Direktur DEEP Yusfitriadi

Calon Ketum PAN, Bima Dinilai Akan Dapat Dorongan dari Istana

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Bukan tidak mungkin Bima Arya akan mendapat dorongan kuat dari orang-orang sekitar istana dalam bursa Calon Ketua Umum (Ketum) PAN.

Hal ini dikemukakan oleh pengamat politik dari Democracy and Electoral Empowerment Partnership (DEEP), Yusfitriadi kepada BOGOR-KITA.com, Sabtu (16/11/2019) menanggapi masuknya nama Wali Kota Bogor itu dalam bursa Calon Ketum PAN di Kongres 2020.

Menurut Yusfitriadi kondisi kongres ini tidak terlepas dari dinamika Pileg dan Pilpres 2019. Pada Pilpres 2019, Bima Arya merupakan salah satu pendukung Jokowi-Ma’ruf, padahal partainya secara resmi dan tegas mengusung pasangan Prabowo – Sandi.

“Tentu kondisi ini pun yang akan menjadi pertimbangan seluruh struktur PAN yang akan mempunyai hak pilih di kongres PAN ke depan,” kata Yusfitriadi.

Yus sapaan akrab Yusfitriadi, mengatakan ampir semua partai tahun 2019 -2020 ini ramai -ramai melaksanakan kongres. Tentu kondisi kongres ini tidak terlepas dari dinamika pileg dan pilpres 2019 kemarin, karena keberadaan partai dengan karakter dan visi pemimpinnya tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik pada pileg dan pilpres 2019.

Termasuk dalam hal ini PAN yang segera akan melaksanakan kongres yang salah satu agendanya adalah memilih kepemimpinan yang baru.

“Kalau melihat partai-partai yang sudah melaksanakan kongres atau Munas pada tahun 2019 ini, di antaranya NASDEM, PKB dan PDIP, salah satu hasilnya mengukuhkan kembali ketua lama sebagai ketua parpol periode 2019 -2024. Begitupun Golkar dalam waktu dekat akan munas, nampaknya Airlangga yang kembali akan memimpin golkar,” ujar Yus.

Yus menilai kondisi PAN lebih dinamis, selain ketua lama Zulkifli Hasan akan dicalonkan kembali, muncul calon –calon pemimpin muda yang nampaknya akan ikut meramaikan bursa calon ketum DPP PAN, seperti Hanafi Rais dan Bima Arya. Hanafi Rais merupakan keturunan darah biru di PAN, karena dia merupakan salah satu anak dari pendiri dan tokoh PAN Amien rais. Tentu akan mendapatkan tempat tersendiri di hati para pemilih yang memiliki hak pilih di kongres PAN  ke depan. Apalagi sosok Hanafi Rais tidak bisa dilepaskan dari sosok Amien Rais yang sangat keras melawan pencalonan Jokowi-Ma’ruf kemarin.

“Adapun Zulkifli Hasan, merupakan sosok yang terlihat mencari aman dalam dinamika politik pasca pileg dan pilpres ini, sehingga PAN terlihat tidak jelas kelaminnya, mau koalisi atau mau oposisi, walaupun tidak ada satupun kader PAN yang duduk di Kabinet Indonesia Maju,” tambahnya.

Dengan peta politik sederhana di atas, menurut Yus, maka jelas Bima mempunyai peluang untuk memenangkan pertarungan pada kongres PAN ke depan.

Namun menurutnya, seperti halnya karakteristik partai politik yang ada di republik kita ini, prinsip demokrasi dalam setiap pengambilan keputusan tidak pernah bulat, selalu saja ada unsur prinsip anti demokrasi yang menungganginya. Seperti politik dinasti, politik kekuasaan dan politik pragmatis. Posisi Amin Rais masih cukup kuat pengaruhnya di PAN, mulai DPP sampai struktur politik paling bawah. Buktinya sudah bisa membangun politik dinasti, dengan menempatkan hampir seluruh anaknya pada kursi parlemen. Begitupun dalam kongres PAN  ke depan, siapa yang akan menduduki posisi ketua umum PAN akan sangat ditentukan oleh pendiri  PAN tersebut, seperti halnya pada kongres- kongres PAN terdahulu. [] Hari



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *