Kota Bogor

Pemkot Bogor-KAI Tata Kawasan Stasiun Bogor, Integrasi Transportasi Ditargetkan 2027

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Pemerimtah Kota (Pemkot) Bogor bersama PT KAI akan melakukan Pengembangan kawasan Stasiun Bogor. Pengembangan itu menyasar fasilitas perkeretaapian, tetapi juga konektivitas dengan angkutan umum, ruang publik, hingga aktivitas ekonomi.

Rencana itu terungkap setelah Pemkot Bogor dan PT KAI menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) penataan dan pengembangan kawasan Stasiun Bogor di Stasiun Bogor Gate Alun-alun Kota Bogor, Senin (7/9/2026).

Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menyebut kerja sama dengan PT KAI menjadi momentum untuk menyatukan berbagai rencana penataan kawasan yang berada di sekitar Stasiun Bogor.

Menurutnya, sejumlah ruas jalan di sekitar stasiun memang telah masuk dalam agenda penataan Pemkot Bogor. Karena itu, rencana pengembangan yang dilakukan PT KAI perlu diselaraskan agar perubahan kawasan dapat berjalan secara menyeluruh.

“Jadi kami menyambut baik, menyambut gembira, tinggal nanti menyinkronkan dengan apa yang sudah kami rencanakan dan apa yang sudah teman-teman PT KAI laksanakan,” kata Dedie.

Penataan akan dilakukan secara bertahap. Pada tahap awal, Pemkot Bogor akan membenahi Jalan Nyi Raja Permas hingga ujung Jalan MA Salmun.

Baca juga  Gandeng Yayasan Buddha Tzu Chi, DPS Kirim Bantuan 30 Tabung Oksigen ke RSUD

Langkah tersebut kemudian dilanjutkan pada 2027 dengan penataan Jalan Mayor Oking dan Jalan Kapten Muslihat.

Tak berhenti di kawasan tersebut, Pemkot Bogor juga menyiapkan perubahan fungsi Jalan Dewi Sartika sebagai jalan protokol. Penataan akan dilakukan setelah masa Build Operate Transfer (BOT) PT Propindo berakhir.

Dedie mengatakan, salah satu pekerjaan yang akan dilakukan adalah menertibkan bagian bangunan yang menghalangi ruang jalan.

“Nanti kita akan lakukan pemotongan atau pembongkaran supaya Jalan Dewi Sartika itu tidak ada obstaclenya, tidak terhambat oleh bangunan. Sehingga dari Alun-Alun sampai dengan Jalan Sawojajar itu lurus,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT KAI (Persero) Bobby Rasyidin mengatakan bangunan Stasiun Bogor yang memiliki sejarah sejak 1881 akan menjadi muka dari konsep New Stasiun Bogor.

Pengembangan kawasan tersebut akan bertumpu pada tiga konsep utama. Pertama adalah memperkuat konektivitas Stasiun Bogor dan Stasiun Paledang dengan kawasan di sekitarnya.

Baca juga  Kota Bogor akan Punya Skywalk, Seperti Apa?

Konsep kedua adalah membangun konektivitas antarmoda. Stasiun nantinya tidak hanya terhubung dengan perjalanan kereta, tetapi juga Trans Pakuan, angkutan daring, serta moda transportasi lainnya.

Bahkan, PT KAI bersama Pemkot Bogor membuka kemungkinan hadirnya moda seperti LRT perkotaan atau trem perkotaan yang nantinya dapat terintegrasi di kawasan tersebut.

“Di situ ada Trans Pakuan, kemudian ada angkutan daring juga. Dan angkutan-angkutan yang lain, bahkan diskusi dengan Pak Wali juga bagaimana kita menghadirkan apakah konsepnya LRT perkotaan atau trem perkotaan. Nanti terintegrasinya semuanya di sini,” jelas Bobby.

Konsep ketiga menyangkut penataan ruang kawasan melalui pendekatan Transit Oriented Development (TOD). Kawasan stasiun nantinya tidak hanya menyediakan ruang terbuka, tetapi juga ruang usaha dan aktivitas ekonomi.

Dengan demikian, kawasan Stasiun Bogor diharapkan dapat berkembang menjadi pusat aktivitas perkotaan yang mempertemukan kebutuhan transportasi, ruang publik, dan kegiatan ekonomi.

Transformasi Stasiun Bogor sebenarnya telah mulai berjalan. PT KAI sebelumnya melakukan pengembangan terhadap peron 6, 7, dan 8.

Baca juga  Senam Tera Indonesia Kota Bogor Raih Perunggu di FORNAS VII Jabar  

Ketiga peron tersebut sempat ditutup selama sekitar tiga bulan untuk pekerjaan. Setelah dibuka kembali, peron dibuat lebih panjang dan telah dilengkapi kanopi.

Bobby menyebut peningkatan fasilitas tersebut berdampak pada kapasitas pelayanan penumpang.

“Ini bisa menambah kapasitas angkut 30 persen harian daripada sebelumnya,” katanya.

PT KAI saat ini juga mengerjakan peron 4 dan 5. Fasilitas kanopi ditambahkan untuk meningkatkan kenyamanan penumpang dan melindungi pengguna jasa dari hujan.

Pada 2027, pengembangan kawasan akan berlanjut ke sisi selatan stasiun. Area tersebut direncanakan menjadi zona pick-up and drop-off untuk angkutan Kota Bogor.

Di sektor perkeretaapian, PT KAI juga menyiapkan pengembangan jalur menuju selatan Bogor. Program tersebut berkaitan dengan rencana pengembangan KRL hingga Sukabumi.

Setelah jalur ganda telah mencapai Cigombong, PT KAI menargetkan elektrifikasi jalur hingga Stasiun Cigombong pada 2027.

“Merupakan program 2027 kami, itu akan melakukan elektrifikasi sampai ke Stasiun Cigombong,” pungkasnya. [] Ricky

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top