Kab. Bogor

Jalan Sempit Hambat Wisata Puncak

BOGOR-KITA.com, CISARUA – Infrastruktur masih menjadi kendala pengembangan kawasan wisata di Puncak, Kabupaten Bogor. Salah satu persoalan yang dikeluhkan warga dan pelaku usaha ialah kondisi jalan yang sempit di sejumlah jalur menuju destinasi wisata.

Di Desa Batulayang, Kecamatan Cisarua, misalnya, terdapat sejumlah tempat wisata dan kafe yang ramai dikunjungi wisatawan. Namun akses menuju lokasi dinilai belum memadai karena lebar jalan rata-rata hanya sekitar tiga meter.

Dadang, pemilik bengkel motor di Desa Batulayang, mengatakan kendaraan yang berpapasan di ruas jalan sempit kerap memicu antrean panjang. Menurutnya, pengendara harus bergantian melintas karena badan jalan tidak cukup lebar.

“Kalau dua kendaraan bertemu di titik yang sama, biasanya harus saling menunggu. Kondisi seperti itu sering bikin kemacetan,” ujar Dadang, Senin (18/5/2026).

Baca juga  Jelang Ramadan, THM dan Panti Pijat di Bogor Bakal Dirazia

Kondisi serupa juga terjadi di jalur alternatif Gadog–Cikopo Selatan. Ruas jalan yang menjadi akses menuju hotel, tempat wisata, dan kafe itu sebagian besar memiliki lebar sekitar tiga hingga empat meter.

Akibatnya, arus lalu lintas di kawasan tersebut kerap tersendat, terutama saat akhir pekan dan musim liburan. Kendaraan dari dua arah harus bergantian melintas di sejumlah titik.

Anggota DPRD Kabupaten Bogor, Slamet Mulyadi, mengatakan banyak jalur alternatif di kawasan Puncak belum memenuhi standar ideal, padahal kawasan tersebut terus berkembang sebagai destinasi wisata.

Menurut dia, pemerintah daerah perlu memberi perhatian terhadap pembangunan infrastruktur agar pengembangan sektor pariwisata dapat berjalan optimal dan berdampak pada pendapatan daerah.

Baca juga  Dosen dan Mahasiswa IPB Terpilih Menjadi 2 dari 20 Peneliti Dunia Isu Perbaikan Perikanan

“Kalau ingin kunjungan wisata terus meningkat, tentu infrastrukturnya juga harus mendukung. Dampaknya nanti akan kembali ke pendapatan asli daerah,” katanya.

Ia juga meminta pemerintah tidak hanya berfokus pada penerimaan pajak dari sektor wisata, tetapi turut memperhatikan perbaikan fasilitas penunjang, terutama akses jalan.

“Jangan hanya menarik pajak, tetapi pembangunan infrastrukturnya juga harus diperhatikan,” ujarnya.

Slamet mengapresiasi langkah Kecamatan Megamendung yang mulai melakukan optimalisasi jalur alternatif, termasuk pelebaran jalan di beberapa titik melalui hibah lahan dari warga.

“Informasinya pelebaran jalan dilakukan dari hibah masyarakat. Ini langkah yang bagus dan patut dicontoh. Di Cisarua juga seharusnya ada upaya serupa,” katanya. [] Danu

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top