Kab. Bogor

Baru Sepekan Tak Diguyur Hujan, Sejumlah Warga di Kawasan Puncak Mulai Alami Kekurangan Air Bersih

BOGOR-KITA.com, MEGAMENDUNG – Musim kemarau yang baru berlangsung beberapa pekan mulai berdampak pada ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah. Beberapa sumur milik warga dilaporkan mengalami penurunan debit air hingga tidak lagi dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi tersebut dirasakan warga Kampung Keramat, Desa Cipayung, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Sejumlah sumur warga di kampung tersebut dilaporkan mulai mengering.

Salah seorang warga, Warsito, mengatakan sumur miliknya sudah tidak dapat digunakan karena debit air di dalamnya habis. Akibatnya, pompa air yang biasa digunakan tidak mampu lagi menyedot air ke toren penampungan.

“Air sudah tidak keluar, sehingga pompa air tidak bisa menyedot air dari dalam sumur ke toren,” ujar Warsito, Minggu (14/6/2026).

Baca juga  PPJ: Pedagang Masuk Blok F Kebon Kembang Awal Desember 2020

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, Warsito mengaku terpaksa meminta bantuan kepada tetangga yang sumurnya masih memiliki cadangan air. Sementara untuk kebutuhan mandi dan mencuci, sebagian warga memanfaatkan aliran Sungai Ciratim yang melintas di kampung tersebut.

“Kalau air sungai hanya bisa digunakan untuk mandi dan mencuci. Untuk memasak dan minum tentu tidak layak,” katanya.

Menurut Warsito, kondisi sumur warga di Kampung Keramat berbeda-beda. Sebagian masih memiliki cadangan air, namun tidak sedikit yang mengalami kekeringan akibat minimnya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir.

Ia mengatakan sumur biasanya kembali terisi setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut dalam durasi yang cukup lama.

“Itu pun hujannya harus lebat dan berlangsung cukup lama,” ungkapnya.

Baca juga  Liga Champions Live di SCTV: Atletico Madrid Lawan Chelsea, Real Madrid Waspada Hadapi Atalanta

Warga lainnya, Joko, menuturkan sejumlah sumur di Kampung Keramat memang kerap mengalami kekeringan saat musim kemarau.

Menurut dia, ketika sumur mengering, warga tidak memiliki banyak pilihan selain memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan tertentu.

“Meski kadang membuat kulit gatal kalau dipakai mandi, kami terpaksa menggunakan air sungai karena tidak ada pilihan lain. Sumur sudah kering, bahkan hampir dua pekan tidak bisa diambil airnya,” ujar Joko.

Ia menambahkan, memperdalam sumur bukan solusi yang mudah karena membutuhkan biaya yang cukup besar. Selain itu, tidak ada jaminan sumber air akan ditemukan setelah penggalian dilakukan.

“Itu pun belum tentu ada airnya. Kalau ternyata tidak ada, pekerja tetap harus dibayar,” katanya.

Baca juga  Diikuti 3.284 Peserta, Lomba Senam Pancakarsa Digelar dengan Protokol Kesehatan Ketat

Warga berharap musim kemarau tahun ini tidak berlangsung terlalu lama dan hujan segera turun agar cadangan air tanah kembali terisi sehingga kebutuhan air bersih masyarakat dapat terpenuhi.

Hingga berita ini ditulis, belum terdapat data resmi mengenai jumlah warga atau kepala keluarga yang terdampak berkurangnya pasokan air bersih di Kampung Keramat. Namun, sejumlah warga mengaku telah merasakan dampak menurunnya ketersediaan air akibat musim kemarau. [] Danu

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top