Jalan Pedati Berhasil Ditata, Dedie Rachim Sebut Relokasi Pedagang jadi PR
BOGOR-KITA com, BOGOR -Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, kembali meninjau kawasan Jalan Pedati, Kecamatan Bogor Tengah, pada Rabu (22/4/2026). Peninjauan ini dilakukan untuk melihat langsung perkembangan penataan kawasan sekaligus dampaknya terhadap volume sampah dan aktivitas pedagang.
Dedie mengungkapkan bahwa terjadi penurunan signifikan pada volume sampah harian di kawasan tersebut. Jika sebelumnya jumlah sampah mencapai sekitar 20 ton per hari, kini berkurang menjadi sekitar 8 ton per hari.
“Kalau kita ukur dari jumlah sampah harian, biasanya 20 ton per hari. Hari ini dari laporan DLH berkurangnya sangat signifikan, kurang lebih masih ada sekitar 8 ton. Jadi hampir dua pertiganya sudah berkurang,” ujar Dedie.
Meski demikian, ia menekankan bahwa pekerjaan rumah (PR) berikutnya adalah memastikan para pedagang yang telah direlokasi ke Pasar Jambu Dua dan Sukasari dapat berjualan dengan nyaman dan tetap mudah diakses oleh pelanggan.
“PR-nya adalah bagaimana para pedagang yang kita relokasi itu bisa nyaman. Artinya pelanggan mereka tetap bisa mengakses. Ini menjadi tugas Perumda Pasar agar mereka bisa tetap berjualan dengan baik, bertahap sambil diberikan insentif,” jelasnya.
Dedie juga mengaku sempat berdialog langsung dengan para pedagang. Dari hasil dialog tersebut, diketahui bahwa sebagian besar pembeli justru berasal dari luar wilayah Kota Bogor, seperti Cisarua, Ciawi, Ciapus, dan Cihideung.
“Rata-rata pembeli datang dari luar kota. Padahal wilayah-wilayah itu juga merupakan sentra produksi. Jadi ke depan perlu ada strategi untuk mendekatkan konsumen dengan produsen,” katanya.
Ia menambahkan, salah satu solusi yang sedang dipertimbangkan adalah pembangunan pasar di wilayah perbatasan Kota Bogor, untuk mengakomodasi tingginya permintaan dari daerah tersebut.
“Mungkin kita perlu membangun pasar di perbatasan, misalnya antara Kota Bogor dengan Ciawi, atau di Bogor Barat, Selatan, Timur, dan Tanah Sareal. Karena ternyata demandnya dari sana,”ungkapnya.
Selain itu, akses transportasi juga menjadi faktor penting yang memengaruhi perpindahan pelanggan ke lokasi relokasi. Beberapa pedagang mengeluhkan minimnya angkutan yang masuk ke dalam area pasar.
“Ada pedagang yang sudah bersedia pindah ke Jambu Dua, tapi kendalanya pelanggan belum ikut pindah. Mereka berharap ada kemudahan akses angkutan agar bisa masuk ke dalam pasar,” pungkasnya. [] Ricky
