Menristek Bambang P. S. Brodjonegoro di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Graha BNPB, Jakarta, Minggu (3/5/2020).

Bibit Vaksin Merah Putih Bakal Siap pada Awal Februari 2021

BOGOR-KITA.com, JAKARTA – Meski sudah bekerjasama dengan beberapa pihak, seperti Sinovac Cina, Korea Selatan dan CEPI (Coalition for Epidemic, Preparedness and Innovation), Indonesia tetap mengembangkan sendiri vaksin Covid 19 yang diberinama Vaksin Merah Putih.

Vaksin Merah Putih kini tengah dalam tahap menuju uji coba kepada hewan mamalia. Ditargetkan bibit Vaksin Merah Putih tersebut sudah tersedia pada awal Februari 2021 dan siap untuk diuji klinis ke manusia.

Menurut Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/ Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro, pengembangan Vaksin Merah Putih hingga saat ini masih dalam tahap kloning protein untuk mendapatkan protein rekombinan.

“Prosesnya sampai saat ini sedang menyiapkan kloning dari proteinnya yang nantinya akan diujicobakan untuk mamalia hewan, sebelum masuk ke uji klinis ke manusia,” kata Menristek Bambang dalam konferensi pers virtual terkait Rapat Koordinasi Nasional Prioritas Riset Nasional Tahun 2020 (Rakornas PRN 2020), Jakarta Pusat, Kamis (13/8/2020).

Penelitian dan pengembangan Vaksin Merah Putih merupakan bagian dari upaya untuk mempercepat diperolehnya vaksin dan membangun kemandirian bangsa.

Baca juga  Reliji Gelar Bedah Buku “Jokowi Istiqomah Membangun Negeri” untuk Melawan Hoax

Menristek Bambang menjelaskan, vaksin Merah Putih menggunakan platform protein rekombinan, yang mana riset dan pengembangannya dipimpin oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

Riset vaksin itu sudah dimulai sejak Maret 2020. Lembaga Eijkman menargetkan bibit Vaksin Merah Putih akan diperoleh pada awal 2021 sekitar bulan Februari atau Maret.

Bibit vaksin itu akan diserahkan ke PT Bio Farma untuk menyiapkan dan memproduksi kandidat vaksin untuk persiapan uji klinis pada manusia mulai tahap 1.

Setelah lolos uji klinis tahap 1, masih ada tahap 2 dan 3. Uji klinis dilakukan untuk melihat manfaat dan keamanan dari kandidat vaksin itu.

Pada uji klinis tahap 1, dilakukan uji keamanan dan imunogenisitas vaksin pada beberapa orang yang risiko rendah, umumnya orang dewasa muda yang sehat, untuk menguji tolerabilitas terhadap vaksin.

“Kita harapkan proses kloning ini bisa berjalan lancar sehingga nanti ketika sudah diujicobakan ke hewan yang mungkin makan waktu satu bulan, setelah itu harapan kita kalau memang efektif di hewan maka bisa mulai diujicobakan dengan diserahkan ke Bio Farma,” ujar Bambang.

Baca juga  Agar Indonesia Tak Masuk Jurang Resesi, Ini Saran Guru Besar IPB University

Sementara untuk kerjasama dengan Sinovac Cina, mulai 11 Agustus 2020 sudah dijalani uji klinis terhadap 1.620 sukarelawan di Bandung. [] Anto 



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *