Buka puasa bersama dengan sejumlah tokoh ICMI serta KAHMI Bogor di kediaman Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria di kawasan Sentul City, Kabupaten Bogor, Jumat (10/5/2019).

Buka Puasa di Kediaman Rektor IPB, Bima Bicara Post Truth  

BOGOR-KITA.com – Post-truth. Istilah post-truth mendadak populer dipicu kampanye pilpres. Istilah yang post-truth yang cenderung menjadi konsumsi kalangan akademis dan orang-orang tertentu di lingkaran praktisi politik, kini menjadi asupan sehari-hari masyarakat.

Istilah post-truth pertama kali diperkenalkan Steve Tesich, dramawan keturunan Amerika-Serbia. Tesich melalui esainya pada harian The Nation (1992) menunjukkan kerisauannya yang mendalam terhadap fenomena post-truth,  melalui maraknya  upaya  memainkan opini publik dengan mengesampingkan dan bahkan mendegradasi fakta dan data informasi yang objektif. Dalam politik, post-truth sengaja dimainkan untuk mengarahkan masyarakat lebih mencari pembenaran dari pada mencari kebenaran.

Soal post-truth ini pula yang diangkat Bima Arya dalam silaturahmi sekaligus buka puasa bersama dengan sejumlah tokoh (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) serta Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Bogor di kediaman Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria di kawasan Sentul City, Kabupaten Bogor, Jumat (10/5/2019).

Bima Arya mengawali dengan mengemukakan pengamatannya tentang situasi dan kondisi kehidupan masyarakat pasca pemilu serentak beberapa waktu lalu.

“Sebenarnya bangsa ini bisa terpecah dan terbelah akibat politik.  Saya tak ingin menyatakan mana yang benar, mana yang salah. Tapi terus terang hal ini menjadi persoalan yang sangat serius,” ungkap Bima.

Bima kemudian masuk ke post-truth tadi. Post-truth, kata Bima yang sebelum menjadi Walikota Bogor dikenal sebagai pengamat politik, adalah kata sifat yang berarti suatu keadaan di mana daya tarik emosional lebih berpengaruh dalam membentuk opini publik daripada fakta yang objektif.

“Ketika fakta dan data menjadi relatif dikalahkan oleh keyakinan, dan ketika keyakinan menjadi kebenaran bukan lagi fakta dan data. Argumentasinya panjang karena fakta dan data itu interpretasi subjektif dari individu. Persoalan ini terjadi di mana-mana ini yang membuat banyak masyarakat tak lagi percaya pada fakta dan data,  ketika diajak berbicara mereka sontak meresponnya dengan keyakinan,” jelasnya.

Dalam situasi saat ini, menurut Bima, kunci agar tetap bersatu adalah kebersamaan dan gotong royong. Di bulan ramadhan ini merupakan waktu yang cocok untuk melakukan beberapa hal kebaikan seperti menjalin silaturahmi dan berbuka puasa bersama.

“Oleh karena itu saya harapan masyarakat agar ikut mencermati post-truth yang sedang terjadi saat ini. Post-truth ini sangat berbahaya karena pangkalnya pada individualisme dan liberalisme yang harus dilawan dengan kolektivitas dan kebersamaan,” tegasnya.

Di akhir sambutan, Bima tak lupa sampaikan ucapan selamat kepada Rektor IPB Arif Satria atas terpilihnya sebagai Ketua Forum Rektor Indonesia periode 2020 – 2021. Bima juga mengucapkan selamat atas terpilihnya sembilan lulusan IPB yang masuk DPRD Kota Bogor.

Turut hadir pada acara tersebut CEO Radar Bogor Group Hazairin Sitepu, para Rektor se-Bogor, Kepala Staf Korem 061/Suryakencana dan Kapolres Bogor serta para tokoh lainnya. [] Admin/Humas Pemkot Bogor



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *