnis bukan hanya produk tapi bagaimana kita bertemu dengan pasar secara digital dan tentunya menumbuhkan team dan leadership kita,” ungkapnya.

Dr Tri Prartono, Wakil Kepala Bidang Inovasi dan Teknologi STP IPB University dalam paparannya menyebutkan bahwa proses alih teknologi sangat penting agar dapat mentransferkan produk yang dikembangkan dari lembaga riset ke masyarakat. STP IPB University sendiri telah membuat inovasi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan terencana berdasarkan road map yang telah disusun.

“Inventor menjadi ‘dapur’ dalam membangun start up. Dan STP IPB University sebagai pintu dari segala inovasi,” imbuhnya. Pelaksanaan alih teknologi meliputi kegiatan promosi inovasi, pemberian hibah, dan pembiayaan start up business. Adapun bentuk komersialisasi invensi yakni dalam bentuk lisensi (ekslusif dan non-ekslusif), start up, spin off dan joint ventura.

Baca juga  Science Techno Park IPB University Terus Tumbuhkan Startup Inovatif

“Kami sendiri juga telah membuat pedoman komersialisasi inovasi (KKI). Ini untuk mengantisipasi seandainya nanti ada inovasi yang diminati oleh industri tetapi belum dilakukan valuasi teknologinya. Sehingga kami sudah punya kisaran acuan besaran nilai royalti dari nilai revenue atau omset,” jelasnya.

Prof Erika B Laconi selaku Wakil Rektor Bidang Inovasi dan Bisnis/Kepala Lembaga Kawasan Sains dan Teknologi (LKST) IPB University berharap webinar ini dapat memberikan yang terbaik bagi para peserta.

“Mudah-mudahan memberikan banyak informasi agar kita bisa melakukan beberapa transformasi digital dalam bisnis bagi para startup dan pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia,” ujarnya. [] Hari

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top