Disbudparekraf: Bahasa Sunda hHarus Betul-betul Dilestarikan

Disbudparekraf: Bahasa Sunda hHarus Betul-betul Dilestarikan

BOGOR-KITA.com – Sebanyak 50 peserta perwakilan guru SD, SMP dan SMA se-Kota Bogor mengikuti Workshop Bahasa Sunda dan Kaulinan Urang Lembur yang digelar Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Kota Bogor. Workshop yang digelar di Kedai Aer Mantjoer Bogor dibuka oleh Kepala Disbudparekraf Kota Bogor Shahlan Rasyidi, Rabu (26/10/2016).

Shahlan mengungkapkan, kegiatan workshop digelar selama dua hari tanggal 26-27 Oktober 2016. Tujuan digelarnya kegiatan ini untuk melestarikan Bahasa Sunda dikalangan guru kesenian agar mereka bisa menerapkan Bahasa Sunda kepada siswanya di sekolah masing-masing. Mulai dari tingkat SD sampai SMA.

Bahasa Sunda sebagai bahasa ibu di Jawa Barat harus betul-betul dikembangkan dan dilestarikan. Hal ini sesuai dengan Perda Nomor 5 tahun 2014 tentang bahasa dan sastra sunda. Artinya Bahasa Sunda harus diajarkan di tiap-tiap sekolah dan lebih bagus lagi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Di Kota Bogor hal ini bisa diterapkan dalam Rebo Nyunda. “Harapan kami semua guru-guru di sekolah bisa menggunakan Bahasa Sunda setiap hari Rabu saat mengajar,” ujar Shahlan.

Dalam penerapannya Shahlan mempersilahkan mencampur Bahasa Sunda dengan Bahasa Indonesia atau dengan Bahasa Bogor dan Priangan. “Sekarang ini kan guru-guru setiap hari Rabu sudah menggunakan baju adat sunda tinggal bahasanya yang harus kita terapkan mulai dari sekarang,” jelasnya.

Selain untuk melestarikan dan mengembangkan, Bahasa Sunda juga merupakan bahasa ibu yang merupakan warisan leluhur yang harus dijadikan tolok ukur pengembangan bahasa sunda di kalangan pelajar dan masyarakat. Tolok ukur ini bukan berarti anak-anak harus mendapat nilai yang baik, tetapi minimal anak-anak tidak malu atau gengsi berbicara Bahasa Sunda. “Kalau penerapannya sudah baik pasti anak-anak akan mengikuti.

Demikian juga dengan Kaulinan Urang Lembur, dulu ini sering digunakan di kampung-kampung. Namun sekarang pun di kampung-kampung sudah melupakan permainan ini. Oleh karena itu digelar juga workshop kaulinan urang lembur agar bisa diterapkan di sekolah masing-masing. “Upaya pelestarian tidak hanya melalui workshop saja, kami tiap tahun menggelar lomba kaulinan urang lembur. Tujuan utamanya memasyarakatkan permainan tradisional atau kaulinan urang lembur,” beber Shahlan.

Harapan ke depan, sekolah-sekolah di Kota Bogor dalam setiap kegiatan ulang tahun, 17-an, hari pendidikan dan kegiatan lainnya memasyarakatkan lomba kaulinan tradisional. Bahkan bisa saja dijadikan icon untuk setiap lomba. Kaulinan urang lembur bentuknya sederhana tetapi bisa mengimajinasi anak-anak untuk kreatif dan sebagai sarana refreshing.

Pada workshop kali ini tema yang diusung yaitu “Mari kita lestarikan dan kembangkan Bahasa Sunda sebagai bahasa ibu dan kaulinan urang lembur sebagai seni budaya tradisional.” [] Admin



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *